ILMU RAMALAN BARANG HILANG MENURUT PRIMBON JAWA

ILMU RAMALAN BARANG HILANG MENURUT PRIMBON JAWA.

.

Ivan Taniputera.

15 Oktober 2018.

.

Primbon merupakan salah satu warisan budaya bangsa. Itulah sebabnya, pada kesempatan kali ini saya akan menulis artikel mengenai ilmu ramalan barang hilang sebagaimana terdapat pada Primbon Jawa.

.

Pertama-tama kita harus mengenal terlebih dahulu angka naptu gabungan sistim lima harian (Pancawara: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing) serta sistim tujuh harian (Saptawara: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu). Berikut ini adalah angka masing-masing.

.

SAPTAWARA

.

Senin = 4

Selasa = 3

Rabu = 7

Kamis = 8

Jumat = 6

Sabtu = 9

Minggu = 5

.

PANCAWARA

.

Pon = 7

Wage = 4

Kliwon = 8

Legi = 5

Pahing = 9

.

Cara mencari angka naptu sangat mudah. Tinggal dijumlahkan saja angka masing-masing. Sebagai contoh adalah hari Rabu Pahing. Rabu angkanya adalah 7. Pahing angkanya adalah 9. Jadi, naptu Rabu Pahing adalah 7 + 9 atau 16.

Untuk memudahkan dapat menggunakan tabel di bawah ini.

.

.

Kini kita akan membahas ilmu ramalan barang hilang tersebut. Dalam Primbon saya mendapati dua jenis ramalan.

.

RAMALAN BARANG HILANG 1.

.

Angka naptu hari barang tersebut hilang dibagi 7. Jikalau tidak diketahui kapan hilangnya, dapat pula mempergunakan hari barang tersebut disadari kehilangannya.

.

Jika bersisa 0 (disebut Gajah), maka artinya orang yang mengambil benda tersebut sudah jauh keberadaannya.

.

Jika bersisa 1 (disebut Naga), maka artinya barang itu hilang karena kecerobohan. Akibat kurang teliti, barang yang ditanyakan itu hilang atau terselip.

.

Jika bersisa 2 (disebut Panagan), maka artinya barang itu diambil oleh orang yang dikenal; kemungkinan adalah salah seorang teman, saudara, rekan, dan lain sebagainya.

.

Jika bersisa 3 (disebut Basu), maka artinya barang itu diambil oleh orang yang tinggal serumah dengan Anda. Namun saya menafsirkannya pula bahwa mungkin juga maknanya adalah barang itu masih berada di rumah Anda sendiri. Jadi belum tentu diambil oleh seseorang. Mungkin juga Anda yang lupa meletakkannya. Dengan demikian, Anda dapat mencarinya di dalam rumah Anda sendiri.

.

Jika bersisa 4 (disebut Tanu), maka artinya barang itu diambil oleh orang yang tinggalnya bertetangga dengan Anda. Saya menafsirkan juga bahwa bahwa belum tentu barang itu diambil orang dengan sengaja. Bisa juga terjatuh tanpa sengaja di pekarangan tetangga Anda. Apabila mendapatkan hasil ramalan ini, Anda dapat mencoba mengingat-ingat apakah Anda baru saja bertandang ke rumah tetangga Anda. Jikalau benar demikian, Anda dapat meminta izin tetangga Anda secara baik-baik untuk memeriksa pekaranganya atau tempat yang Anda baru saja kunjungi.

.

Jika bersisa 5, maka artinya barang itu diambil oleh peminta-minta. Tetapi saya akan mengartikannya sebagai seseorang yang sedang mengharapkan bantuan atau pertolongan Anda. Mungkin dapat diartikan sebagai orang yang sedang kekurangan dan memerlukan sesuatu dengan segera.

.

Jika bersisa 6 (disebut Watu), maka artinya orang yang mengambil barang tersebut sudah pergi meninggalkan tempat tersebut dan sulit lagi dilacak keberadaannya.

.

Kita ambil contoh barang yang hilang hari Rabu Pahing. Angka naptunya adalah 16. Kita bagi 16 dengan 7. Hasilnya adalah 2 sisa 2. Karena bersisa 2, maka hasil ramalannya adalah Panagan.

.

RAMALAN BARANG HILANG 2

.

Angka naptu hari barang tersebut hilang dibagi 4. Jikalau tidak diketahui kapan hilangnya, dapat pula mempergunakan hari barang tersebut disadari kehilangannya.

.

Jika bersisa 0 (disebut Epleng), maka artinya barang yang hilang tersebut tidak dapat ditemukan kembali.

.

Jika bersisa 1 (disebut Pitik), maka artinya yang mengambil adalah orang yang sedang menggembala ternak (Jawa: angon). Di kota-kota besar, orang yang menggembala ternak sudah jarang, jadi tentu saja maknanya harus kita sesuaikan. Saya menafsirkan bahwa maknanya dapat pula berarti orang yang sedang menjalankan suatu tugas tertentu. Tugas itu sulit ditinggalkan olehnya. Kemungkinan penafsiran lain adalah orang yang sedang mengasuh sesuatu.

.

Jika bersisa 2 (disebut Benik), maka artinya yang mengambil adalah orang yang menjadi anggota suatu gerombolan. Di zaman sekarang, gerombolan pengacau keamanan dapat dikatakan sudah tidak ada. Negara kita dalam keadaan aman dan damai. Itulah sebabnya, maknanya harus sedikit kita sesuaikan dengan kondisi masa kini. Saya menawarkan penafsiran sebagai berikut: (1) Orang yang mengambilnya merupakan anggota suatu perkumpulan, kelompok atau organisasi yang beranggotakan banyak orang. Yang patut diingat, perkumpulan atau kelompok ini belum tentu merupakan sesuatu yang buruk. Bisa jadi, ia hanyala oknum yang mencoreng nama organisasinya; (2) Dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang.

.

Jika bersisa 3 (disebut Cumbu), maka artinya barang itu akan dengan mudah ditemukan kembali.

.

Kita ambil contoh barang yang hilang hari Rabu Pahing. Angka naptunya adalah 16. Kita bagi 16 dengan 4. Sisanya adalah 0. Karena bersisa 0, maka hasil ramalannya adalah Epleng.

.

Jika kita gabungkan hasil pembacaan ramalan barang hilang pertama dan kedua, maka hasilnya adalah: “Barang itu kemungkinan diambil oleh orang yang dikenal; namun sulit sekali ditemukan kembali.”

.

Dengan demikian, kita telah mengulas dengan jelas dua ilmu ramalan barang hilang; sebagaimana dimuat dalam Primbon Jawa.

.

Yang patut diingat, kita hendaknya menggunakan ramalan ini dengan bijaksana. Belum tentu seseorang itu mengambil dengan kesengajaan. Mungkin saja, ia tanpa sengaja membawanya. Dengan kata lain, barang yang hilang itu terbawa olehnya. Itulah sebabnya, kita jangan menuduh sembarangan. Jika hendak menanyakannya, pergunakanlah kata-kata yang sopan dan halus serta jauh dari kesan menuduh. Ingat, bahwa menuduh seseorang tanpa bukti termasuk tindak pidana dan dapat dibawa ke pengadilan. Anda dapat dituduh mencemarkan nama baik. Ilmu ini juga adalah sekedar ramalan yang belum tentu terbukti kebenarannya.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . . . . 

.

 .

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Advertisements

ASTRONOMI: RASI-RASI BINTANG TRADISIONAL JAWA

ASTRONOMI: RASI-RASI BINTANG TRADISIONAL JAWA.

.

Ivan Taniputera.

27 Mei 2018.

.

Sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur Nusantara, pada kesempatan kali ini saya akan menulis mengenai rasi-rasi bintang tradisional Jawa. Artikel ini masih perlu disempurnakan dan dilengkapi, karena terdapat beberapa rasi bintang tradisional Jawa yang belum berhasil saya identifikasi.

.

Berikut ini adalah gambar beberapa rasi bintang tradisional Jawa yang telah berhasil saya kenali.

.

 

 

.

Rasi bintang Banyak Angrem dibentuk dari bintang-bintang rasi Scorpio. Banyak Angrem artinya angsa yang sedang mengerami telurnya.

.

 
 

Rasi bintang Gubug Penceng terbentuk dari rasi Crux. Sementara itu, rasi bintang Wulanjar Ngirim terbentuk dari dua bintang rasi Centaurus. Rasi bintang Gubug Penceng dan Wulanjar Ngirim ini juga dikenal sebagai rasi bintang Pari.

.

.

Rasi bintang Waluku terbentuk dari bintang-bintang rasi Orion. Rasi bintang Waluku ini menggambarkan bajak.

.

.

Rasi bintang Kartika merupakan bintang Pleiades pada rasi Taurus. Juga disebut rasi bintang Wuluh.

.

.

 

Rasi bintang Sapi Gumarang merupakan rasi Taurus.

.

Berikut ini adalah letak rasi-rasi bintang tersebut pada peta bintang.

.

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

TOLAK BALA DAN SIMBOLISASI DALAM TRADISI JAWA

.

Ivan Taniputera.

8 November 2015

.

.

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil pembicaraan dengan salah seorang kawan. Ia menuturkan kisah menarik bahwa beberapa minggu sebelum terjadinya gempa dashyat di Yogyakarta tahun 2006, warga di desanya diperintahkan menempelkan uang logam 100 Rupiah beserta rumput alang-alang di atas pintu rumah mereka. Selain itu, warga juga diperintahkan membuat kolak kolang kaling.

.

Pada mulanya, tiada yang mengetahui maknanya. Tetapi beberapa minggu kemudian terjadilah bencana gempa dashyat tersebut. Untungnya warga desa seluruhnya selamat, kendati mereka merasakan guncangan gempa dashyat.

.

Tradisi Jawa memang sarat dengan simbolisme atau perlambang. Setelah bencana tersebut, orang lantas menafsirkan bahwa uang logam 100 Rupiah itu melambangkan gempa bumi. Gambar gunungan di salah satu sisi uang logam mengingatkan pada pagelaran wayang kulit. Sebelum dalang menancapkan gunungan, maka ia akan mengucapkan, “Bumi gonjang ganjing….” atau artinya “Bumi bergoncang dashyat….”

.

Rumput alang-alang ditafsirkan sebagai “alang-alang” atau penghalang bagi bencana. Begitu pun juga kolak kolang-kaling dimaksudkan untuk “ngolang-ngalingi” atau menghalangi bencana.

.

Demikianlah bahasa perlambang dalam tradisi tolak bala (penolak bencana) dalam tradisi Jawa. Ternyata pada leluhur di zaman dahulu telah mempunyai kebijaksanaan yang tinggi pula.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

.

BUKU LUAR BIASA KUMPULAN RAMALAN DAN HAL-HAL GAIB DI SELURUH PENJURU TANAH JAWA

BUKU LUAR BIASA KUMPULAN RAMALAN DAN HAL-HAL GAIB DI SELURUH PENJURU TANAH JAWA

Ivan Taniputera

21 September 2015

.

 

Beberapa jilid buku ini merupakan kumpulan luar biasa berbagai ramalan dan hal-hal gaib di seluruh penjuru Tanah Jawa. Berikut ini adalah jilid-jilid yang tersedia.

 

JILID 1

 

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid 1. De Geschiedenis der Godsdiensten op Java

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia

Jumlah halaman: 425 

Bahasa: Belanda.

 

Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

 

 

Jilid pertama ini berisikan berbagai hal yang luar biasa. Sebagai contoh, terdapat uraian mengenai dewa-dewa Hindu:

 

“PARABRAHMA

 

de God der Brahmanen, de Almacht, Die, vereenzelvigd met het Nirwana, de oorsprong is van alles, wat bestaat. In de Weda’s wordt uit eerbied Zijn naam niet genoemd, doch vervangen door:…….” (halaman 20).

 

Terjemahan:

 

“PARABRAHMA

 

Dewa kaum Brahmana, Yang Maha Kuasa, yang disamakan dengan Nirwana, merupakan asal muasal segala sesuatu yang ada. Dalam Weda, karena rasa hormat, maka nama Beliau tidak pernah disebutkan, namun digantikan oleh:…..”

 

Lalu terdapat pula legenda mengenai asal muasal terjadinya perhitungan Wuku (Pawukon), sebagaimana tercantum di halaman 72:

 

“In der beginne der heerschappij van Batara Goeroe op aarde, was zijn rijk verdeelde in vijf hoofd en vier onderdeelen. De vijd hoofddeelen, zijnde het Oosten, Westen, Zuiden, Noorden, en Midden, hadden ieder een zekeren dag van oppergebied, van marktijd en van gezag. De vijf dagen vormden een kleine tijdcirkel…”

 

Terjemahan:

 

“Pada awal masa pemerintahan Batara Guru di muka bumi ini, daerah kekuasaannya dibagi menjadi lima bagian utama dan empat bagian lanjutan. Kelima bagian utama itu adalah Timur, Barat, Selatan, Utara, dan Tengah, masing-masing mempunyai kekuasaan atas hari-hari tertentu, sebagai penanda waktu dan aturan. Kelima hari itu membentuk satu siklus kecil….”

 

Selanjutnya dalam buku ini juga dibahas mengenai jenis-jenis makhluk halus baik berasal dari tradisi India maupun Jawa. Sebagai contoh adalah:

 

“719 PHISATJA dan 720 PHISATJIS

 

de zoogenammde vampires, die in holen en kloven huizen en voornamelijk er op uit gaan, om menschen en dieren en al waat leeft kwaad te doen en hun het bloed uit te zuigen. Eenige van deeze reuzen, die in de mythologie met naam genoemd worden, zullen wij trachten in het kort the beschrijven.” (halaman 119).

 

Terjemahan:

 

“PHISATJA DAN PHISATJIS

 

Merupakan semacam vampir, tinggal dalam gua dan jurang-jurang serta keluar mencari manusia, hewan, dan makhluk hidup guna melakukan sesuatu yang jahat dengan menghisap darah mereka. Beberapa makhluk ini yang namanya disebutkan dalam mitologi akan kita ulas secara ringkas…”

 

Lalu terdapat pula uraian mengenai legenda-legenda Jawa, misalnya mengenai asal muasal iblis, dunia, dan lain sebagainya.

 

Berikut ini adalah nama-nama makhluk halus dalam kepercayaan Jawa:

 

1. DE TJINOENOEK

2. DE KABO KAMILI

3. DE DADOENG AWOES’S

4. DE POTO

5. DE SAWAN

6. DE SARAP

7. DE DHENGEN

8. DE MADJOESI

9. DE GENDROEWA

10. DE WEWE

11. DE KOENTHIANAK

12. DE BONTOT

13. DE BANASPATI

14. DE SETAN OESOES

15. DEN DJERANGKONG

16. DE ANTOE DARAT

17. DE ANTOE LAOET

18. DE KEMAMANG

19. DEN BISOE

20. DE LAMPOR

21. DE LAHA

22. DE BLORONG

23. DE GOENDHOEL

24. DE BELIS

25. DE SATO

26. DE DINKEL

27. DE TETELO

28. DE KITJIWIS

29. DE GEBLOEK

30. DE KEBLEK

 

dan lain-lain, masing-masing dengan penjelasannya. Secara keseluruhan terdapat 93 jenis hantu yang diulas dalam buku ini.

 

Meskipun demikian, pada halam 238 hingga 243, terdapat tambahan 24 jenis hantu (spoken) lagi, namun beberapa di antaranya mendapatkan pengaruh tradisi India.

 

Pada halaman 266 hingga 271 diulas mengenai malaikat-malaikat yang kemungkinan dari namanya mencerminkan pengaruh Arab. Sebagai contoh adalah: Djabarail, Mikail, Israfil, Idjrail, Malakal Maoet, Asrael, Roeman, Moenkar, Nakir, dan lain sebagainya. Masing-masing beserta ulasannya. Selanjutnya terdapat pula tabel yang menghubungkan antara nama bintang beserta malaikat. 

 

Pada halaman 282 hingga 285 terdapat uraian mengenai selamatan beserta tata caranya.

 

Selanjutnya, terdapat uraian mengenai pengaruh-pengaruh iblis, makhluk halus, dan hantu terhadap manusia, antara lain menimbulkan penyakit. Sebagai contoh, ini adalah penyakit-penyakit yang ditimbulkan beserta hari berjangkitnya penyakit.

 

“Zaterdag: Rechter oor, knieen, en beenderenstelsel.

Donderdag: Linker oor, dijen, voeten, en slagaderensysteem.” (halaman 287).

 

Terjemahan:

 

“Sabtu: telinga kanan, lutut, dan tulang

Kamis: telinga, paha, kaki, dan sistem arteri Kiri……”

 

Terdapat uraian mengenai tradisi ruwatan (kias) terhadap urutan kelahiran anak yang dianggap kurang baik beserta sesajiannya.

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

 
 

 

 

 
 

JILID II

 
 

 
 

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid II. A. De Bedoewi’s en hun Pawoekon’s (Orang Badui dan Pawukon mereka). B. De Tiang Tengger en hun Ngelmoe (Tiang Tengger dan Ngelmu mereka).

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia-C

Jumlah halaman: 338

Bahasa: Belanda dan Indonesia (Melayu).

Buku ini mengupas mengenai Pawukon (perhitungan Wuku) dan juga beberapa metoda ramalan atau petangan.

 

Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Ini adalah contoh halaman yang memuat perhitungan wuku beserta keterangannya, seperti tentang selamatan dan lain sebagainya.

 
 

 
 

Berikut ini adalah contoh-contoh halaman lainnya, yang memuat berbagai petangan  atau ramalan dan lain sebagainya. 

Cara meramal cukup sederhana, dapat menggunakan dadu atau kartu domino. Pertama-tama dengan melihat daftar pertanyaan dan sesudah itu dicocokkan dengan tabel jawabannya.

 

 

 
 

JILID III

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid III. De Tiang pasek an hun Tengerans en de Mohammedanen en hun Primbons.

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: G. Kolff & Co., Batavia-C.

Jumlah halaman: 374.

Bahasa: Belanda dan Indonesia (Melayu).

Buku ini memuat berbagai hitungan dalam primbon. Berikut ini adalah daftar isinya:

 
 

Di dalamnya diulas pula ramalan garis tangan, fisiognomi, dan lain sebagainya. Terdapat uraian mengenai tempat-tempat keramat, seperti gunung, sungai, makam dan lain sebagainya.

 

Sebagai contoh adalah uraian mengenai Gunung Sumbing:

 

“Goenoeng Soembing, Goenoeng Sindoro, Deze bergen worden door de Javanen Vereerd.  Deze vereering vloeit voort uit een legende, die vermeldt dat deze bergen vroeger menschen zijn geweest en wel broeders.” (halaman 9).

 

Terjemahan:

 

“Gunung Sumbing, Gunung Sindoro. Gunung-gunung ini dihormati oleh orang Jawa. Penghormatan ini berasal dari legenda yang meriwayatkan bahwa gunung-gunung ini dulunya adalah manusia yang saling bersaudara.”

 

Terdapat uraian mengenai tanda-tanda kuda yang baik. 

 

Firasat telinga berbunyi, muka terasa panas, dan lain sebagainya juga dibahas di dalamnya.

 

Yang menarik terdapat primbon khusus bagi merampok, yakni mencari saat yang baik dalam melancarkan aksinya (Primbon Ngetjoe, Ngampak, Membegal, dan Maling, Kerojok).

 

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

 
 

JILID V

Judul: De Javaansche Geestenwereld

Terdapat keterangan: De Betrekking, Die Tusschen De Geesten En De Zinnelijke Wereld Bestaat,

Verduidelijkt Door Petangan’s of Tellingen, Bij De Javanen en Soendaneezen in Gebruik

Penulis: H. A. van Hien

Jilid V. De Primbons

Soerat petangannja orang Djawa dan orang Soenda, menjataken segala roepa itoengan, boewat mentjari keslametan.

Penerbit: Bandoeng, Fortuna, 1913

Jumlah halaman: 148 (ada beberapa halaman terakhir yang hilang).

Bahasa: Belanda dan Indonesia

Ini merupakan buku yang sangat unik, berupa kumpulan berbagai ramalan dan perhitungan dalam primbon yang pernah digunakan di pulau Jawa (mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur). Berikut ini adalah daftar isinya:

Buku ini memuat berbagai perhitungan, misalnya perhitungan mengenai naga tahun dan naga bulan. Ternyata terdapat perbedaan antara perhitungan arah naga bulan di Jawa Barat dan Tengah dengan di Jawa Timur. Adapun perbedaan itu antara lain:

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di timur, jatingarang terletak di selatan, ridjal terletak di barat, dan sambang banger terletak di utara.

Di Jawa Timur:

Bulan Rabingoel-awal (Rabiul Awal), naga terletak di selatan, jatingarang terletak di barat, ridjal terletak di utara, dan sambang banger terletak di timur.

Perhitungan hari buruk pada masing-masing bulan, juga terdapat perbedaan. Adapun perbedaan itu antara lain:

Di Jawa Barat dan Tengah:

Bulan Soera, hari Senin dan Selasa.

Di Jawa Timur:

Bulan Soera, hari Sabtu dan Minggu (Ngahat).

Terdapat pula berbagai hitungan mengenai perjalanan, pindah rumah, mencari pencuri, dan bahkan terdapat pula primbon-primbon untuk keperluan khusus, seperti primbon perang, perang sabil, dan perang bakat, primbon untuk penjahat (ngetjoe, gampak, membegal, dan maling kerojok), dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

POHON PENANGGALAN DAN KOSMOLOGI JAWA

POHON PENANGGALAN DAN KOSMOLOGI JAWA

Ivan Taniputera

4 November 2013

.

Penanggalan Jawa

Gagasan membuat gambar ini muncul sewaktu saya membaca mengenai Serat Gatoloco. Waktu itu Gatoloco sedang beradu teka teki dengan lima orang dewi dari Padepokan Cemarajamus, yakni Dewi Mlenukgembuk, Dewi Dudulmendut, Dewi Rarabawuk, Dewi Bleweh, dan Dewi Lupitwati. Jika dapat menjawab teka-teki tersebut, Gatoloco boleh menikahi mereka. Adapun teka-teki dari Dewi Mlenukgembuk berbunyi sebagai berikut:

 

“Terdapat pohon besar, memiliki empat cabang, berdaun dua belas, hanya memiliki dua buah saja. Pohon itu kemudian bercabang delapan. Bunganya tak terhitung jumlahnya”

 

Jawabannya, pohon besar tersebut melambangkan jagad raya. Empat cabang melambangkan empat arah mata angin utama: utara, selatan, barat, timur. Dua belas daun melambangkan nama-nama bulan Jawa. Dua buah itu melambangkan rembulan beserta matahari. Selanjutnya delapan cabang melambangkan delapan nama tahun Jawa. Bunga yang tak terhitung jumlahnya melambangkan bintang-bintang.

 

Dengan demikian, sebenarnya gambar pohon besar tadi hendak mengajarkan mengenai konsep penanggalan dan kosmologi Jawa.

Nama bulan-bulan Jawa adalah:

1.Sura

2.Sapar

3.Mulud

4.Bakda Mulud

5.Jumadilawal

6.Jumadilakir

7.Rejeb

8.Ruwah

9.Pasa

10.Sawal

11.Dulkangidah

12.Dulkahijjah

Nama tahun-tahun Jawa adalah:

1.Alip

2.Ehe

3.Jimawal

4.Je

5.Dal

6.Be

7.Wawu

8.Jimakhir

Untuk artikel-artikel menarik lainnya silakan bergabung dengan https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

 

grupastrologi

 

BUKU TENTANG WUKU ATAU PAWUKON YANG SUDAH HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN

BUKU TENTANG WUKU ATAU PAWUKON YANG SUDAH HAMPIR BERUSIA 100 TAHUN

 .

Ivan Taniputera

14 Desember 2014

.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Judul: Boekoe Pawoekon: Toeroenan dari Kraton Soerakarta Tersalin Dalem Bahasa Melajoe

Penerbit: G. C. T. van Dorp & Co., Semarang-Soerabaia-‘s-Gravenhage, 1916

Jumlah halaman: 67

Buku ini berisikan seluk beluk mengenai wuku dalam tradisi astrologi Jawa, dimana satu wuku menguasai satu minggu (tujuh hari). Dalam tradisi Jawa terdapat 30 wuku. Berikut ini adalah daftar isinya:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada buku ini akan diuraikan seluk beluk masing-masing wuku, misalnya mengenai wuku Warigalit (halaman 7):

“Artinja woekoe WARIGALIT, bagoes roepanja, djadi kembangnja dalem pasamoean, kerep kawin, djahat hati dan besar tjemboreoeannja, soesah atas kamaoeannja, males dateng di mana tempat berdoedoekan. Kajoenja soelastri, bagoes roepanja, banjak jang soeka dan seneng orang melihat. …….”

Lalu disebutkan juga selamatan untuk masing-masing wuku.

Buku ini juga membahas hari baik dan buruk berdasarkan wukunya.

Terdapat pula penjelasan mengenai tanggal baik dan buruk menurut tradisi Jawa.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA 

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

ARAH YANG BAIK DALAM MENCARI PENGHIDUPAN MENURUT PRIMBON JAWA: SUATU KONSEP RUANG DAN WAKTU TRADISIONAL

ARAH YANG BAIK DALAM MENCARI PENGHIDUPAN MENURUT PRIMBON JAWA: SUATU KONSEP RUANG DAN WAKTU TRADISIONAL
Ivan Taniputera
28 November 2013
Berikut ini adalah pedoman mencari arah yang baik dalam mencari penghidupan yang diambil dari buku Primbon Jawa. Pedoman ini mencerminkan konsep Jawa mengenai ruang dan waktu, dimana ruang beserta waktu akan senantiasa berubah baik dan buruknya. Karena konsep perhitungan waktu yang berputar (siklis) berdasarkan sistim Lima Hari (Pancawara) dan sistim Tujuh Hari (Saptawara), maka arah baik serta buruk itu juga akan mengalami siklus pula, yang akhirnya juga kembali ke asal lagi.

Menurut tradisi Primbon Jawa tersebut, arah mata angin dalam suatu hari pasaran tertentu dapat digolongkan menjadi empat, yakni sandhang, pangan, lara, dan pati. Sandhang dan pangan secara harafiah berarti “pakaian” serta “makanan,” sehingga tentunya ini merupakan arah yang bagus. Sedangkan lara dan pati, secara harafiah berarti “penyakit” serta “kematian,” sehingga tentunya merupakan arah yang kurang bagus. Arah-arah yang kurang bagus itu tentunya harus dihindari.

Sebagai contoh adalah hari Jum’at Pahing, menurut Primbon, pada hari tersebut, sandhang jatuh di barat, pangan jatuh di selatan, lara jatuh di timur, dan pati di utara.

Berikut ini adalah tabel selengkapnya.

Artikel menarik lainnya silakan kunjungi https://www.facebook.com/groups/339499392807581/