POHON DAN BAYANGANNYA

POHON DAN BAYANGANNYA.

.

Ivan Taniputera.

17 Juli 2018.

.

 

.

Suatu kali saya sedang mengadakan perjalanan ke sebuah negeri antah berantah. Pemandu saya, Pak Marques menuturkan mengenai sebuah desa yang bernama Desa Kebijaksanaan. Di sana terdapat seorang lanjut usia, yang biasa dipanggil Pak Pengetahuan. Ia gemar menuturkan kisah-kisah kebijaksanaan yang unik pada para warga desa. Konon semenjak usia mudanya, Pak Pengetahuan sudah menjadi tukang cerita. Karena warga di desa itu tidak begitu menggemari gadget beserta teknologi modern lainnya, maka kisah-kisah tuturan Pak Pengetahuan merupakan sumber hiburan utama bagi mereka. Saya berniat mengunjungi desa tersebut, karena saya menggemari tujuan wisata yang lain dari yang lain. Pak Marques kemudian mengatur perjalanan ke sana. Pada kesempatan kali ini saya hanya menuturkan ulang saja apa yang saya alami di desa tersebut.

.

Singkat cerita keesokan harinya saya tiba di Desa Kebijaksanaan selewat tengah hari; yakni sekitar pukul 01.00 siang. Pemandangan alam di sana tidaklah mengecewakan. Kami lalu menuju ke tempat kediaman Pak Pengetahuan. Ternyata di sana telah berkumpul para warga desa yang siap mendengarkan kisah Pak Pengetahuan. Mereka sedang beristirahat sejenak dari pekerjaan di ladang. Memang, sebagian besar penduduk desa bermata pencaharian sebagai peladang. Hasil utama desa mereka adalah jagung.

.

Siang itu, Pak Pengetahuan mengisahkan mengenai seseorang yang belum pernah melihat pohon. Tentu saja karena namanya sebuah kisah, maka kita janganlah terlalu mencoba mencernanya dengan logika, begitu pikir saya. Ia hanya mendengar penuturan teman-temannya bahwa pohon itu sangatlah indah. Ia lalu ingin melihat seperti apakah pohon itu. Orang itu, sebut saja namanya Si Pengelana, bertanya pada seorang profesor yang pandai, mengenai seperti apakah pohon itu. Profesor yang ditanya lalu menjelaskan secara panjang lebar mengenai pohon beserta ciri-cirinya. Setelah mendengar uraian sang profesor, ia lalu melangkah pergi dan mencari sesuatu dengan ciri-ciri seperti yang digambarkan profesor tersebut.

.

Saat berjalan, tiba-tiba mata Si Pengelana terpaku pada sebuah citra di tanah yang tak lain dan tak bukan adalah bayangan sebatang pohon. Ia berhenti sebentar dan mengamatinya. Ia lantas berkata, “Sungguh mirip sekali dengan apa yang digambarkan profesor yang kutanya tadi.” Tiba-tiba ia melompat penuh kegembiraan seraya berseru, “Oh inilah rupanya yang disebut pohon itu!” Si Pengelana terpaku dengan takjub. Ia merasa telah menemukan apa yang dicarinya. Demikianlah, Si Pengelana terus mematung di tempat tersebut dipenuhi luapan kegirangan batin luar biasa yang tak tergambarkan. Matanya terus mengamati citra di tanah tersebut. Entah berapa waktu telah berlalu.

.

Matahari semakin menggelincir ke arah barat dan malam pun tiba. Si Pengelana baru menyadari bahwa citra yang diamatinya penuh rasa takjub itu menghilang. Kegelapan menyelimuti tempat di sekitarnya. Tetapi yang lebih penting lagi adalah timbul perasaan sedih dan kehilangan yang luar biasa. Jika sebelumnya, ia merasakan kegembiraan meluap-luap; kini rasa sedih itu menjalari batinnya. Ke manakah perginya “pohon” yang dikaguminya itu. Karena hari telah menjadi gelap, Si Pengelana mengeluarkan korek dari saku bajunya. Ia menyalakan korek itu dan melihat ke sekeliling. Tiba-tiba dengan diterangi cahaya korek yang dinyalakannya, tidak jauh dari tempat tersebut, ia menyaksikan suatu sosok sedang berdiri dengan gagahnya. Ia mengamati sosok tersebut. Ternyata sosok itu justru jauh lebih mendekati gambaran mengenai pohon sebagaimana diuraikan sang profesor. Seluruh uraian sang profesor benar-benar bersesuaian dengan sosok tersebut. Bersesuaian secara sempurna tanpa ada yang terlewatkan.

.

Kegembiraan baru menjalari batin Si Pengelana. Kini ia tahu bahwa apa yang baru saja dilihatnya itu merupakan pohon sebenarnya. Bayangan sebuah pohon bisa menghilang sedangkan pohon yang sebenarnya tetap ada. Si Pengelana lalu memeluk pohon tersebut. Ia telah berjumpa dengan apa yang dicarinya.

.

Pak Pengetahuan mengakhiri kisahnya karena para warga desa hendak kembali ke ladang masing-masing. Para warga pun nampak puas dan bertepuk tangan.

.

Kisah ini bagi saya cukup menarik, tetapi saya sendiri tidak yakin dengan penafsiran saya terhadap makna filosofis cerita tersebut. Apakah para warga desa yang mendengarnya mengetahui makna filosofis tersebut? Entahlah. Apakah memang cerita itu hanya sekedar cerita saja tanpa mempunyai makna filosofis tertentu? Entahlah. Saya lalu mendekati Pak Pengetahuan dan menanyakan apakah makna kisah tersebut. Pak Pengetahuan hanya tersenyum dan berkata, “Temukanlah sendiri.”

.

“Apakah yang dimaksud dengan bayangan pohon itu?”

“Apakah yang dimaksud dengan pohon itu?”

“Siapakah sesungguhnya yang dimaksud dengan Si Pengelana?”

“Mengapa justru cahaya korek api yang kecil dapat menuntun Si Pengelana menemukan pohon sebenarnya?” “Mengapa malah bukan cahaya matahari?”

“Apakah yang dimaksud dengan cahaya korek api kecil pada kisah ini?”

.

Banyak pertanyaan yang timbul dalam benak saya. Apakah para pembaca mengetahui jawabannya? Apakah para pembaca ingin mengetahui jawabannya?

.

“Temukanlah sendiri.”

Advertisements

APAKAH TERDAPAT BAYANGAN BERUPA WUJUD TIGA DIMENSI? MARI PERLUAS WAWASAN ANDA MENUJU DIMENSI YANG LEBIH TINGGI

APAKAH TERDAPAT BAYANGAN BERUPA WUJUD TIGA DIMENSI? MARI PERLUAS WAWASAN ANDA MENUJU DIMENSI YANG LEBIH TINGGI

.

Ivan Taniputera.

1 Juli 2018

.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas topik yang agak berat. Umumnya, setiap orang akan menyatakan bahwa bayangan (shadow) itu bersifat dua dimensi. Agar jelas, sebelumnya perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud bayangan di sini adalah citra yang terbentuk karena terdapat penghalang dengan cahaya. Sebagai contoh adalah bayangan pohon di sebuah tembok atau dinding. Cahaya matahari terhalang pohon dan membentuk bayangan pohon tersebut di tembok atau dinding. Bayangan tersebut akan bersifat dua dimensi. Lalu adakah bayangan yang berupa tiga dimensi?

.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut silakan pahami terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut.

.

Sebuah obyek berdimensi 0 (yakni sebuah titik) tidak mengenal konsep atas-bawah; depan-belakang, dan kiri-kanan.

Sebuah obyek berdimensi 1 (yakni sebuah garis) tidak mengenal konsep atas-bawah dan depan-belakang.

Sebuah obyek berdimensi 2 (yakni sebuah bidang datar) tidak mengenal konsep atas dan bawah. Ia hanya mengenal sumbu x dan y saja.

Sebuah obyek berdimensi 3 (yakni sebuah bangun ruang) mengenal konsep atas-bawah; depan-belakang, dan kiri-kanan. Kita hidup dalam alam yang berdimensi tiga.

.

Misalkan terdapat makhluk yang hidup pada suatu dimensi, maka ia tidak akan memahami konsep sebagaimana hanya dikenal di dimensi lebih tinggi. Kita ambil contoh makhluk berdimensi dua (jika ada) tidak akan sanggup memahami konsep atas dan bawah. Bagi mereka ruang hidup mereka hanyalah kiri-kanan dan depan-belakang saja. Kita tidak akan sanggup menjelaskan konsep atas-bawah beserta segenap pemahaman mengenai ruang berdimensi tiga sebagaimana yang kita amati sebagai realita sehari-hari pada makhluk berdimensi dua. Mereka akan menganggap bahwa konsep atas-bawah itu tidak ada dan bahkan mungkin akan mulai mencerca kita sebagai penipu.

.

Begitu pula kita tidak akan sanggup membayangkan konsep-konsep yang berada di tataran dimensi lebih tinggi.

.

Kita akan kembali pada topik kita mengenai bayangan. Marilah kita bayangkan cahaya yang menyinari sebuah ruas garis (dimensi 1). Jika kita menyinarkan cahaya pada salah satu ujung, maka di sini lain akan terbentuk bayangan berupa sebuah titik. Bila kita berganti menyinarkan cahaya pada ujung satunya lagi, maka pada sisi lawannya terbentuk pula bayangan berupa sebuah titik. Makhluk berdimensi 0 akan memandangnya sebagai dua buah titik karena mereka tidak memahami konsep mengenai garis. Mereka tidak akan menyadari bahwa dua buah titik berbeda itu sesungguhnya merupakan bagian sebuah ruas garis yang sama.

.

Kita beralih pada dimensi 2. Kita ambil sebuah persegi sebagai contoh. Jika kita menyinarkan cahaya pada sisi-sisinya, maka pada penjuru lawannya akan terbentuk bayangan berupa garis yang berdimensi 1. Dengan demikian terdapat empat kemungkinan bayangan berupa garis. Jika terdapat makhluk yang hidup pada dimensi 1, mereka juga akan mengalami kesulitan dalam membayangkan bahwa keempat bayangan berupa garis yang nampak berbeda bagi mereka itu, sesungguhnya terbentuk dari sebuah persegi saja. Para makhluk yang hidup di tataran dimensi 1 tidak akan sanggup membayangkan mengenai persegi dan bangun datar dalam bentuk apa pun.

.

Kita akan naik pada dimensi 3. Kita ambil sebuah kubus sebagai contoh. Sebuah kubus mempunyai enam sisi. Jika kita menyinarkan cahaya pada masing-masing sisi, maka pada setiap penjuru lawannya akan terbentuk bayangan berupa persegi. Jadi, terdapat enam kemungkinan bayangan berupa persegi. Bila terdapat makhluk yang hidup di dimensi 2, mereka juga akan sulit membayangkan bahwa keenam persegi tersebut sesungguhnya merupakan bayangan sebuah kubus saja. Tidak ada satu pun bayangan itu yang eksis atau hadir terpisah dari kubus.

.

Logika ini dapat pula kita terapkan pada dimensi yang lebih tinggi. Tentu saja karena keterbatasan kita yang hidup di ranah dimensi 3, mustahil bagi kita membayangkan dimensi 4. Namun karena benda berdimensi 1 akan menghasilkan bayangan berdimensi 0; benda berdimensi 2 akan menghasilkan bayangan berdimensi 1; dan bayangan berdimensi 3 akan menghasilkan bayangan berdimensi 2; tidakkah sesuatu yang berdimensi 4 akan menghasilkan bayangan berdimensi 3? Hal ini dapat kita terapkan lebih lanjut pada dimensi-dimensi yang lebih tinggi.

.

Kita juga mungkin akan mengalami kesulitan dalam membayangkan bahwa bayangan-bayangan berupa obyek tiga dimensi itu sesungguhnya terbentuk dari sebuah obyek berdimensi 4 saja.

 

Untuk jelasnya silakan perhatikan gambar di bawah ini.

.

 

 

.

Kita barangkali dapat memperluas hal ini pada ranah fenomena hantu. Banyak orang menyatakan pernah menyaksikan sosok-sosok bayangan hitam. Apakah sosok-sosok itu sesungguhnya merupakan bayangan dari sesuatu yang berdimensi lebih tinggi?

.

Terlepas dari semua itu, pelajaran yang dapat kita ambil adalah agar kita senantiasa memperluas wawasan pemahamahan kita. Semakin tinggi wawasan pemahaman kita, semakin banyak hal pula akan kita pahami.

RAHASIA MENOLAK KEMALANGAN: CATATAN BERHARGA TENTANG UANG

RAHASIA MENOLAK KEMALANGAN: CATATAN BERHARGA TENTANG UANG.

.

Ivan Taniputera.

11 November 2017.

.

 
 
 

Malam Sabtu ini saya akan menuliskan pengalaman beberapa kenalan dan sahabat terkait bagaimana mereka mengalami kehilangan banyak uang atau terjerumus dalam kebangkrutan. Dengan dengan demikian, diharapkan agar pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi pelajaran atau teladan berharga bagi kita.

.

Penyebab seseorang kehilangan banyak uang atau bangkrut tentu saja sangat banyak dan beragam, namun saya dapat meringkasnya menjadi satu kata saja, yakni “salah perhitungan dan menilai.” Berikut ini saya akan mengulas beberapa penyebab yang paling umum terkait bagaimana seseorang kehilangan banyak uang atau mengalami kebangkrutan. Semua contoh di bawah ini berasal dari kisah nyata yang dialami oleh orang-orang di sekitar saya.

.

  1. INVESTASI BODONG.

.

Investasi bodong maksudnya adalah investasi palsu atau abal-abal. Pola umumnya adalah sebagai berikut. Anda diminta menyerahkan (istilahnya “menanamkan”) sejumlah uang dan dijanjikan akan menerima bunga lebih tinggi, yang tentunya jauh berlipat-lipat dari bunga bank. Uang itu katanya akan diputarkan bagi suatu usaha yang menghasilkan keuntungan tinggi. Selanjutnya keuntungan itu masih katanya akan dikembalikan pada para penanam modal. Namun sesungguhnya tidak ada investasi semacam itu dan setelah meraup sejumlah besar uang dari orang-orang yang tertipu, mereka melarikan diri. Varian lain, usaha itu sebenarnya mungkin memang ada, tetapi ternyata tidak menghasilkan keuntungan sebesar yang diharapkan. Dengan kata lain, perkiraan mereka meleset. Akibatnya, mereka tidak sanggup memberikan bagi hasil yang dijanjikan dan melarikan diri bersama uang Anda.

.

Beberapa tahun yang lalu pernah ada suatu perusahaan yang menurut pengakuan mereka bergerak di bidang komoditas tertentu. Mereka menjelaskan bahwa mereka akan membeli komoditas tersebut saat harganya murah dan menjualnya lagi ketika harga naik. Masalahnya, naik dan turunnya harga komoditas tidak dapat diprediksi secara pasti. Bagaimana jika harga komoditas tersebut terus turun? Yang pasti adalah ketidak-pastian itu sendiri. Namun banyak orang yang tergiur dan menanamkan uangnya, bahkan sampai bermilyar-milyar Rupiah. Awalnya, memang pembagian keuntungan berjalan lancar. Namun beberapa bulan kemudian, pembayaran keuntungan mulai tersendat-sendat dan terhenti sama sekali. Pemilik perusahaan kabur tak tentu rimbanya. Uang bermilyar-milyar Rupiah yang ditanamkan ikut lenyap. Ada seorang teman yang menjadi tertekan batinnya (stress) akibat hal tersebut. Dana untuk pensiun di hari tua terbang entah ke mana. Kemungkinan perusahaan itu menerapkan sistim skema Ponzi.

.

Anehnya, meski investasi bodong semacam ini telah memakan korban semenjak lama, namun tetap saja ada orang yang terjerumus karenanya. Mudah sesungguhnya menilai bahwa investasi yang menjanjikan keuntungan terlalu besar semacam itu adalah tidak masuk akal. Daripada menghimpun dana kita dan memberikan bunga melebihi bank, bukankah lebih baik mereka meminjam saja dari bank yang bunganya lebih rendah?

.

Orang yang tertipu menanamkan modalnya itu telah “salah perhitungan dan menilai.”

.

2. MAIN SAHAM.

.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bermain saham. Hanya saja Anda perlu menyadari bahwa bermain saham tidak dapat diandalkan untuk hidup Anda. Selain itu, Anda tidak dapat mengharapkan menjadi kaya jika bermain saham. Memang ada orang yang mendapatkan hasil luar biasa dari bermain saham. Namun yang patut diingat pergerakan saham itu sifatnya tidak pasti. Sifatnya hanya untung-untungan. Namanya juga permainan. Terdapat ketidak-pastian di sini. Apabila Anda hendak bermain saham, maka pastikan bahwa uang Anda tidak terkuras habis karenanya.

.

Bertahun-tahun yang lalu, saya pernah ditawari menanamkan uang dalam permainan saham. Ia mengatakan bahwa ia yang akan menjalankannya. Saya lalu bertanya, bagaimana jika gagal? Ia menjawab tidak mungkin gagal, karena mempunyai sistim yang dapat diandalkan. Karena tidak menyukai permainan seperti itu, saya tetap menolaknya. Sebulan kemudian, ia menghubungi saya karena hendak meminjam uang. Saya bertanya, “Bukankah kamu mempunyai sistim yang tidak mungkin gagal? Tentunya uangmu sekarang sudah jauh berlipat ganda. Untuk apa meminjam uang dari saya?” Ia menjawab bahwa ia mengalami “loss” atau kalah dalam permainan saham. Uangnya sudah habis sama sekali. Lagi-lagi kita menjumpai orang yang “salah perhitungan dan menilai.”

.

3. BERJUDI

.

Sudah jelas bahwa berjudi ini tidak dapat menjadikan seorang kaya dan malah sangat berpeluang memiskinkan seseorang. Berjudi diharamkan oleh semua agama. Oleh karenanya, tidak perlu kita ulas lebih jauh. Orang yang miskin karena berjudi, pastilah telah “salah perhitungan dan menilai.”

.

4. HUTANG ATAU MENANGGUNG HUTANG ORANG LAIN.

.

Pada tahun 1998 negara kita didera oleh krisis moneter yang parah. Saat itu banyak perusahaan yang bangkrut karena hutangnya di dalam US Dollar menjadi berlipat ganda. Sementara itu perekonomian macet. Sebenarnya, bila berhutang guna memperbesar usaha, kita hendaknya memperhitungkan pula kemungkinan terburuk; yakni bagaimana bila kita tidak sanggup mengembalikan hutang tersebut. Banyak orang hanya melihat sisi baiknya saja, tanpa memikirkan risiko terburuk. Ini menurut saya adalah kesalahan besar. Ada orang yang mengatakan bahwa kita jangan pesimis. Kendati demikian, memikirkan risiko terburuk bukanlah pesimis, melainkan realistis. Beberapa teman usahanya bangkrut dan asetnya terpaksa dilelang karena tidak dapat membayar hutang. Mereka telah “salah perhitungan dan menilai.”

.

Selain berhutang, seseorang juga dapat mengalami kebangkrutan atau kehilangan uang dalam jumlah besar karena orang yang berhutang padanya tidak membayar atau melarikan uangnya. Menghutangi orang lain tidaklah salah. Kita memang harus saling tolong menolong dalam kehidupan ini. Masalahnya, tidak setiap orang patut ditolong. Anda mungkin bertanya bagaimana kita mengetahui sebelumnya bagaimana seseorang patut ditolong atau tidak. Jawaban saya adalah sebagai berikut. Apabila Anda hendak menolong orang lain dengan cara menghutanginya, maka pertimbangkanlah bagaimana jika hutang itu tidak dapat dikembalikan. Apakah Anda sudah siap menerima risiko tersebut? Jika belum urungkan niat Anda menghutangi. Bila Anda memang merasa kasihan padanya dan hendak menolong, maka tolonglah tanpa mengharapkan uang Anda kembali. Uang Anda dikembalikan bagus, tetapi tidak dikembalikan juga tidak masalah. Janganlah Anda “salah perhitungan dan menilai.”

.

Menanggung hutang orang lain artinya Anda menjadi penjamin baginya. Artinya orang lain yang berhutang, tetapi jika tidak membayar Andalah yang menjadi penanggungnya. Ada orang yang menjadi penjamin hutang bagi kawannya. Namun kawannya itu malah kabur dan ia yang harus merelakan aset-asetnya dijual demi menutup hutang tersebut. Intinya adalah menolong orang lain harus bijaksana. Sekali lagi, janganlah “salah perhitungan dan menilai.”

.

5. MENJALANKAN USAHA YANG ANDA TIDAK MEMILIKI KEMAMPUAN MENJALANKANNYA.

.

Saya mengamati selama ini bahwa ada orang yang membuka suatu usaha hanya karena tertarik melihat orang lain mendapatkan keuntungan besar darinya. Sebagai contoh, ada orang menjual atau memproduksi suatu barang dan menghasilkan keuntungan besar. Kemudian ada orang lain yang menyaksikannya dan juga ingin mendapatkan keuntungan besar dari barang tersebut, sehingga berniat membuka usaha yang sama. Ia lalu mencurahkan seluruh modalnya demi usaha yang sama tersebut tanpa mempertimbangkan apakah ia mempunyai pengetahuan memadai atau tidak. Banyak orang asal meniru suatu usaha tanpa menakar kemampuan mereka sendiri. Menjalankan suatu usaha tidaklah semudah yang dilihat, terutama jika itu bukan bidang Anda. Akibatnya banyak usaha asal tiru semacam itu yang tidak lama kemudian gulung tikar. Jangan “salah perhitungan dan menilai.” Lebih baik Anda jalankan saja usaha yang sesuai dengan kemampuan dan bidang Anda. Majulah berperang bila Anda sudah mengetahui medannya dengan baik. Jangan asal maju berperang.

.

Ini adalah suatu kisah nyata. Ada kenalan yang saat berjalan-jalan melihat seseorang berjualan suatu jenis makanan dan sangat sukses. Ia lalu ingin mendirikan usaha rumah makan. Namun sesungguhnya, ia tidak mempunyai kepandaian memasak. Akibatnya, usaha rumah makan itu akhirnya bangkrut.

.

Demikianlah beberapa penyebab utama mengapa seseorang kehilangan banyak uang dan jatuh dalam kebangkrutan. Dengan memahami prinsip-prinsip yang ada dalam artikel ini, Anda telah belajar menolak kemalangan.

.

Apabila Anda merasa mendapatkan manfaat dan wawasan setelah membaca artikel ini mengapa Anda tidak membagikannya pada orang lain? Jika Anda rajin membagikan sesuatu yang bermanfaat, sudah pasti keberuntungan dan kebahagiaan akan mengikuti Anda. Namun jika setelah membaca serta merasa mendapatkan manfaat Anda berdiam diri saja dan malas membagikannya, kemiskinan akan mengikuti Anda sepanjang hidup karena Anda pelit dalam berbagi. Jikalau Anda malas menabur kebaikan, bagaimana mungkin Anda berharap kebahagiaan mendatangi Anda? Sebaliknya justru kemalangan, kesialan, dan kemiskinan yang akan membayangi Anda sepanjang hidup. Janganlah malas membagikan artikel ini dan “salah perhitungan serta menilai.”

RENUNGAN AJARAN DEWA TAN TIK SIOE

RENUNGAN AJARAN DEWA TAN TIK SIOE.

.

Ivan Taniputera.

14 Juni 2017.

.

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas mengenai ajaran Dewa Tan Tik Sioe:

.

“Kita ada mempoenjai saboewa roema bogrek djanganlah aken memandeng roema bagoes.” (Dewa Tan Tik Sioe pada Moestika Adem Hati, 1917).

.

Apabila kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia modern kurang lebih adalah:

.

“Jika kita memliki rumah yang buruk janganlah mengharapkan rumah mewah.”

.

Berdasarkan ajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kita hendaknya tidak merasa putus asa bila tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Banyak orang mengharapkan hasil yang tinggi namun sewaktu ambisinya tidak tercapai ia menjadi sangat tertekan. Oleh karenanya, kita perlu bersuka cita apa pun hasil yang dicapai.

.

Meskipun demikian, ajaran di atas tidak menyatakan agar kita mudah berpuas diri. Apabila kita merasa atau menganggap rumah kita buruk, tidaklah salah mengharapkan rumah yang lebih baik. Namun berharap saja tidak cukup. Kita perlu berupaya mewujudkannya dengan memanfaatkan segenap kemampuan beserta sumber daya yang kita miliki. Yang penting adalah kita berupaya sebaik mungkin, tetapi apa pun hasilnya perlu kita terima dengan suka cita.

.

Kita dapat menafsirkan ajaran di atas bahwa bila kita menabur sesuatu yang buruk janganlah mengharapkan yang baik. Dalam dunia karir dan usaha, tidak jarang orang saling menjegal serta merugikan satu sama lain. Namun sesuatu yang diperoleh dengan merugikan hak orang lain, tidak akan membuahkan kebaikan. Sesuatu yang buruk mustahil menghasilkan kebaikan. Jika ada sesuatu yang seolah-olah nampak sebagai kebaikan atau kebahagiaan, maka semua itu hanya sementara saja sifatnya.

.

Demikianlah sedikit renungan kita terhadap ajaran Dewa Tan Tik Sioe.

MENGAPA WAKTU TERASA BEGITU CEPAT AKHIR-AKHIR INI?

MENGAPA WAKTU TERASA BEGITU CEPAT AKHIR-AKHIR INI?

.

Ivan Taniputera.

13 Juni 2016

.

.

Tahun Baru 2016 rasanya baru berlangsung kemarin. Namun kini tanpa dirasa kita sudah memasuki pertengahan bulan keenam, yakni pertengahan tahun. Banyak yang merasa bahwa waktu bertambah cepat berlalunya. Saya mencoba merenungkan dan menjawab mengapa hal ini terjadi.

.

Saya berpendapat bahwa penyebabnya terletak pada kemajuan teknologi yang dialami umat manusia. Mari kita ambil berkirim surat sebagai contoh. Dahulu sebelum ada teknologi internet, kita berkomunikasi dengan orang yang ada di luar kota atau luar negeri menggunakan surat. Berkirim surat ke luar negeri memerlukan waktu yang relatif lama dibandingkan sekarang. Jikalau kita mengirim surat pada kerabat atau sahabat kita di luar negeri, maka memerlukan waktu berbulan-bulan agar dapat menerima balasannya. Dengan kata lain, waktu tunggu menjadi lebih lama. Namun dewasa ini dengan adanya internet berikirim surat menjadi lebih cepat. Kita menyebutnya sebagai surat elektronik atau e-mail. Dengan menggunakan internet, surat elektronik kita dalam hitungan detik sudah sampai ke tujuan. Bahkan tidak sampai satu menit orang sudah dapat mengirim balasannya. Menunggu balasan surat elektronik lebih dari sehari sudah dapat dikatakan lama. Segala sesuatu telah berubah menjadi begitu cepat.

.

Teknologi telah mempercepat berbagai pekerjaan. Sebagai contoh adalah dalam dunia percetakan. Dengan adanya teknik cetak digital, maka segenap dokumen kita dapat dicetak dalam hitungan menit. Berbeda dengan dahulu, dimana kita perlu menunggu berhari-hari. Tentu saja dalam bidang-bidang lainnya teknologi telah pula meningkatkan kecepatan secara revolusioner. Alat-alat transportasi juga bertambah cepat. Kecepatan telah menjadi suatu tuntutan dan salah satu peningkat daya saing dewasa ini.

.

Karena kecepatan itulah, maka kita juga merasakan waktu begitu cepat berlalu. Waktu yang kita butuhkan dalam menanti sesuatu menjadi begitu singkat. Kita tidak lagi memperhatikan berlalunya waktu, yakni waktu yang diperlukan dalam menanti sesuatu. Dahulu sebelum terdapat internet, seseorang akan menghitung waktu sebelum menerima balasan surat yang dinanti-nantikannya. Ia akan menghitung hari demi hari sambil menanti kedatangan surat balasan tersebut. Waktu menjadi lebih terasa berlalunya.

.

Waktu sendiri sebenarnya bersifat khayali. Ia adalah semata-mata pembagian semu yang dilakukan manusia terhadap suatu aliran tak bernama. Aliran itu dibagi-baginya menjadi tahun, hari, menit, detik, dan lain sebagainya. Suatu pembagian yang telah ada semenjak awal sejarah peradaban manusia. Oleh karenanya, perasaan kita terhadapnya juga bersifat semu dan tergantung oleh berbagai kondisi.

.

Waktu yang dirasa berlalu begitu cepat itu memang terkadang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Seolah-olah waktu begitu kejam dengan berlari terlalu cepat. Kendati demikian, ada kalanya kita dapat melakukan latihan berikut ini. Kita mencoba dengan sadar memperlambat segenap aktifitas kita. Sebagai contoh hari ini dalam mengetik SMS saya mencoba tidak terlalu cepat, meskipun biasanya itu sudah terjadi secara otomatis. Saya berupaya memperlambat aktifitas saya dalam mengetik SMS tersebut. Menjadi sadar betul terhadap segenap huruf dan kata yang muncul. Begitu pula sewaktu menulis artikel ini, saya mencoba menyadari segenap huruf dan kata yang secara bertahap muncul di layar komputer. Dengan kata lain, kita mencoba menyadari “saat sekarang.” Apabila latihan ini dilakukan terus menerus, maka secara bertahap kita akan menyadari waktu yang berjalan melambat dengan sendirinya. Kita tidak akan lagi mengeluh mengapa waktu berjalan begitu cepat.

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

.

Ivan Taniputera.

14 Mei 2016

.

Beberapa waktu yang lalu saya menampilkan teka teki labirin berikut ini.

.

 

 

.

Carilah jalan dari tanda panah hijau bertulisan “mulai” menuju ke “tujuan” di bagian tengah. Semua orang yang mencoba memecahkan teka-teki ini mengalami kebuntuan. Sebenarnya, tujuan teka-teki labirin ini adalah mengajak kita semua merenungkan beberapa pelajaran berharga.

.

Sebelumnya, saya akan memuat terlebih dahulu gambar jawaban teka-teki labirin di atas.

.

 

Jadi jelas sekali, jika Anda cermat dan sanggup menemukan garis-garis berwarna biru di atas, maka nampak bahwa “tujuan” itu mustahil dicapai. Bagian “tujuan” itu sebenarnya tertutup atau terhalang dari semua sisi. Dengan demikian, “tujuan” itu tidak mungkin dicapai dari mana pun juga (dalam hal ini dari arah luar). Garis berwarna oranye memperlihatkan bahwa ke arah mana pun Anda bergerak, akhirnya akan kembali ke titik “mulai” lagi.

.

Apakah pelajaran yang dapat kita ambil?

.

Pertama, banyak orang (atau mungkin semua orang) menjadikan “kebahagiaan” sebagai tujuan dalam hidupnya. Siapakah yang tidak ingin bahagia? Namun tidak sedikit orang menjadikan sesuatu di luar dirinya sebagai sumber kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau sudah mempunyai ini atau itu. Tetapi semua itu, ternyata tidak menjadikannya bahagia, karena keinginan manusia itu ibarat sumur tidak berdasar. Meski telah mendapatkan sesuatu, seseorang pasti mendambakan hal lainnya lagi. Sesudah lulus SD, orang ingin lulus SMP. Sesudah lulus SMP, seseorang ingin lulus SMU. Setelah mendapatkan ini, ia ingin mendapatkan itu. Polanya terus berulang bagaikan lingkaran setan. Ia terus terjerumus pada keinginan berikutnya, yakni suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupannya. Tujuan berupa kebahagiaan itu terus menerus ingin dicapainya, namun tidak pernah berhasil. Ia terus menerus berputar-putar mencari tujuan itu, namun anehnya tetap kembali ke titik awal. Hal inilah yang digambar oleh garis-garis oranye pada gambar di atas. Ke manapun Anda pergi, Anda akan tiba pada titik awal.

.

Akhirnya, ia menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicapai dari luar. Kebahagiaan itu seharusnya sudah ada di dalam, hanya saja terdapat tembok pemisah yang tidak tertembus.

.

Pelajaran kedua, terkadang pemecahan suatu masalah itu justru berada pada titik awal masalah itu sendiri. Ke mana pun Anda berlari mencari pemecahannya, Anda akhirnya pada titik awal pencarian Anda.

.

Begitu pula orang yang mencari suatu pencerahan spiritual, akhirnya harus kembali pada dirinya sendiri. Pencerahan spiritual di luar dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Akhir pencarian akhirnya adalah diri sendiri., yakni titik awal pencarian itu sendiri.

.

Demikianlah renungan berharga berasal dari teka-teki labirin ini. Selamat berakhir pekan.

BENARKAH METODA RAMALAN DAN FENGSHUI MERUPAKAN ILMU RENDAH?

BENARKAH METODA RAMALAN DAN FENGSHUI MERUPAKAN ILMU RENDAH?

.

Ivan Taniputera.

16 April 2016

.

Saya teringat pendapat sebagian orang yang menyatakan bahwa ilmu ramalan dan Fengshui merupakan ilmu-ilmu rendah. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini saya hendak mengulas hal tersebut.

.

Pertama-tama, ada yang mengatakan bahwa ilmu-ilmu seperti itu disebut rendah karena tidak membawa pembebasan diri sepenuhnya dari penderitaan. Saya akan menjawabnya dengan berbagai cara.

.

Apabila alasannya seperti itu, maka sains, termasuk ilmu kedokteran, juga tidak membawa pembebasan sepenuhnya dari penderitaan. Namun pada kenyataannya, sains dan ilmu kedokteran justru lebih banyak meringankan penderitaan umat manusia secara nyata dan bukan hanya sekedar teori atau angan-angan belaka. Sebagai contoh, adalah penemuan-penemuan vaksin yang dapat membasmi segenap penyakit:

.

-Louis Pasteur menemukan vaksin Rabies (1885).

-Edward Jenner menemukan vaksin untuk cacar.

-Robert Sachs menemukan vaksin untuk polio.

,

 

Semua penemuan tersebut dapat meringankan penderitaan manusia secara nyata dan signifikan. Jauh melampaui ilmu-ilmu yang dianggap “tinggi.” Bahkan jika kita amati pada forum, mailing list, atau grup-grup ilmu-ilmu “tinggi” tertentu di internet, justru nampak bahwa sebagian anggota-anggotanya saling berdebat dan tidak jarang saling menghina serta merendahkan satu sama lain dengan berbekalkan ilmu-ilmu “tinggi” tersebut. Tidak jarang ada yang melontarkan amarah (walaupun dibungkus dengan kata-kata “manis”), sehingga sesungguhnya merekalah yang mengakibatkan penderitaan dalam diri mereka sendiri dan orang lain. Jelas sekali nampak bahwa ilmu-ilmu yang disangka tingkat “tinggi” tersebut justru malah dapat menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain. Tentu saja tidak semua orang seperti itu. Kita tidak dapat dan tidak boleh menggeneralisasi. Namun kenyataannya memang seperti itu. Banyak orang yang berbekalkan ilmu-ilmu “tinggi” malah melakukan aniaya pada sesamanya melalui tindakan, pikiran, dan ucapan. Mereka terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif. Lalu pertanyaannya apakah klaim bahwa ilmu-ilmu “tinggi” itu pasti membuahkan pembebasan tertinggi masih sahih? Apakah saling menghujat dan merasa benar sendiri seperti itu yang dimaksud dengan “pembebasan tertinggi”? Bahkan kalau kita telaah lebih lanjut, orang yang mempelejari ilmu-ilmu “tinggi” juga belum tentu meraih pembebasan tertinggi. Oleh karenanya, kita tidak perlu membangkitkan kesombongan dengan menyatakan ini ilmu “tinggi” atau “rendah.”

.

Selanjutnya, ada yang membantah, “Yang menyatakan itu ilmu “rendah” adalah Sang Guru sendiri.” Betul. Mungkin memang demikian halnya. Tetapi Anda lupa bahwa Anda bukan Sang Guru. Tingkat pencapaian Anda masih jauh dari Sang Guru. Anda tetap masih manusia biasa. Adalah sia-sia bagi seekor semut hendak meniru atau mengimitasi seekor gajah. Sang Guru menyatakan sesuatu pasti mempunyai konteks atau latar belakang tertentu yang belum tentu Anda ketahui. Anda tidak memahami sepenuhnya pikiran Sang Guru yang tentunya jauh berbeda dengan Anda. Namun Anda dengan sikap jumawa lantas menggunakan ajaran Sang Guru itu untuk merendahkan ilmu ramalan dan Fengshui. Ini adalah sikap yang sangat dangkal. Anda lupa bahwa dalam tataran Kebenaran Tertinggi, tidak ada lagi “tinggi” dan “rendah.” Tidak ada lagi keserba-menduaan (dualisme). Jadi jika Anda masih berpikir “tinggi” dan “rendah” maka Anda masih jauh dari realisasi Kebenaran Tertinggi. Apalagi jika masih ada sikap merendahkan dan meremehkan. Tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah sikap merendahkan dan meremehkan itu membawa kedamaian batin atau tidak. Tidak perlu dijawab. Cukup direnungkan saja.

.

Berikutnya, klien saya banyak yang merasa terbantu dengan konsultasi ramalan dan Fengshui sebagaimana saya berikan pada mereka. Banyak di antara mereka dapat menemukan kembali arah dan jati diri hidupnya. Saat sedang dirudung masalah, mereka terbantu dengan ramalan saya. Saya tidak mengatakan bahwa ilmu-ilmu “tinggi” itu tidak dapat membantu menyelesaikan masalah manusia. Bagi saya ilmu-ilmu “tinggi” itu juga ilmu yang mulia. Dengan syarat dan ketentuan tertentu, ilmu-ilmu “tinggi” itu dapat juga bermanfaat bagi manusia. Jika tidak bermanfaat bagi manusia bagaimana mungkin hingga saat ini ia dapat tetap bertahan? Namun, pertanyaan sebaliknya juga berlaku, jika tidak bermanfaat bagi manusia, bagaimana mungkin ilmu-ilmu “rendah” itu dapat tetap bertahan hingga saat ini?

.

Banyak orang mungkin merasa terbantu dengan ilmu-ilmu “tinggi.” Hal itu sangat baik. Tetapi ada juga orang yang merasa terbantu dengan ilmu-ilmu “rendah.” Itu pun juga sangat baik. Bagaimana mungkin membantu orang lain dikatakan tidak baik? Tidak semua orang cocok dengan suatu jenis obat antibiotika. Ada orang yang terselamatkan hidupnya berkat suatu jenis obat antibiotika, tetapi bagi orang lain obat yang sama justru merupakan racun mematikan. Apakah obat antibiotika yang satu lebih “tinggi” dibandingkan yang lain?

.

Ada kalanya seseorang yang sedang kesusahan tidak cukup hanya dinasihati menurut ilmu “tinggi”: “Engkau sedang menuai apa yang engkau tabur. Jika engkau menabur keburukan, engkau akan menuai keburukan. Apabila engkau menabur kebaikan engkau akan menuai kebaikan.” Nasihat itu mungkin cocok dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Tetapi tidak selalu membantu dalam setiap keadaan. Orang yang sedang kesulitan jika dinasihati seperti itu seolah-olah sedang dihakimi: “Engkau dahulu pembuat kejahatan, oleh karenanya engkau susah saat ini.” Masalahnya sama-sama sekali tidak terselesaikan atau tersentuh. Namun dalam ilmu ramal dan Fengshui sebagaimana saya praktikkan, saya akan mengajak klien mengupas permasalahan mereka. Saya akan mengajaknya berpikir berdasarkan logika. Banyak di antara mereka yang merasa terbantu. Jadi ilmu yang dilecehkan sebagai “rendah” itu pun ternyata juga dapat membantu manusia dan sebaliknya ilmu yang dikatakan “tinggi” juga belum tentu dapat membantu serta terkadang hanya memberikan penawar semu.

.

Sebagian mungkin ada yang memprotes, “Tetapi praktisi ilmu-ilmu “rendah” banyak yang menipu kliennya.” Tetapi jangan salah, para pengamal ilmu-ilmu “tinggi” juga tidak sedikit yang menipu pengikutnya. Kasus-kasus seperti itu sangat banyak terjadi dan tidak perlu kita bahas di sini. Dokter juga banyak yang menipu dan mengambil keuntungan dari pasiennya. Apakah lantas karena kesalahan para oknum semacam itu kita lalu menganggap ilmu kedokteran tidak bermanfaat? Ini jelas adalah pandangan yang sangat dangkal. Intinya, para pengamal ilmu-ilmu “tinggi” juga tidak selalu beres hidupnya. Jadi, jangan menuduh ilmu-ilmu “rendah” dengan cara seperti di atas.

.

Sebagai penutup, saya mengajak para pembaca sekalian agar mengembangkan sikap toleransi dan wawasan lebih luas. Bagaimanapun kita semua hanya manusia bodoh yang belum tahu apa-apa. Jadi daripada merendahkan sesuatu, lebih baik kita mengamati alam ini dengan sikap hormat dan rendah hati. Bukankah toleransi dan kerendah-hatian juga diajarkan dalam ilmu-ilmu “tinggi”?

.

Selamat berakhir pekan.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

.

 
 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.