ASTRONOMI: RASI-RASI BINTANG TRADISIONAL JAWA

ASTRONOMI: RASI-RASI BINTANG TRADISIONAL JAWA.

.

Ivan Taniputera.

27 Mei 2018.

.

Sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur Nusantara, pada kesempatan kali ini saya akan menulis mengenai rasi-rasi bintang tradisional Jawa. Artikel ini masih perlu disempurnakan dan dilengkapi, karena terdapat beberapa rasi bintang tradisional Jawa yang belum berhasil saya identifikasi.

.

Berikut ini adalah gambar beberapa rasi bintang tradisional Jawa yang telah berhasil saya kenali.

.

 

 

.

Rasi bintang Banyak Angrem dibentuk dari bintang-bintang rasi Scorpio. Banyak Angrem artinya angsa yang sedang mengerami telurnya.

.

 
 

Rasi bintang Gubug Penceng terbentuk dari rasi Crux. Sementara itu, rasi bintang Wulanjar Ngirim terbentuk dari dua bintang rasi Centaurus. Rasi bintang Gubug Penceng dan Wulanjar Ngirim ini juga dikenal sebagai rasi bintang Pari.

.

.

Rasi bintang Waluku terbentuk dari bintang-bintang rasi Orion. Rasi bintang Waluku ini menggambarkan bajak.

.

.

Rasi bintang Kartika merupakan bintang Pleiades pada rasi Taurus. Juga disebut rasi bintang Wuluh.

.

.

 

Rasi bintang Sapi Gumarang merupakan rasi Taurus.

.

Berikut ini adalah letak rasi-rasi bintang tersebut pada peta bintang.

.

Advertisements

CARA MENENTUKAN HARI BAIK PERNIKAHAN MENURUT PRIMBON JAWA

CARA MENENTUKAN HARI BAIK PERNIKAHAN MENURUT PRIMBON JAWA.

.

Ivan Taniputera.

28 September 2016

.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai bagaimana menentukan hari baik bagi pernikahan menurut Primbon Jawa. Kemungkinan banyak yang masih bingung dalam menggunakan Primbon Jawa. Meskipun demikian, jika kita mengetahui urutan atau algoritma dalam mencarinya, maka hal itu tidaklah sulit. Kit akan membandingkan pula dengan primbon-primbon lainnya, dimana terdapat perbedaan-perbedaan. Artikel ini juga bertujuan melestarikan budaya warisan leluhur, mengingat primbon-primbon adalah warisan budaya bangsa.

.

Dalam menentukan hari baik pernikahan menurut Primbon Jawa, maka prinsipnya adalah dari “yang lebih besar ke kecil.” Artinya adalah dari cakupan waktu yang lebih besar terlebih dahulu, kemudian semakin kecil. Dalam hal ini kita mulai dari tahun menurut windu. Berdasarkan perhitungan Jawa, terdapat delapan nama tahun; yakni Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Kita akan mencoret hari yang buruk satu persatu berdasarkan urutan kriteria-kriteria di bawah ini.

.

A. PEMILIHAN BULAN

.

Menurut Primbon Jawa terdapat bulan-bulan yang buruk berdasarkan masing-masing tahun di atas. Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Alip, bulan 1 (Sura)
  • Ehe, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), dan 10 (Sawal)
  • Jimawal, bulan 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), dan 10 (Sawal)
  • Je, bulan 4 (Bakdamulud), 5 (Jumadilawal), 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), 9 (Pasa), dan 12 (Besar)
  • Dal, bulan 6 (Jumadilakir), 7 (Rejeb), 9 (Pasa), dan 10 (Sawal)
  • Be, bulan 6 (Jumadilakir) dan 12 (Besar)
  • Wawu, bulan 2 (Sapar), 3 (Mulud), 4 (Bakdamulud), 5 (Jumadilawal), dan 9 (Pasa)
  • Jimakir, bulan 3 (Mulud), 5 (Jumadilawal), 7 (Rejeb), 8 (Ruwah), 10 (Sawal), dan 12 (Besar)

.

Jadi jika pernikahan hendak dilangsungkan pada tahun Ehe, maka bulan 1, 2, 6, 7, 8, dan 10 kita coret.

.

Selain itu, masih ada kriteria lain, bulan yang tidak terdapat hari Selasa Kliwon (Anggarakasih), dimana bulan-bulan itu tidak boleh diselenggarakan bagi pernikahan.

.

  • Alip, bulan Jumadilakir, Besar.
  • Ehe, bulan Rejeb
  • Jimawal, bulan Sura dan Ruwah
  • Je, bulan Sapar dan Ruwah
  • Dal, bulan Mulud dan Pasa
  • Be, bulan Jumadilawal
  • Wawu, bulan Rabingulakir dan Dulkangidah
  • Jimakir, bulan Jumadilawal.

.

Jadi pada tahun Ehe, setiap bulan Rejeb akan kita coret.

Terdapat bulan yang terbaik dalam masing-masing tahun. Jika memungkinkan pernikahan diselenggarakan pada bulan-bulan berikut.

.

  • Alip, bulan 9 (Pasa) dan 11 (Dulkaidah)
  • Ehe, bulan 4 (Bakdamulud), 9 (Pasa), 1 1 (Dulkaidah), dan 12 (Besar)
  • Jimawal, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 3 (Mulud), 5 (Jumadilawal), dan 12 (Besar)
  • Je, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), 3 (Mulud), 10 (Sawal), dan 11 (Dulkaidah)
  • Dal, bulan 2 (Sapar), 3 (Mulud), 8 (Ruwah), dan 11 (Dulkaidah)
  • Be, bulan 1 (Sura), 2 (Sapar), dan 7 (Rejeb)
  • Wawu, bulan 1 (Sura), 10 (Sawal), 11 (Dulkaidah), dan 12 (Besar)
  • Jimakir, bulan 1 (Sura) dan 11 (Dulkaidah).

.

Jika memungkinkan, bulan-bulan di atas boleh dipilih. Namun bulan-bulan yang tidak tergolong buruk walaupun bukan terbaik, boleh dipilih.

.

Masih terdapat lagi apa yang disebut Larangan Sasi, yakni bulan yang kurang baik pada masing-masing tahun.

.

  • Alip: bulan Jumadilakir dan Dulkaidah.
  • Ehe: bulan Rabingulawal dan Pasa
  • Jimawal: Mulud dan Besar
  • Je: Sura dan Sawal
  • Dal: Ruwah
  • Be: Sapar dan Rejeb
  • Wawu: Jumadilawal
  • Jimakir: Sura dan Dulkaidah.

.

Anehnya terdapat kontradiksi sini, pada tahun Alip menurut daftar sebelumnya bulan Dulkaidah dianggap baik; tetapi berdasarkan Larangan Sasi, bulan tersebut dianggap buruk. Oleh karenanya, jika hendak menggunakan juga kriteria Larangan Sasi, maka bulan Dulkaidah juga perlu dicoret.

.

B. PEMILIHAN HARI.

.

 

Selanjutnya Primbon Jawa, terdapat hari Saptawara (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, serta Minggu) dan Pancawara (Pon, Wage, Kliwon, Legi, serta Pahing).

.

Berikut ini terdapat hari yang sudah sifatnya jelek, dibagi menjadi hari jelek dan sangat jelek.

  • Hari jelek: Minggu Pahing, Sabtu Pon, Jumat Wage, Selasa Kliwon, Senin Legi, dan Kamis Wage.
  • Hari sangat jelek: Rabu Lebi, Minggu Pahing, Kamis Pon, Selasa Wage, dan Sabtu Kliwon.

.

Hari-hari di atas perlu kita coret terlebih dahulu.

 

Selanjutnya terdapat hari yang kurang baik dalam masing-masing tahun tersebut. Hari-hari yang kurang baik itu disebut kunarpaning warsa (kita singkat “k”) dan sangaring warsa (kita singkat “s”). Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Alip: Sabtu Pahing (k) dan Jum’at Legi (s)
  • Ehe: Kamis Pahing (k) dan Selasa Kliwon (s)
  • Jimawal: Senin Pagi (k) dan Minggu Kliwon (s)
  • Je: Jumat Legi (k) dan Kamis Wage (s)
  • Dal: Rabu Kliwon (k) dan Senin Pon (s)
  • Be: Minggu Wage (k) dan Sabtu Legi (s)
  • Wawu: Kamis Pon (k) dan Rabu Pahing (s)
  • Jimakir: Selasa Pon (k) dan Minggu Legi (s).

.

Jadi, jika ingin menyelenggarakan pernikahan pada tahun Ehe, maka kita mengutamakan bulan yang baik, yakni 4, 9, 11, dan 12. Namun bulan-bulan selain 1, 2, 6, 7, 8, dan 10 boleh digunakan; hanya saja yang terbaik adalah 4, 9, 11, dan 12.

.

Kita mencoret setiap hari Kamis Pahing dan Selasa Kliwon pada bulan 4, 9, 11, dan 12.

.

Lebih jauh lagi, pada masing-masing bulan terdapat hari-hari yang baik bagi berbagai kegiatan. Hari-hari tersebut digolongkan menjadi Sasi Rahaju (disingkt r) dan Sasi Sardju (dsingkat sa). Berikut ini adalah daftarnya.

.

  • Besar (12), Sura (1), dan Sapar (2): Rabu dan Kamis (r), Jumat (sa).
  • Mulud (Rabingulawal, 3), Rabingulakir (4), Jumadilawal (5): Jumat (r), Sabtu dan Minggu (sa).
  • Jumadilakir (6), Rejeb (7), Ruwah (8): Sabtu dan Minggu (r); Senin dan Selasa (sa).
  • Pasa (9), Sawal (10), Dulkaidah (11): Senin dan Selasa (r); Rabu dan Kamis (sa).

.

Oleh karenanya, pada tahun Ehe, setiap hari Kamis Pahing dan Selasa Kliwon, bulan 4, 9, 11, dan 12 sudah kita coret. Apabila dipilih bulan ke 4, maka dapat dipilih Jumat, Sabtu, dan Minggu.

.

Primbon Jawa juga masih mempunyai apa yang dinamakan hari Taliwangke, yang buruk pada masing-masing bulan.

.

  • Sura: Rabu Pahing
  • Sapar: Kamis Pon
  • Rabingulawal: Jumat Wage
  • Rabingulakir: Sabtu Kliwon
  • Jumadilawal: Senin Kliwon
  • Jumadilakir: Selasa Legi
  • Rejeb: Rabu Pahing
  • Ruwah: Kamis Pon
  • Pasa: Jumat Wage
  • Sawal: Sabtu Kliwon
  • Dulkaidah: Senin Kliwon
  • Besar: Selasa Legi

.

Kini kita tiba pada pemilihan hari berdasarkan Wuku.

.

  • Terdapat hari Taliwangke atau hari buruk berdasarkan Wuku: Wuye, hari Senin Kliwon; wuku Wayang hari Selasa Legi; wuku Landep hari Rabu Pahing; wuku Warigalit hari Kamis Pon; wuku Kuningan hari Jumat Wage; wuku Kuruwelut hari Sabtu Kliwon.
  • Selain Taliwangke terdapat lagi hari Samparwangke yang juga kurang baik. Penentuannya juga didasari Wuku: Warigalit hari Senin Kliwon; Bala hari Senin Legi; Langkir hari Senin Pahing; Sinta hari Senin Pon; Tambir hari Senin Wage.

.

C. PEMILIHAN TANGGAL

 

Kita beralih pada tanggal-tanggal yang buruk pada masing-masing bulan.

  • Sura: 17, 27, 11, dan 14
  • Sapar: 19, 22, 1, dan 20
  • Rabingulawal: 13, 23, 10, dan 15
  • Rabingulakir: 15, 25, 10, dan 20
  • Jumadilawal: 16. 26, 10, dan 11
  • Jumadilakir: 11, 21, 3, dan 14
  • Rejeb: 12, 22, 11, dan 12
  • Ruwah: 14, 24, 19, dan 28
  • Pasa: 15, 25, 10, dan 20
  • Sawal: 17, 27, 2, dan 20
  • Dulkaidah: 11, 21, 6, dan 12
  • Besar: 13, 23, 1, dan 20.

.

Tanggal di atas pada masing-masing bulan harus dicoret.

.

Namun masih ada kriteria-kriteria lainnya.

.

Terdapat apa yang disebut tanggal naas pada masing-masing bulan:

.

  • Sura, tanggal 11 dan 6.
  • Sapar, tanggal 1 dan 20.
  • Rabingulawal, tanggal 10 dan 20.
  • Rabingulakir, tanggal 10 dan 20.
  • Jumadilawal, tanggal 1 dan 11
  • Jumadilakir, tanggal 10 dan 14
  • Rejeb, tanggal 2 dan 14
  • Ruwah, tanggal 12 dan 13
  • Pasa, tanggal 9 dan 20
  • Sawal, tanggal 10 dan 20
  • Dulkaidah, tanggal 12 dan 13
  • Besar, tanggal 6 dan 10.

.

Terdapat pula kriteria tanggal sangar pada masing-masing bulan”

.

  • Sura, tanggal 13
  • Sapar, tanggal 10
  • Rabingulawal, tanggal 8
  • Rabingulakir, tanggal 28
  • Jumadilawal, tanggal 28
  • Jumadilakir, tanggal 18
  • Rejeb, tanggal 18
  • Ruwah, tanggal 26
  • Pasa, tanggal 24
  • Sawal, tanggal 2
  • Dulkangidah, tanggal 28
  • Besar, tidak ada.

.

Masih ada lagi kriteria yang disebut Bangas Padewan. Tanggal-tanggal ini juga tidak boleh dipergunakan bagi pernikahan:

.

  • Sura, tanggal 11
  • Sapar, tanggal 20
  • Rabingulawal, tanggal 1 dan 15
  • Rabingulakir, tanggal 10 dan 20
  • Jumadilawal, tanggal 10 dan 11
  • Jumadilakir, tanggal 10 dan 14
  • Rejeb, tanggal 13 dan 27
  • Ruwah, tanggal 4 dan 28
  • Pasa, tanggal 7 dan 20
  • Sawal, tanggal 10
  • Dulkangidah, tanggal 2 dan 22
  • Besar, tanggal 6 dan 20

.

Berikut ini adalah hari-hari naas yang hanya terdapat di bulan-bulan khusus saja dan disebut naas para nabi: Sura, tanggal 13; Rabingulawal, tanggal 3; Rabingulakir, tanggal 16; Jumadilawal, tanggal 5; Pasa, tanggal 21; Dulkangidah, tanggal 24; Besar, tanggal 25.

.

D. PEMILIHAN JAM

.

Berikut ini adalah jam-jam yang baik, berdasarkan tanggal:

1, 6, 11, 16, 21, 26: jam 6-8.23, jam 10.18-1.11 (biasa), jam 1.12-3.35

2, 7, 12, 17, 22, 27: jam 8.24-10.17 (biasa), 10.18-1.11, 3.36-5.59

3, 8, 13, 18, 23, 28: jam 6-8.23 (biasa), 8.24-10.17, 1.12-3.35

4, 9, 14, 19, 24, 29: jam 6-8.23, jam 10.18-1.11, 3.36-5.59 (biasa)

5. 10, 15, 20, 25, 30: jam 8.24-10.17, jam 1.12-3.35 (biasa), jam 3.36-5.59.

.

Jam yang baik berdsarkan pasaran:

  • Legi: jam 6-10.17
  • Pahing: jam 6-1.11
  • Pon: jam 6-8.23, 1.12-5-59
  • Wage: jam 10.18-5.59
  • Kliwon: jam 8.24-3.35

.

Demikianlah alur pemilihan hari baik bagi pernikahan menurut Primbon Jawa, yang dalam hal ini diambil dari Primbon Betaljemur.

.

E. PERBANDINGAN DENGAN PRIMBON LAIN

 

Kita akan membandingkannya dengan Primbon lain.

.

Primbon Sabda Guru (halaman 37), juga memuat daftar yang hampir sama terkait kunarpaning warsa dan sangaring warsa. Hanya saja terdapat satu perbedaan dengan Primbon Betaljemur, yakni sangaring warsa pada tahun Be. Primbon Betaljemur mencantumkan Sabtu Legi (halaman 6), sedangkan Primbon Sabda Guru mencantumkan Sabtu Pon. Apakah kemungkinan ini adalah salah cetak? Perbedaan lain, adalah pada bulan yang tidak ada hari Anggara Kasihnya. Primbon Betaljemur mencantumkan Jumadilawal, sedangkan Primbon Sabda Guru (halaman 33) mencantumkan Rabingulakir. Tanggal naas para nabi juga terdapat satu perbedaan saja, yakni bulan Besar, Primbon Betaljemur mecantumkan 5, sedangkan Primbon Sabda Guru (halaman 35) mencantumkan 5.

.

Anehnya, Primbon Pusaka Guru, halaman 55-56 justru memuat hari baik dan buruk yang berkebalikan dengan Primbon Betaljemur. Jadi, jika Primbon Betaljemur menyatakan bahwa pada tahun Alip bulan Sura adalah buruk, maka Primbon Pusaka Guru justru menyatakan baik.

.

Primbon Puspa Wahju memiliki perhitungan berbeda, terkait hari-hari buruk. Sebagai contoh:

.

Sawal: Jumat Wage, Sabtu, dan Minggu, Jumat disebut Sangar bulan. Tanggal yang buruk adalah 2 dan 10.

.

Dengan demikian, terjadi perbedaan di sini. Oleh karenanya, hal ini perlu mendapatkan penelitian lebih lanjut. Barangkali para pakar primbon perlu berkumpul dan meneciptakan suatu primbon standar. Kesalahan-kesalahan lama perlu diperbaiki.

.

DAFTAR PUSTAKA.

.

Handanamangkara, SPH. Primbon Djawa Sabda Guru, Penerbit/ Toko buku KS, Solo, 1970.

Harja Tjakraningrat, Kangdjeng Pangeran Harja Tjakraningrat. Kitab Primbon Betal Djemur, Soemodidjojo Mahadewa, —–.

———–. Primbon Puspa Wahju, Gajabaru, Surabaja, 1953.

Sastrahandaja, Ki. Primbon Pusaka Guru, Muria, Kudus, 1954.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339… . . . . . . .

 

.

 

 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

KEARIFAN LOKAL: JANGAN SALAH MENGGUNAKAN LUBANG

KEARIFAN LOKAL: JANGAN SALAH MENGGUNAKAN LUBANG

.

Ivan Taniputera.

25 November 2015

.

 

Artikel ini adalah hasil kunjungan ke Istana Mangkunegaran. Kita akan mempelajari salah satu kearifan lokal yang berharga. Pemandu menjelaskan pada saya mengenai makna tarian Bedaya yang dipentaskan saat penobatan raja. Jumlah penarinya adalah sembilan orang. Tujuan tarian adalah sebagai nasihat bagi raja baru. Ternyata angka sembilan itu melambangkan sembilan lubang pada tubuh manusia. Apakah sembilan lubang pada tubuh manusia itu?

.

Mata (dua lubang)

Hidung (dua lubang)

Telinga (dua lubang)

Mulut (satu lubang)

Dua lubang lagi di bawah

.

Raja dinasihatkan agar berhati-hati menggunakan sembilan lubang tersebut. Ternyata jika kita renungkan, banyak orang mengalami kejatuhan karena salah menggunakan lubang-lubang itu.

.

Sebagai contoh, seseorang yang salah menggunakan “lubang mata” menyaksikan hal-hal yang buruk dan menganggapnya sebagai kebaikan. Kehidupannya akan hancur sebagai akibatnya. Orang yang salah memandang hal buruk sebagai baik akan menghalalkan segala cara. Ia melihat harta yang bukan haknya dan timbul keinginan atau keserakahan untuk memilikinya. Dengan demikian, ia lantas terjatuh dalam tindak pidana korupsi. Ada juga orang gemar menonton film tidak senonoh, sehingga pikirannya kacau dan sering memikirkan yang bukan-bukan. Hidupnya kemudian terperosok pada kehancuran. Begitulah contoh-contoh bahaya yang timbul karena salah menggunakan dua “lubang” mata.

.

Orang salah menggunakan “lubang” telinga misalnya karena mendengarkan saran-saran atau bisikan tidak baik. Sebagai contoh, seseorang dibujuk untuk melakukan kejahatan bagi sesamanya. Jika ia mendengarkan bujukan tersebut, maka itulah sumber kejatuhannya.

.

Orang salah menggunakan “lubang” hidung, misalnya karena ia hanya gemar mengendus bebauan yang harum saja. Padahal kemungkinan sumber bebauan yang harum itu berpotensi mengakibatkan kanker. Terdapat parfum-parum yang terbuat dari bahan-bahan penyebab kanker. Jadi kita harus selektif pula terhadap bebauan.

.

Orang salah menggunakan “lubang” mulut, misalnya saat ia mengucapkan kebohongan dan penipuan. Itulah sumber kejatuhannya. Orang salah bicara juga dapat mengakibatkan ia terlibat perkara hukum. Mulut juga seyogianya tidak dipakai mengecewakan dan menyedihkan orang lain. Orang juga hendaknya menyantap makanan yang sehat. Karena makan berlebihan dan tidak sehat, seseorang dapat terkena penyakit kolestrol, diabetes, dan lain sebagainya.

.

Sementara itu, dua lubang di bawah juga hendaknya dipergunakan secara benar. Orang yang salah menggunakan dua lubang di bawah dapat terjerumus ke dalam perselingkuhan. Banyak politikus yang jatuh akibat skandal-skandal semacam itu.

.

Demikianlah kearifan lokal yang saya dapatkan saat mengunjungi Istana Mangkunegaran. Saya bagikan ini agar dapat menaburkan manfaat bagi kita semua. Kita hendaknya tidak meninggalkan kearifan lokal.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi:https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

 

 

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

.

Ivan Taniputera.

8 November 2015

.

.

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil pembicaraan dengan salah seorang kawan. Ia menuturkan kisah menarik bahwa beberapa minggu sebelum terjadinya gempa dashyat di Yogyakarta tahun 2006, warga di desanya diperintahkan menempelkan uang logam 100 Rupiah beserta rumput alang-alang di atas pintu rumah mereka. Selain itu, warga juga diperintahkan membuat kolak kolang kaling.

.

Pada mulanya, tiada yang mengetahui maknanya. Tetapi beberapa minggu kemudian terjadilah bencana gempa dashyat tersebut. Untungnya warga desa seluruhnya selamat, kendati mereka merasakan guncangan gempa dashyat.

.

Tradisi Jawa memang sarat dengan simbolisme atau perlambang. Setelah bencana tersebut, orang lantas menafsirkan bahwa uang logam 100 Rupiah itu melambangkan gempa bumi. Gambar gunungan di salah satu sisi uang logam mengingatkan pada pagelaran wayang kulit. Sebelum dalang menancapkan gunungan, maka ia akan mengucapkan, “Bumi gonjang ganjing….” atau artinya “Bumi bergoncang dashyat….”

.

Rumput alang-alang ditafsirkan sebagai “alang-alang” atau penghalang bagi bencana. Begitu pun juga kolak kolang-kaling dimaksudkan untuk “ngolang-ngalingi” atau menghalangi bencana.

.

Demikianlah bahasa perlambang dalam tradisi tolak bala (penolak bencana) dalam tradisi Jawa. Ternyata pada leluhur di zaman dahulu telah mempunyai kebijaksanaan yang tinggi pula.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

BUKU LUAR BIASA KUMPULAN RAMALAN DAN HAL-HAL GAIB DI SELURUH PENJURU TANAH JAWA

BUKU LUAR BIASA KUMPULAN RAMALAN DAN HAL-HAL GAIB DI SELURUH PENJURU TANAH JAWA

Ivan Taniputera

21 September 2015

.

 

Beberapa jilid buku ini merupakan kumpulan luar biasa berbagai ramalan dan hal-hal gaib di seluruh penjuru Tanah Jawa. Berikut ini adalah jilid-jilid yang tersedia.

 

JILID 1

 

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid 1. De Geschiedenis der Godsdiensten op Java

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia

Jumlah halaman: 425 

Bahasa: Belanda.

 

Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

 

 

Jilid pertama ini berisikan berbagai hal yang luar biasa. Sebagai contoh, terdapat uraian mengenai dewa-dewa Hindu:

 

“PARABRAHMA

 

de God der Brahmanen, de Almacht, Die, vereenzelvigd met het Nirwana, de oorsprong is van alles, wat bestaat. In de Weda’s wordt uit eerbied Zijn naam niet genoemd, doch vervangen door:…….” (halaman 20).

 

Terjemahan:

 

“PARABRAHMA

 

Dewa kaum Brahmana, Yang Maha Kuasa, yang disamakan dengan Nirwana, merupakan asal muasal segala sesuatu yang ada. Dalam Weda, karena rasa hormat, maka nama Beliau tidak pernah disebutkan, namun digantikan oleh:…..”

 

Lalu terdapat pula legenda mengenai asal muasal terjadinya perhitungan Wuku (Pawukon), sebagaimana tercantum di halaman 72:

 

“In der beginne der heerschappij van Batara Goeroe op aarde, was zijn rijk verdeelde in vijf hoofd en vier onderdeelen. De vijd hoofddeelen, zijnde het Oosten, Westen, Zuiden, Noorden, en Midden, hadden ieder een zekeren dag van oppergebied, van marktijd en van gezag. De vijf dagen vormden een kleine tijdcirkel…”

 

Terjemahan:

 

“Pada awal masa pemerintahan Batara Guru di muka bumi ini, daerah kekuasaannya dibagi menjadi lima bagian utama dan empat bagian lanjutan. Kelima bagian utama itu adalah Timur, Barat, Selatan, Utara, dan Tengah, masing-masing mempunyai kekuasaan atas hari-hari tertentu, sebagai penanda waktu dan aturan. Kelima hari itu membentuk satu siklus kecil….”

 

Selanjutnya dalam buku ini juga dibahas mengenai jenis-jenis makhluk halus baik berasal dari tradisi India maupun Jawa. Sebagai contoh adalah:

 

“719 PHISATJA dan 720 PHISATJIS

 

de zoogenammde vampires, die in holen en kloven huizen en voornamelijk er op uit gaan, om menschen en dieren en al waat leeft kwaad te doen en hun het bloed uit te zuigen. Eenige van deeze reuzen, die in de mythologie met naam genoemd worden, zullen wij trachten in het kort the beschrijven.” (halaman 119).

 

Terjemahan:

 

“PHISATJA DAN PHISATJIS

 

Merupakan semacam vampir, tinggal dalam gua dan jurang-jurang serta keluar mencari manusia, hewan, dan makhluk hidup guna melakukan sesuatu yang jahat dengan menghisap darah mereka. Beberapa makhluk ini yang namanya disebutkan dalam mitologi akan kita ulas secara ringkas…”

 

Lalu terdapat pula uraian mengenai legenda-legenda Jawa, misalnya mengenai asal muasal iblis, dunia, dan lain sebagainya.

 

Berikut ini adalah nama-nama makhluk halus dalam kepercayaan Jawa:

 

1. DE TJINOENOEK

2. DE KABO KAMILI

3. DE DADOENG AWOES’S

4. DE POTO

5. DE SAWAN

6. DE SARAP

7. DE DHENGEN

8. DE MADJOESI

9. DE GENDROEWA

10. DE WEWE

11. DE KOENTHIANAK

12. DE BONTOT

13. DE BANASPATI

14. DE SETAN OESOES

15. DEN DJERANGKONG

16. DE ANTOE DARAT

17. DE ANTOE LAOET

18. DE KEMAMANG

19. DEN BISOE

20. DE LAMPOR

21. DE LAHA

22. DE BLORONG

23. DE GOENDHOEL

24. DE BELIS

25. DE SATO

26. DE DINKEL

27. DE TETELO

28. DE KITJIWIS

29. DE GEBLOEK

30. DE KEBLEK

 

dan lain-lain, masing-masing dengan penjelasannya. Secara keseluruhan terdapat 93 jenis hantu yang diulas dalam buku ini.

 

Meskipun demikian, pada halam 238 hingga 243, terdapat tambahan 24 jenis hantu (spoken) lagi, namun beberapa di antaranya mendapatkan pengaruh tradisi India.

 

Pada halaman 266 hingga 271 diulas mengenai malaikat-malaikat yang kemungkinan dari namanya mencerminkan pengaruh Arab. Sebagai contoh adalah: Djabarail, Mikail, Israfil, Idjrail, Malakal Maoet, Asrael, Roeman, Moenkar, Nakir, dan lain sebagainya. Masing-masing beserta ulasannya. Selanjutnya terdapat pula tabel yang menghubungkan antara nama bintang beserta malaikat. 

 

Pada halaman 282 hingga 285 terdapat uraian mengenai selamatan beserta tata caranya.

 

Selanjutnya, terdapat uraian mengenai pengaruh-pengaruh iblis, makhluk halus, dan hantu terhadap manusia, antara lain menimbulkan penyakit. Sebagai contoh, ini adalah penyakit-penyakit yang ditimbulkan beserta hari berjangkitnya penyakit.

 

“Zaterdag: Rechter oor, knieen, en beenderenstelsel.

Donderdag: Linker oor, dijen, voeten, en slagaderensysteem.” (halaman 287).

 

Terjemahan:

 

“Sabtu: telinga kanan, lutut, dan tulang

Kamis: telinga, paha, kaki, dan sistem arteri Kiri……”

 

Terdapat uraian mengenai tradisi ruwatan (kias) terhadap urutan kelahiran anak yang dianggap kurang baik beserta sesajiannya.

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

 
 

 

 

 
 

JILID II

 
 

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid II. A. De Bedoewi’s en hun Pawoekon’s (Orang Badui dan Pawukon mereka). B. De Tiang Tengger en hun Ngelmoe (Tiang Tengger dan Ngelmu mereka).

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia-C

Jumlah halaman: 338

Bahasa: Belanda dan Indonesia (Melayu).

Buku ini mengupas mengenai Pawukon (perhitungan Wuku) dan juga beberapa metoda ramalan atau petangan.

 

Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Ini adalah contoh halaman yang memuat perhitungan wuku beserta keterangannya, seperti tentang selamatan dan lain sebagainya.

 
 

 
 

Berikut ini adalah contoh-contoh halaman lainnya, yang memuat berbagai petangan  atau ramalan dan lain sebagainya. 

Cara meramal cukup sederhana, dapat menggunakan dadu atau kartu domino. Pertama-tama dengan melihat daftar pertanyaan dan sesudah itu dicocokkan dengan tabel jawabannya.

 

 

 
 

JILID III

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid III. De Tiang pasek an hun Tengerans en de Mohammedanen en hun Primbons.

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia-C.

Jumlah halaman: 374.

Bahasa: Belanda dan Indonesia (Melayu).

Buku ini memuat berbagai hitungan dalam primbon. Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Di dalamnya diulas pula ramalan garis tangan, fisiognomi, dan lain sebagainya. Terdapat uraian mengenai tempat-tempat keramat, seperti gunung, sungai, makam dan lain sebagainya.

 

Sebagai contoh adalah uraian mengenai Gunung Sumbing:

 

“Goenoeng Soembing, Goenoeng Sindoro, Deze bergen worden door de Javanen Vereerd.  Deze vereering vloeit voort uit een legende, die vermeldt dat deze bergen vroeger menschen zijn geweest en wel broeders.” (halaman 9).

 

Terjemahan:

 

“Gunung Sumbing, Gunung Sindoro. Gunung-gunung ini dihormati oleh orang Jawa. Penghormatan ini berasal dari legenda yang meriwayatkan bahwa gunung-gunung ini dulunya adalah manusia yang saling bersaudara.”

 

Terdapat uraian mengenai tanda-tanda kuda yang baik. 

 

Firasat telinga berbunyi, muka terasa panas, dan lain sebagainya juga dibahas di dalamnya.

 

Yang menarik terdapat primbon khusus bagi merampok, yakni mencari saat yang baik dalam melancarkan aksinya (Primbon Ngetjoe, Ngampak, Membegal, dan Maling, Kerojok).

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

 
 

JILID V

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid V. De Primbons

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: Bandoeng, Fortuna, 1913

Jumlah halaman: 148 (ada beberapa halaman terakhir yang hilang).

Bahasa: Belanda dan Indonesia

Ini merupakan buku yang sangat unik, berupa kumpulan berbagai ramalan dan perhitungan dalam primbon yang pernah digunakan di pulau Jawa (mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur). Berikut ini adalah daftar isinya:

Buku ini memuat berbagai perhitungan, misalnya perhitungan mengenai naga tahun dan naga bulan. Ternyata terdapat perbedaan antara perhitungan arah naga bulan di Jawa Barat dan Tengah dengan di Jawa Timur. Adapun perbedaan itu antara lain:

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di timur, jatingarang terletak di selatan, ridjal terletak di barat, dan sambang banger terletak di utara.

Di Jawa Timur:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di selatan, jatingarang terletak di barat, ridjal terletak di utara, dan sambang banger terletak di timur.

Perhitungan hari buruk pada masing-masing bulan, juga terdapat perbedaan. Adapun perbedaan itu antara lain:

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Soera, hari Senin dan Selasa.

Di Jawa Timur:

Bulan Soera, hari Sabtu dan Minggu (Ngahat).

Terdapat pula berbagai hitungan mengenai perjalanan, pindah rumah, mencari pencuri, dan bahkan terdapat pula primbon-primbon untuk keperluan khusus, seperti primbon perang, perang sabil, dan perang bakat, primbon untuk penjahat (ngetjoe, gampak, membegal, dan maling kerojok), dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

BUKU PRIMBON BERUSIA LEBIH DARI 100 TAHUN BERBAHASA INDONESIA DAN BELANDA

BUKU PRIMBON BERUSIA LEBIH DARI 100 TAHUN BERBAHASA INDONESIA DAN BELANDA 

.

Ivan Taniputera

20 Juni 2015

.

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid V. De Primbons

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: Bandoeng, Fortuna, 1913

Jumlah halaman: 148 (ada beberapa halaman terakhir yang hilang).

Bahasa: Belanda dan Indonesia

 

Ini merupakan buku yang sangat unik, berupa kumpulan berbagai ramalan dan perhitungan dalam primbon yang pernah digunakan di pulau Jawa (mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur). Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Buku ini memuat berbagai perhitungan, misalnya perhitungan mengenai naga tahun dan naga bulan. Ternyata terdapat perbedaan antara perhitungan arah naga bulan di Jawa Barat dan Tengah dengan di Jawa Timur. Adapun perbedaan itu antara lain:

 

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di timur, jatingarang terletak di selatan, ridjal terletak di barat, dan sambang banger terletak di utara.

 

Di Jawa Timur:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di selatan, jatingarang terletak di barat, ridjal terletak di utara, dan sambang banger terletak di timur.

 

Perhitungan hari buruk pada masing-masing bulan, juga terdapat perbedaan. Adapun perbedaan itu antara lain:

 

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Soera, hari Senin dan Selasa.

 

Di Jawa Timur:

Bulan Soera, hari Sabtu dan Minggu (Ngahat).

 

Terdapat pula berbagai hitungan mengenai perjalanan, pindah rumah, mencari pencuri, dan bahkan terdapat pula primbon-primbon untuk keperluan khusus, seperti primbon perang, perang sabil, dan perang bakat, primbon untuk penjahat (ngetjoe, gampak, membegal, dan maling kerojok), dan lain sebagainya.

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

 
 

 
 
 

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

BUKU TENTANG WUKU ATAU PAWUKON YANG SUDAH HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN

BUKU TENTANG WUKU ATAU PAWUKON YANG SUDAH HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN

 .

Ivan Taniputera

14 Desember 2014

.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Judul: Boekoe Pawoekon: Toeroenan dari Kraton Soerakarta Tersalin Dalem Bahasa Melajoe

Penerbit: G. C. T. van Dorp & Co., Semarang-Soerabaia-‘s-Gravenhage, 1916

Jumlah halaman: 67

Buku ini berisikan seluk beluk mengenai wuku dalam tradisi astrologi Jawa, dimana satu wuku menguasai satu minggu (tujuh hari). Dalam tradisi Jawa terdapat 30 wuku. Berikut ini adalah daftar isinya:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada buku ini akan diuraikan seluk beluk masing-masing wuku, misalnya mengenai wuku Warigalit (halaman 7):

“Artinja woekoe WARIGALIT, bagoes roepanja, djadi kembangnja dalem pasamoean, kerep kawin, djahat hati dan besar tjemboreoeannja, soesah atas kamaoeannja, males dateng di mana tempat berdoedoekan. Kajoenja soelastri, bagoes roepanja, banjak jang soeka dan seneng orang melihat. …….”

Lalu disebutkan juga selamatan untuk masing-masing wuku.

Buku ini juga membahas hari baik dan buruk berdasarkan wukunya.

Terdapat pula penjelasan mengenai tanggal baik dan buruk menurut tradisi Jawa.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.