RENUNGAN AJARAN DEWA TAN TIK SIOE

RENUNGAN AJARAN DEWA TAN TIK SIOE.

.

Ivan Taniputera.

14 Juni 2017.

.

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas mengenai ajaran Dewa Tan Tik Sioe:

.

“Kita ada mempoenjai saboewa roema bogrek djanganlah aken memandeng roema bagoes.” (Dewa Tan Tik Sioe pada Moestika Adem Hati, 1917).

.

Apabila kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia modern kurang lebih adalah:

.

“Jika kita memliki rumah yang buruk janganlah mengharapkan rumah mewah.”

.

Berdasarkan ajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kita hendaknya tidak merasa putus asa bila tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Banyak orang mengharapkan hasil yang tinggi namun sewaktu ambisinya tidak tercapai ia menjadi sangat tertekan. Oleh karenanya, kita perlu bersuka cita apa pun hasil yang dicapai.

.

Meskipun demikian, ajaran di atas tidak menyatakan agar kita mudah berpuas diri. Apabila kita merasa atau menganggap rumah kita buruk, tidaklah salah mengharapkan rumah yang lebih baik. Namun berharap saja tidak cukup. Kita perlu berupaya mewujudkannya dengan memanfaatkan segenap kemampuan beserta sumber daya yang kita miliki. Yang penting adalah kita berupaya sebaik mungkin, tetapi apa pun hasilnya perlu kita terima dengan suka cita.

.

Kita dapat menafsirkan ajaran di atas bahwa bila kita menabur sesuatu yang buruk janganlah mengharapkan yang baik. Dalam dunia karir dan usaha, tidak jarang orang saling menjegal serta merugikan satu sama lain. Namun sesuatu yang diperoleh dengan merugikan hak orang lain, tidak akan membuahkan kebaikan. Sesuatu yang buruk mustahil menghasilkan kebaikan. Jika ada sesuatu yang seolah-olah nampak sebagai kebaikan atau kebahagiaan, maka semua itu hanya sementara saja sifatnya.

.

Demikianlah sedikit renungan kita terhadap ajaran Dewa Tan Tik Sioe.

MENGAPA WAKTU TERASA BEGITU CEPAT AKHIR-AKHIR INI?

MENGAPA WAKTU TERASA BEGITU CEPAT AKHIR-AKHIR INI?

.

Ivan Taniputera.

13 Juni 2016

.

.

Tahun Baru 2016 rasanya baru berlangsung kemarin. Namun kini tanpa dirasa kita sudah memasuki pertengahan bulan keenam, yakni pertengahan tahun. Banyak yang merasa bahwa waktu bertambah cepat berlalunya. Saya mencoba merenungkan dan menjawab mengapa hal ini terjadi.

.

Saya berpendapat bahwa penyebabnya terletak pada kemajuan teknologi yang dialami umat manusia. Mari kita ambil berkirim surat sebagai contoh. Dahulu sebelum ada teknologi internet, kita berkomunikasi dengan orang yang ada di luar kota atau luar negeri menggunakan surat. Berkirim surat ke luar negeri memerlukan waktu yang relatif lama dibandingkan sekarang. Jikalau kita mengirim surat pada kerabat atau sahabat kita di luar negeri, maka memerlukan waktu berbulan-bulan agar dapat menerima balasannya. Dengan kata lain, waktu tunggu menjadi lebih lama. Namun dewasa ini dengan adanya internet berikirim surat menjadi lebih cepat. Kita menyebutnya sebagai surat elektronik atau e-mail. Dengan menggunakan internet, surat elektronik kita dalam hitungan detik sudah sampai ke tujuan. Bahkan tidak sampai satu menit orang sudah dapat mengirim balasannya. Menunggu balasan surat elektronik lebih dari sehari sudah dapat dikatakan lama. Segala sesuatu telah berubah menjadi begitu cepat.

.

Teknologi telah mempercepat berbagai pekerjaan. Sebagai contoh adalah dalam dunia percetakan. Dengan adanya teknik cetak digital, maka segenap dokumen kita dapat dicetak dalam hitungan menit. Berbeda dengan dahulu, dimana kita perlu menunggu berhari-hari. Tentu saja dalam bidang-bidang lainnya teknologi telah pula meningkatkan kecepatan secara revolusioner. Alat-alat transportasi juga bertambah cepat. Kecepatan telah menjadi suatu tuntutan dan salah satu peningkat daya saing dewasa ini.

.

Karena kecepatan itulah, maka kita juga merasakan waktu begitu cepat berlalu. Waktu yang kita butuhkan dalam menanti sesuatu menjadi begitu singkat. Kita tidak lagi memperhatikan berlalunya waktu, yakni waktu yang diperlukan dalam menanti sesuatu. Dahulu sebelum terdapat internet, seseorang akan menghitung waktu sebelum menerima balasan surat yang dinanti-nantikannya. Ia akan menghitung hari demi hari sambil menanti kedatangan surat balasan tersebut. Waktu menjadi lebih terasa berlalunya.

.

Waktu sendiri sebenarnya bersifat khayali. Ia adalah semata-mata pembagian semu yang dilakukan manusia terhadap suatu aliran tak bernama. Aliran itu dibagi-baginya menjadi tahun, hari, menit, detik, dan lain sebagainya. Suatu pembagian yang telah ada semenjak awal sejarah peradaban manusia. Oleh karenanya, perasaan kita terhadapnya juga bersifat semu dan tergantung oleh berbagai kondisi.

.

Waktu yang dirasa berlalu begitu cepat itu memang terkadang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Seolah-olah waktu begitu kejam dengan berlari terlalu cepat. Kendati demikian, ada kalanya kita dapat melakukan latihan berikut ini. Kita mencoba dengan sadar memperlambat segenap aktifitas kita. Sebagai contoh hari ini dalam mengetik SMS saya mencoba tidak terlalu cepat, meskipun biasanya itu sudah terjadi secara otomatis. Saya berupaya memperlambat aktifitas saya dalam mengetik SMS tersebut. Menjadi sadar betul terhadap segenap huruf dan kata yang muncul. Begitu pula sewaktu menulis artikel ini, saya mencoba menyadari segenap huruf dan kata yang secara bertahap muncul di layar komputer. Dengan kata lain, kita mencoba menyadari “saat sekarang.” Apabila latihan ini dilakukan terus menerus, maka secara bertahap kita akan menyadari waktu yang berjalan melambat dengan sendirinya. Kita tidak akan lagi mengeluh mengapa waktu berjalan begitu cepat.

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

.

Ivan Taniputera.

14 Mei 2016

.

Beberapa waktu yang lalu saya menampilkan teka teki labirin berikut ini.

.

 

 

.

Carilah jalan dari tanda panah hijau bertulisan “mulai” menuju ke “tujuan” di bagian tengah. Semua orang yang mencoba memecahkan teka-teki ini mengalami kebuntuan. Sebenarnya, tujuan teka-teki labirin ini adalah mengajak kita semua merenungkan beberapa pelajaran berharga.

.

Sebelumnya, saya akan memuat terlebih dahulu gambar jawaban teka-teki labirin di atas.

.

 

Jadi jelas sekali, jika Anda cermat dan sanggup menemukan garis-garis berwarna biru di atas, maka nampak bahwa “tujuan” itu mustahil dicapai. Bagian “tujuan” itu sebenarnya tertutup atau terhalang dari semua sisi. Dengan demikian, “tujuan” itu tidak mungkin dicapai dari mana pun juga (dalam hal ini dari arah luar). Garis berwarna oranye memperlihatkan bahwa ke arah mana pun Anda bergerak, akhirnya akan kembali ke titik “mulai” lagi.

.

Apakah pelajaran yang dapat kita ambil?

.

Pertama, banyak orang (atau mungkin semua orang) menjadikan “kebahagiaan” sebagai tujuan dalam hidupnya. Siapakah yang tidak ingin bahagia? Namun tidak sedikit orang menjadikan sesuatu di luar dirinya sebagai sumber kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau sudah mempunyai ini atau itu. Tetapi semua itu, ternyata tidak menjadikannya bahagia, karena keinginan manusia itu ibarat sumur tidak berdasar. Meski telah mendapatkan sesuatu, seseorang pasti mendambakan hal lainnya lagi. Sesudah lulus SD, orang ingin lulus SMP. Sesudah lulus SMP, seseorang ingin lulus SMU. Setelah mendapatkan ini, ia ingin mendapatkan itu. Polanya terus berulang bagaikan lingkaran setan. Ia terus terjerumus pada keinginan berikutnya, yakni suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupannya. Tujuan berupa kebahagiaan itu terus menerus ingin dicapainya, namun tidak pernah berhasil. Ia terus menerus berputar-putar mencari tujuan itu, namun anehnya tetap kembali ke titik awal. Hal inilah yang digambar oleh garis-garis oranye pada gambar di atas. Ke manapun Anda pergi, Anda akan tiba pada titik awal.

.

Akhirnya, ia menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicapai dari luar. Kebahagiaan itu seharusnya sudah ada di dalam, hanya saja terdapat tembok pemisah yang tidak tertembus.

.

Pelajaran kedua, terkadang pemecahan suatu masalah itu justru berada pada titik awal masalah itu sendiri. Ke mana pun Anda berlari mencari pemecahannya, Anda akhirnya pada titik awal pencarian Anda.

.

Begitu pula orang yang mencari suatu pencerahan spiritual, akhirnya harus kembali pada dirinya sendiri. Pencerahan spiritual di luar dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Akhir pencarian akhirnya adalah diri sendiri., yakni titik awal pencarian itu sendiri.

.

Demikianlah renungan berharga berasal dari teka-teki labirin ini. Selamat berakhir pekan.

BENARKAH METODA RAMALAN DAN FENGSHUI MERUPAKAN ILMU RENDAH?

BENARKAH METODA RAMALAN DAN FENGSHUI MERUPAKAN ILMU RENDAH?

.

Ivan Taniputera.

16 April 2016

.

Saya teringat pendapat sebagian orang yang menyatakan bahwa ilmu ramalan dan Fengshui merupakan ilmu-ilmu rendah. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya hendak mengulas hal tersebut.

.

Pertama-tama, ada yang mengatakan bahwa ilmu-ilmu seperti itu disebut rendah karena tidak membawa pembebasan diri sepenuhnya dari penderitaan. Saya akan menjawabnya dengan berbagai cara.

.

Apabila alasannya seperti itu, maka sains, termasuk ilmu kedokteran, juga tidak membawa pembebasan sepenuhnya dari penderitaan. Namun pada kenyataannya, sains dan ilmu kedokteran justru lebih banyak meringankan penderitaan umat manusia secara nyata dan bukan hanya sekedar teori atau angan-angan belaka. Sebagai contoh, adalah penemuan-penemuan vaksin yang dapat membasmi segenap penyakit:

.

-Louis Pasteur menemukan vaksin Rabies (1885).

-Edward Jenner menemukan vaksin untuk cacar.

-Robert Sachs menemukan vaksin untuk polio.

,

 

Semua penemuan tersebut dapat meringankan penderitaan manusia secara nyata dan signifikan. Jauh melampaui ilmu-ilmu yang dianggap “tinggi.” Bahkan jika kita amati pada forum, mailing list, atau grup-grup ilmu-ilmu “tinggi” tertentu di internet, justru nampak bahwa sebagian anggota-anggotanya saling berdebat dan tidak jarang saling menghina serta merendahkan satu sama lain dengan berbekalkan ilmu-ilmu “tinggi” tersebut. Tidak jarang ada yang melontarkan amarah (walaupun dibungkus dengan kata-kata “manis”), sehingga sesungguhnya merekalah yang mengakibatkan penderitaan dalam diri mereka sendiri dan orang lain. Jelas sekali nampak bahwa ilmu-ilmu yang disangka tingkat “tinggi” tersebut justru malah dapat menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain. Tentu saja tidak semua orang seperti itu. Kita tidak dapat dan tidak boleh menggeneralisasi. Namun kenyataannya memang seperti itu. Banyak orang yang berbekalkan ilmu-ilmu “tinggi” malah melakukan aniaya pada sesamanya melalui tindakan, pikiran, dan ucapan. Mereka terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif. Lalu pertanyaannya apakah klaim bahwa ilmu-ilmu “tinggi” itu pasti membuahkan pembebasan tertinggi masih sahih? Apakah saling menghujat dan merasa benar sendiri seperti itu yang dimaksud dengan “pembebasan tertinggi”? Bahkan kalau kita telaah lebih lanjut, orang yang mempelejari ilmu-ilmu “tinggi” juga belum tentu meraih pembebasan tertinggi. Oleh karenanya, kita tidak perlu membangkitkan kesombongan dengan menyatakan ini ilmu “tinggi” atau “rendah.”

.

Selanjutnya, ada yang membantah, “Yang menyatakan itu ilmu “rendah” adalah Sang Guru sendiri.” Betul. Mungkin memang demikian halnya. Tetapi Anda lupa bahwa Anda bukan Sang Guru. Tingkat pencapaian Anda masih jauh dari Sang Guru. Anda tetap masih manusia biasa. Adalah sia-sia bagi seekor semut hendak meniru atau mengimitasi seekor gajah. Sang Guru menyatakan sesuatu pasti mempunyai konteks atau latar belakang tertentu yang belum tentu Anda ketahui. Anda tidak memahami sepenuhnya pikiran Sang Guru yang tentunya jauh berbeda dengan Anda. Namun Anda dengan sikap jumawa lantas menggunakan ajaran Sang Guru itu untuk merendahkan ilmu ramalan dan Fengshui. Ini adalah sikap yang sangat dangkal. Anda lupa bahwa dalam tataran Kebenaran Tertinggi, tidak ada lagi “tinggi” dan “rendah.” Tidak ada lagi keserba-menduaan (dualisme). Jadi jika Anda masih berpikir “tinggi” dan “rendah” maka Anda masih jauh dari realisasi Kebenaran Tertinggi. Apalagi jika masih ada sikap merendahkan dan meremehkan. Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah sikap merendahkan dan meremehkan itu membawa kedamaian batin atau tidak. Tidak perlu dijawab. Cukup direnungkan saja.

.

Berikutnya, klien saya banyak yang merasa terbantu dengan konsultasi ramalan dan Fengshui sebagaimana saya berikan pada mereka. Banyak di antara mereka dapat menemukan kembali arah dan jati diri hidupnya. Saat sedang dirudung masalah, mereka terbantu dengan ramalan saya. Saya tidak mengatakan bahwa ilmu-ilmu “tinggi” itu tidak dapat membantu menyelesaikan masalah manusia. Bagi saya ilmu-ilmu “tinggi” itu juga ilmu yang mulia. Dengan syarat dan ketentuan tertentu, ilmu-ilmu “tinggi” itu dapat juga bermanfaat bagi manusia. Jika tidak bermanfaat bagi manusia bagaimana mungkin hingga saat ini ia dapat tetap bertahan? Namun, pertanyaan sebaliknya juga berlaku, jika tidak bermanfaat bagi manusia, bagaimana mungkin ilmu-ilmu “rendah” itu dapat tetap bertahan hingga saat ini?

.

Banyak orang mungkin merasa terbantu dengan ilmu-ilmu “tinggi.” Hal itu sangat baik. Tetapi ada juga orang yang merasa terbantu dengan ilmu-ilmu “rendah.” Itu pun juga sangat baik. Bagaimana mungkin membantu orang lain dikatakan tidak baik? Tidak semua orang cocok dengan suatu jenis obat antibiotika. Ada orang yang terselamatkan hidupnya berkat suatu jenis obat antibiotika, tetapi bagi orang lain obat yang sama justru merupakan racun mematikan. Apakah obat antibiotika yang satu lebih “tinggi” dibandingkan yang lain?

.

Ada kalanya seseorang yang sedang kesusahan tidak cukup hanya dinasihati menurut ilmu “tinggi”: “Engkau sedang menuai apa yang engkau tabur. Jika engkau menabur keburukan, engkau akan menuai keburukan. Apabila engkau menabur kebaikan engkau akan menuai kebaikan.” Nasihat itu mungkin cocok dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Tetapi tidak selalu membantu dalam setiap keadaan. Orang yang sedang kesulitan jika dinasihati seperti itu seolah-olah sedang dihakimi: “Engkau dahulu pembuat kejahatan, oleh karenanya engkau susah saat ini.” Masalahnya sama-sama sekali tidak terselesaikan atau tersentuh. Namun dalam ilmu ramal dan Fengshui sebagaimana saya praktikkan, saya akan mengajak klien mengupas permasalahan mereka. Saya akan mengajaknya berpikir berdasarkan logika. Banyak di antara mereka yang merasa terbantu. Jadi ilmu yang dilecehkan sebagai “rendah” itu pun ternyata juga dapat membantu manusia dan sebaliknya ilmu yang dikatakan “tinggi” juga belum tentu dapat membantu serta terkadang hanya memberikan penawar semu.

.

Sebagian mungkin ada yang memprotes, “Tetapi praktisi ilmu-ilmu “rendah” banyak yang menipu kliennya.” Tetapi jangan salah, para pengamal ilmu-ilmu “tinggi” juga tidak sedikit yang menipu pengikutnya. Kasus-kasus seperti itu sangat banyak terjadi dan tidak perlu kita bahas di sini. Dokter juga banyak yang menipu dan mengambil keuntungan dari pasiennya. Apakah lantas karena kesalahan para oknum semacam itu kita lalu menganggap ilmu kedokteran tidak bermanfaat? Ini jelas adalah pandangan yang sangat dangkal. Intinya, para pengamal ilmu-ilmu “tinggi” juga tidak selalu beres hidupnya. Jadi, jangan menuduh ilmu-ilmu “rendah” dengan cara seperti di atas.

.

Sebagai penutup, saya mengajak para pembaca sekalian agar mengembangkan sikap toleransi dan wawasan lebih luas. Bagaimanapun kita semua hanya manusia bodoh yang belum tahu apa-apa. Jadi daripada merendahkan sesuatu, lebih baik kita mengamati alam ini dengan sikap hormat dan rendah hati. Bukankah toleransi dan kerendah-hatian juga diajarkan dalam ilmu-ilmu “tinggi”?

.

Selamat berakhir pekan.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

.

 
 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

RESEP DASHYAT BEBAS HUTANG

RESEP DASHYAT BEBAS HUTANG

Ivan Taniputera. 

2 April 2016

 
 

 
 

“Aku adalah sama bagi setiap makhluk, dan cinta kasihKu senantiasa tidak berubah; namun barang siapa yang menyembahKu dengan ketulusan sepenuhnya, Aku di dalamnya, dan ia berada di dalamKu.

 

Bahkan barangsiapa yang melakukan kejahatan, menyembahKu dengan sepenuh jiwa, ia hendaknya dipandang sebagai pribadi yang bajik, karena niat bajiknya itu.Ia dengan segera menjadi murni dan meraih kedamaian selamanya. 

 

Sadarilah Arjuna, ia yang mencintaiKu tidak akan mengalami kehancurannya.” (Bhagavad Gita, 9:29-31).

.

“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18, LAI)

,

Banyak orang bertanya pada saya mengenai bagaimana terbebas dari segenap hutang-hutangnya. Banyak orang telah merasa jenuh atas hutang-hutang dialaminya. Mereka ingin cara ampuh dan dashyat membebaskan dirinya dari hutang-hutang tersebut. Mereka menginginkan kehidupan bebas hutang. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya akan menulis jawaban bagi pertanyaan tersebut. . Artikel ini akan bersifat universal dan tidak hanya terbatas bagi agama tertentu saja. Bahkan orang tidak beragama sekalipun diharapkan dapat memperoleh manfaat darinya.

.

 

Pertama-tama, apakah ada resep dashyat bebas hutang? Jawabnya ada! Namun sebelumnya, izinkanlah saya bertanya, sanggupkah Anda mencintai dan mengasihi Buddha, Tuhan, Guru, Dewa, Alam Semesta, atau apa saja yang menjadi tumpuan keyakinan Anda, melebihi kebebasan dari hutang-hutang tersebut? . Jikalau Sosok Suci tersebut tidak membebaskan Anda dari hutang, apakah Anda akan tetap menginginkan dan mencintaiNya?

.

 

Banyak orang menganut “sistim Hutang-Bayar,” artinya ia memuja dan menyembah Sosok-Sosok Suci tersebut dilandasi harapan agar Mereka membalasnya dengan sesuatu. “Aku melakukan ini, maka lakukanlah keingananku sebagai balasan atau pahalanya,” demikian yang terlintas dalam pikiran banyak pemuja. Dengan kata lain, Anda membuat Sosok-sosok Suci itu “berhutang” pada Anda dan Anda berharap Mereka “membayarnya.”

 .

Mari kita renungkan, jika Anda hidup dalam “sistim Hutang Bayar,” maka Anda hidup dalam “dunia Hutang Bayar.” Lalu apakah dengan demikian, Anda bisa terbebas dari hutang-hutang Anda? Jika Anda hidup di tengah-tengah air, jika tidak keluar darinya, apakah Anda sanggup terbebas dari air? Kenyataan yang sangat sederhana. 

.

 

Oleh karenanya, jika Anda ingin terbebas dari hutang, maka keluarlah dari “sistim Hutang Bayar.” Cintailah Sosok-Sosok Suci itu melebihi kebebasan dari hutang-hutang Anda. Mereka membebaskan dari hutang atau tidak, saya tetap mencintai dan menginginkan Mereka.

.

 

Dalam berbuat kebaikan. Banyak orang juga terpikir dalam benaknya, jika saya melakukan kebaikan ini, maka saya berharap mendapatkan pahala itu. Ini adalah juga “sistim Hutang Bayar.” Tidak dapatkah Anda melakukan kebajikan, hanya semata-mata dengan pandangan bahwa kebaikan itu perlu dilakukan? Tidak dapatkah Anda memberi atau beramal pada orang kelaparan, HANYA semata-mata dengan tujuan agar ia tidak mati kelaparan? Ingatlah bahwa jika Anda hidup dalam dunia Hutang Bayar, maka Anda juga sulit terbebas dari kutukan hutang.

.

 

Mengubah pola pikir Anda adalah satu-satunya cara ampuh membebaskan diri dari kutukan dan jerat-jerat hutang. 

 

Salam bebas hutang! Hari ini juga!

KEARIFAN LOKAL: JANGAN SALAH MENGGUNAKAN LUBANG

KEARIFAN LOKAL: JANGAN SALAH MENGGUNAKAN LUBANG

.

Ivan Taniputera.

25 November 2015

.

 

Artikel ini adalah hasil kunjungan ke Istana Mangkunegaran. Kita akan mempelajari salah satu kearifan lokal yang berharga. Pemandu menjelaskan pada saya mengenai makna tarian Bedaya yang dipentaskan saat penobatan raja. Jumlah penarinya adalah sembilan orang. Tujuan tarian adalah sebagai nasihat bagi raja baru. Ternyata angka sembilan itu melambangkan sembilan lubang pada tubuh manusia. Apakah sembilan lubang pada tubuh manusia itu?

.

Mata (dua lubang)

Hidung (dua lubang)

Telinga (dua lubang)

Mulut (satu lubang)

Dua lubang lagi di bawah

.

Raja dinasihatkan agar berhati-hati menggunakan sembilan lubang tersebut. Ternyata jika kita renungkan, banyak orang mengalami kejatuhan karena salah menggunakan lubang-lubang itu.

.

Sebagai contoh, seseorang yang salah menggunakan “lubang mata” menyaksikan hal-hal yang buruk dan menganggapnya sebagai kebaikan. Kehidupannya akan hancur sebagai akibatnya. Orang yang salah memandang hal buruk sebagai baik akan menghalalkan segala cara. Ia melihat harta yang bukan haknya dan timbul keinginan atau keserakahan untuk memilikinya. Dengan demikian, ia lantas terjatuh dalam tindak pidana korupsi. Ada juga orang gemar menonton film tidak senonoh, sehingga pikirannya kacau dan sering memikirkan yang bukan-bukan. Hidupnya kemudian terperosok pada kehancuran. Begitulah contoh-contoh bahaya yang timbul karena salah menggunakan dua “lubang” mata.

.

Orang salah menggunakan “lubang” telinga misalnya karena mendengarkan saran-saran atau bisikan tidak baik. Sebagai contoh, seseorang dibujuk untuk melakukan kejahatan bagi sesamanya. Jika ia mendengarkan bujukan tersebut, maka itulah sumber kejatuhannya.

.

Orang salah menggunakan “lubang” hidung, misalnya karena ia hanya gemar mengendus bebauan yang harum saja. Padahal kemungkinan sumber bebauan yang harum itu berpotensi mengakibatkan kanker. Terdapat parfum-parum yang terbuat dari bahan-bahan penyebab kanker. Jadi kita harus selektif pula terhadap bebauan.

.

Orang salah menggunakan “lubang” mulut, misalnya saat ia mengucapkan kebohongan dan penipuan. Itulah sumber kejatuhannya. Orang salah bicara juga dapat mengakibatkan ia terlibat perkara hukum. Mulut juga seyogianya tidak dipakai mengecewakan dan menyedihkan orang lain. Orang juga hendaknya menyantap makanan yang sehat. Karena makan berlebihan dan tidak sehat, seseorang dapat terkena penyakit kolestrol, diabetes, dan lain sebagainya.

.

Sementara itu, dua lubang di bawah juga hendaknya dipergunakan secara benar. Orang yang salah menggunakan dua lubang di bawah dapat terjerumus ke dalam perselingkuhan. Banyak politikus yang jatuh akibat skandal-skandal semacam itu.

.

Demikianlah kearifan lokal yang saya dapatkan saat mengunjungi Istana Mangkunegaran. Saya bagikan ini agar dapat menaburkan manfaat bagi kita semua. Kita hendaknya tidak meninggalkan kearifan lokal.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi:https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

 

 

MENGAPA KUCING INI SELALU BERUNTUNG DAN MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN?

MENGAPA KUCING INI SELALU BERUNTUNG DAN MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN?

Ivan Taniputera

6 Desember 2014

.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 .

Selamat siang, para pembaca sekalian di mana pun berada. Saya menemukan gambar patung kucing yang lucu ini. Konon bagi yang meyakininya patung kucing ini dapat mendatangkan keberuntungan. Karena kucing ini dipercayai dapat mendatangkan keberuntungan, maka tentu saja kucing ini secara logika juga harus selalu beruntung, bukan? Jika tidak beruntung, bagaimana ia dapat mendatangkan keberuntungan?

Pada hari Sabtu ini marilah kita merenungkan, mengapa kucing ini selalu beruntung dan dapat mendatangkan keberuntungan bagi mereka yang ada di sekitarnya?

 
 

Penyebab utama, mengapa kucing itu selalu beruntung dan mendatangkan keberuntungan adalah karena ia selalu tersenyum. Sang Keberuntungan suka pada senyuman. Sang Keberuntungan tidak suka pada mereka yang berwajah cemberut atau menatap dengan kebencian. Sang Keberuntungan tentu akan berkata pada dirinya sendiri, “Ah, lihat orang itu cemberut wajahnya dan matanya penuh kebencian. Tentu ia juga tidak suka pada saya. Jadi saya tidak usah datang padanya. Lihat orang itu wajahnya berbahagia dan selalu tersenyum. Tentu ia berbahagia melihat saya dan tersenyum padaku. Ia menyukaiku, jadi biarlah saya datang padanya.” Jelas sekali bahwa Keberuntungan hanya mau hadir pada mereka yang tersenyum. Demikianlah penyebab utama mengapa kucing itu selalu beruntung.

 

Selanjutnya kita menyaksikan bahwa patung kucing itu membawa kertas bertuliskan Ruyi (如意), yang artinya adalah “Terjadi sesuai kehendak.” Kucing tersebut selalu optimis bahwa visi dan misinya pasti akan tercapai. Ia tidak akan mudah putus asa dan terjerumus ke dalam pesimisme. Selain itu, ia juga berharap agar orang lain juga tercapai kehendaknya. Tentu saja, kehendak di sini adalah kehendak yang baik dan wajar. Setiap orang ingin bahagia dalam artian sejahtera lahir dan batin. Oleh karena itu, ia senantiasa berharap agar “semua makhluk dalam keadaan sejahtera.” Demikanlah penyebab kedua, mengapa kucing itu selalu beruntung.

 

Patung kucing itu juga membawa patung kucing kecil lain yang bertuliskan Cai (財). Artinya adalah “rejeki.” Rejeki di sini bukan hanya untuk sang kucing sendiri saja. Ia bersedia berbagi rejeki. Sambil berbagi pun ia masih tetap tersenyum. Oleh karenanya, patung kucing tersebut hendak mengajarkan bahwa beramal juga merupakan sumber keberuntungan. Beramal jangan dilihat dari jumlahnya, namun dari kerelaan hati. Anda hanya rela menyumbang seratus Rupiah, tidak masalah. Dua ratus rupiah? Tidak juga masalah. Berapa saja yang penting dengan kerelaan hati.

 

Keempat senyuman sang kucing juga dimaksudkan karena ia turut bersuka cita atas segenap kebaikan hati yang dilakukan orang lain. Itulah karenanya ia selalu tersenyum. Meskipun kebaikan hati itu bukan kita yang melakukan sendiri, namun kita tetap dapat berbahagia karenanya. Ada orang yang iri hati atau memendam kedengkian atas kebaikan hati yang dilakukan orang lain. Tentu saja ini adalah sumber ketidak-beruntungan. Dengan berbahagia atas kebaikan atau kemurahan hati yang dilakukan orang lain, maka kita juga turut menuai keberuntungan bagi diri sendiri dan orang lain.

 

Yang kelima dan terakhir, patung kucing tersebut membawa botol yang terbuat dari labu. Konon itu adalah botol labu wasiat yang dapat menampung seluruh alam semesta. Oleh karena itu, kita juga harus siap menampung segenap wawasan. Jangan berpandangan sempit. Pandangan sempit justru akan mengusir segenap keberuntungan. Pandangan atau wawasan kita adalah ibaratnya pintu masuk bagi Keberuntungan. Jika pintunya terlalu sempit, maka Sang Keberuntungan akan enggan masuk.

Sudahkah kita tersenyum hari ini?

Semoga bermanfaat.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, petuah kehidupan, metafisika, dan lain-lain silakan kunjungi:

 

grupastrologi