PESAN DARI DEWA KWAN KONG

PESAN DARI DEWA KWAN KONG.

.

Ivan Taniputera.

29 September 2015

.

 

 

 .

Saya baru saja mendapatkan lembaran lama berisikan pesan yang dikatakan berasal dari Dewa Kwan Kong. Pada lembaran itu tidak tertulis angka tahunnya. Namun kita akan mencoba melacak berasal dari tahun berapa lembaran tersebut. Berikut ini adalah foto lembaran yang saya dapatkan.

.

 

 

.

Pada lembaran surat itu tertempel pula satu lembaran kecil seperti gambar di bawah ini. .

 

 

Untuk memudahkan para pembaca, saya akan menuliskan kembali apa yang tertulis pada lembaran tersebut:

.

“Salinan nasehat dari Kwan Tee Sing Koen, Kwan Jin Tay Soe seperti di bawah ini:

Kwan Tee Sing Koen mengloearkane toelisannja sendiri boeat ini taon pendoedoek jang mati 7-8 bagian; Kwan Jin Tay Soe soenggoe besar kewelasan dan kemoerahan hatinja, berakta dan menjeboet doenia jang telah kedjadian ini, orang-orang pendoedoek soepaja terlepas dari bahaja maut, djika orang-orang bisa menoeroet atawa menoeroenken ini soerat nasehat 1 lembar di kasih pertjoema pada orang lain bisa terloepoet boeat satoe kampoeng. Djika orang tiada bagiken pertjoema sesoedah meliat ini soerat bisa terkena penjakit toempah darah sehingga binasa, ini ada paling sengsara. Baik djoega berdjoepah pada Kwan Jin Tay Soe, jang toeroen lantas toelis ini nasehat, soepaja orang-orang dengen hormat bagi dan siarken dengen pertjoema di ini alam, soepaja orang-orang kerdja baik dan hati-hati menjeboet doenia jang kedjadian ini, soepaja pendoedoek bisa terlepas dari bahaja maut dan bisa slamet. Djika perkataannja memang palsoe seperti orang lakik bisa mendjadi maling dan orang prempoean djadi soendel, djikaloek tida pertjaja boleh liat nanti boelan delapan (Pik Gwik), ajam tida bisa berkeloeroek, andjing tida bisa menggogong, tengah malem djam 3 ada siloeman, ampat pendjoeroe ada soeara panggil-panggil tiada brentinja, aken tetapi djangan sekali-kali di djawab, di takoetin sedari ini, sehingga kemoedian hari tangkwi boelan sepoeloeh (Tjap Gwik) moesti ada ratjoen berdjalan. Membrilah nasehat orang di dalem ini doenia, dalem ini taoen boelan doea tanggal 19 (Dji Gwik Tjap Kauw), dan boelan lima tanggal 5 (Go Gwik Dje go), antara djam 12 tengah hari 0rang-orang boleh mandi kramas dan makan sajoer (Tjiatjhay) , batja kitabnja Nabi Hoetjo dengen soetji hati dan hormat sama Toapekong. Perkerdjaan jang baik boleh di kerdjaken, perkerdjaan jang djahat djangan di kerdjaken, lantas bisa terlepas dar bahaja, lantaran pertoeloengan dari Kwan Tee Sing Koen dan Kwan Jin Tay Soe, ada sediaken obat tjampoer dan masak djadiken wedang thee, kaloek dapet penjakit selainja itoe ada 3 lembar djimat (hoe), boleh ditempelken di atas pintoe, di toelis atas kertas koening dengen tinta merah. Di inget ini perkataan djangan diboeat main-main, ini hal lantaran ada kasoekeran ke1. Doenia tiada aman. ke2 Tida slamet lantaran tjaboel penjakit. ke3. Awan gelap dan bandjir tinggihnja naik ke langit. ke4. Di ampat pendjoeroe ketoetoep asep seperti malem. ke5. Pendoedoek soesah terlepas dari sengsara. ke6. Orang pendoedoek ilang separo. ke7. Ada nasih tida ada jang makan. ke8. Ada pakean tida ada jang pakik. ke9 Ada djalanan tida ada jang djalan. ke10. Soesah liwatin taoen Kinggo (Shio Be), taoen Simbi (Shio Jo), dan taoen Djin Sin (Shio Kauw), ini ada 3 lembar djimat (tjesakeoe) Ommitohoed…………. Seliwat ini djangan di boeang-boeang, boleh di kasihken pada orang lain dan boleh kasih nasehat pada masing-masing orang lakik dan prempeoan dengan hormat, soepaja berdjalan biak, ini boleh membri djasa kebaikan jang tiada takerannja. Djikaloek hidoepnja zaman dahoeloe, dari sebab kedjadianja trimanja di alam sekarang. Djika baik maoe taoe di alam kemoedian sebab atawa kedjadian alam poenja perboeatan, mangka orang-orang jang berboeat hati baik, djangan ketawa dan goembira bertjampoer, betoel atoeran seneng tambah redjeki, kendati di bikin maloe atawa di ketawaken orang-orang perboeatan nistjaja tida mendjadi gelap …

.

Ommitohoed…….Ommitohoed…….Ommitohoed…….

.

Sementara itu lembaran kecilnya bertuliskan sebagai berikut:

.

“Boeat toembal

Katjang idjoo)

Djagoeng ) di goreng

Ketam item )

Beras merah )

Dlingo bengklee di radjang en koenir.

Lantas diboengkoes dengen warwar bang of dadap-srep. Di tanem 4 podjok roemah en satoe di moeka pintoe.

———–

N/B/.

Kaloe ada geger djangan lari ka kidoel,haroes lari ka lor of lainnja!

Meskipun tidak tertera angka tahun, namun terdapat keterangan sebagai berikut: “Soesah liwatin taoen Kinggo (Shio Be), taoen Simbi (Shio Jo), dan taoen Djin Sin (Shio Kauw).”

.

Tahun Kinggo ini mengacu pada tahun Gengwu atau 1930.

Tahun Simbi ini mengacu pada tahun Xinwei atau 1931.

Tahun Djinsin ini mengacu pda tahun Renshen atau 1932.

.

Sebenarnya bisa juga mengacu pada tahun 1870, 1871, dan 1872. tetapi nampaknya tidak mungkin, karena dokumen-dokumen pada tahun tersebut masih jarang diketik. Tahun 1990, 1991, dan 1992 jelas tidak mungkin, karena pada masa-masa itu ejaan van Ophuysen tidak lagi dipergunakan.

.

Menariknya, terdapat kalimat sebagai berikut: “Di ampat pendjoeroe ketoetoep asep seperti malem.” Hal ini mirip dengan keadaan saat bencana asap yang sedang berlangsung saat ini.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan lain-lain silakan kunjungi:

 
 

Advertisements

RIWAYAT MAK CO TIAN SHANG SHENG MU DAN BUKU THIAN SIANG SENG BO (MA CO PO) KIU KHO CIN KENG BESERTA ILMU HU-NYA

RIWAYAT MAK CO TIAN SHANG SHENG MU DAN BUKU THIAN SIANG SENG BO (MA CO PO) KIU KHO CIN KENG BESERTA ILMU HU-NYA 

Ditulis ulang oleh Ivan Taniputera

06 Oktober 2012

Saya baru-baru ini mendapatkan keng (Mandarin: jing) tentang Tianshang Shengmu yang terkenal sebagai pelindung para pelaut dan salah satu dewata utama rakyat Minnan. Keng dalam bentuk buku kecil ini saya dapatkan di salah sebuah kelenteng, tapi saya lupa kelenteng mana. Ada beberapa hal menarik yang ingin saya bagikan di sini, yakni tentang ritual pengusiran setan (eksorsisme) dan pertolongan Tianshang Shengmu pada Laksama Zhenghe. Sayangnya dalam keng ini tidak mencantumkan huruf Mandarin dan hanya terdapat lafal bahasa Hokkiannya saja, sehingga tidak dapat dilakukan penerjemahan lebih lanjut.

 

A.RITUAL PENGUSIRAN SETAN

 
 

 
 

Terdapat keterangan di halaman 16:

 

“Tiga bentuk hu di bawah ini untuk mengobati orang sakit lantaran kena “SETAN.” Ambil air semangkok dan tulis dengan jari telunjuk.

Sambil membaca keng di bawah ini:

 

Hu Tau Cin Jin, Kam Eng Hoa Seng.

It Hu It Sui, Kiu Ce Ban Bin,

Ti Cay Ki Ciang. Eng Po An Leng.

Kip Kip Ji Lut Leng

 

Air hu itu boleh diminum dan diusapkan di badan pasien sambil membaca keng di bawah ini:

 

Ce Thian Seng Boh, Poh Tauw Hang Sin.

Sam Kay Hian Cek. Pian Hay tong Leng.

Sin Tong Pian Hoa Sun. Ce Ceng Beng.

Sam Sip Ji Siang. Siang Mau toan Seng.

Sui Lam Sui eng. Ci Seng Ci Leng.

Wi Kong Hian Hek. Ho Kek Pi Bin.

Hay Hong Cwe Leng Ci Siok Hang Lim.

It Sim Ciam Giang. Hian Hian Cin Sin.

Hi Kong Cui Hian. Thong Leng Thian Peng.

Wi Sin He Heng. Kwi Hok Sin Keng.

Hu thian Hu Cu. Seng Hou Tiok Lim.

Pak Tau Tay Seng. Xi Tiok Sia Ceng.

Hau Cay San Ho. Koh Ke An Leng.

Kip Kip Ji Lut Leng.

 

B.PERTOLONGAN TIANSHANG SHENGMU PADA LAKSAMANA ZHENGHE.

 

Akan saya kutipkan dari halaman 11-12 dengan berbagai perbaikan:

 

Sedemikian besar kepercayaan para nelayan terhadap kebesaran dan kesaktian Ma Zu (Tianshang Shengmu) atas keselamatan mereka di lautan teduh, sehingga di atas setiap kapal juga disediakan patung pemujaan. Demikianlah yang terjadi pada pelaut terbesar di zaman dinasti Ming, laksamana Zheng He (The Ho) yang memimpin 62 armada pelayaran muhibah ke Nusantara. Tujuh kali Zheng He berhasil memimpin kunjungan muhibahnya ke  belasan negeri di Asia dan Afrika. Beliau senantiasa memimpin upacara sembahyang memohon perlindungan dan keselamatan kepada Mazu.

Pada tahun ketujuh pemerintahan Kaisar Yong Le (1409), yakni dalam pelayaran Beliau ketiga, Zheng He menyempatkan diri singgah di Pulau Mei-chou serta mengadakan upacara sembahyang di kelenteng Mazu. Sampai sekarang, prasasti peninggalan Zheng He masih terdapat di Zhan-le, Provinsi Fujian (Hokkian). Prasasti tersebut menerangkan secara rinci keselamatan pelayaran-pelayaran mereka itu adalah berkat kemukjizatan Tianshang Shengmu. Mengenang perlindungan Tiangshang Shengmu itulah, Kaisar Yongle lantas menganugerahkan gelar “Tian Fei” berkat keberhasilan misi muhibah Laksamana Zheng He.

 

Artikel-artikel menarik lainnya, silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

 

KELENTENG HOK TEK BIO (FU DE MIAO) SALATIGA

KELENTENG HOK TEK BIO (FU DE MIAO) SALATIGA

 

Ivan Taniputera

25 Maret 2014

 

Pada tanggal 23 Maret 2014, saya mengadakan perjalanan ke Salatiga dan singgah di Kelenteng Hok Tek Bio (Fu De Miao) Salatiga.

 

 

 

Altar utama kelenteng ditempati oleh Dewa Hok Tek Cin Sien (Fu De Zhen Shen). Di bawahnya terdapat altar bagi Jenderal Harimau. Sementara itu di sebelah kanan dari pintu masuk terdapat altar Hian Thian Siang Tee (Xuan Tian Shang Di). Di sebelah kiri terdapat altar Kwan Kong (Guan Di). Di bagian samping kiri terdapat ruang sembahyang bagi Kwan Iem Poo Sat (Guan Yin Bu Sa). Di bagian samping kanan terdapat ruang sembahyang bagi Thiang Siang Seng Bo (Tian Shang Sheng Mu). Berikut ini adalah denahnya secara sederhana.

 

 

Berikut ini adalah ruangan utama kelenteng.

 

 

Berikut ini adalah altar bagi Kwan Iem Poo Sat (Guan Yin Bu Sa)

 

 

Berikut ini adalah altar bagi Thian Siang Seng Bo (Tian Shang Sheng Mu)

 

 

Berikut ini adalah gambar Macan Putih dan Naga Hijau.

 

 

 

 

 BIMBINGAN BELAJAR

 

 

Kami dengan gembira memberikan bimbingan belajar bagi siswa SD-SMP-SMU di Kota Semarang. Ada pun mata pelajarannya adalah:

  • MATEMATIKA
  • FISIKA
  • KIMIA
  • BAHASA INGGRIS
  • AKUNTANSI

Kami berpengalaman mengajar siswa-siswa sekolah favorit dan internasional.

Hubungi: Ivan (0816658902)

Email: ivan_taniputera@yahoo.com.