KIAS-KIAS (CISWA) SUPER DASHYAT UNTUK MEMPERBAIKI NASIB DAN MENINGKATKAN KEBERUNTUNGAN

KIAS-KIAS (CISWA) SUPER DASHYAT UNTUK MEMPERBAIKI NASIB DAN MENINGKATKAN KEBERUNTUNGAN.

.

Ivan Taniputera.

5 Desember 2017.

.

Banyak klien menanyakan adakah kias (di kalangan masyarakat keturunan Tionghoa umum disebut ciswa) untuk memperbaiki nasib dan meningkatkan keberuntungan. Menurut pendapat saya kias yang terbaik adalah berbuat kebaikan bagi semua makhluk. Berbuat baik di sini adalah mencurahkan manfaat bagi seisi dunia ini tanpa membeda-bedakan suku bangsa, agama, ras, dan antar golongan. Kita mencurahkan kebaikan beserta manfaat pada semua makhluk yang membutuhkannya. Banyak orang berkata bahwa mereka tidak mempunyai uang untuk melakukan kebaikan. Namun sesungguhnya berbuat baik itu tidak perlu mengeluarkan banyak uang. Bahkan ada kebaikan yang tidak memerlukan uang sama sekali, seperti menyumbangkan tenaga kita dalam melakukan kebaikan serta turut mendorong dan bersuka cita atas kebaikan yang dilakukan orang lain. Kita jangan malah iri dan kurang senang tatkala menyaksikan orang lain melakukan kebaikan. Melalui turut bersuka cita atas kebaikan yang dilakukan orang lain, secara tidak langsung kita telah pula berpartisipasi dalam tindakan bajik tersebut. Berbuat kebajikan adalah kias atau ciswa terbaik.

.

Meskipun demikian, kita dapat melakukan kias-kias berupa perbuatan bajik yang disesuaikan dengan elemen baik kita. Tentu saja sebelumnya kita perlu menghitung terlebih dahulu dengan metoda Bazi (Hokkian: Pehjie) apa elemen baik kita. Berikut ini adalah kias-kias atau ciswa berdasarkan elemen baik kita.

.

ELEMEN API.

  1. Menyumbang penerangan. Wujudnya banyak sekali. Contohnya adalah sebagai berikut:

a. Di zaman sekarang untuk penerangan orang menggunakan listrik. Listrik ini adalah elemen Api di zaman modern. Oleh karenanya, kita juga harus menyesuaikan dengan kemajuan tersebut. Anda dapat membayar rekening listrik orang yang tidak mampu. Sebagai contoh, ada tetangga Anda yang tidak sanggup membayar rekening listrik. Bila Anda mampu maka boleh membayar rekening listriknya. Ini adalah contoh kias atau ciswa berelemen Api.

b. Menyumbang bola lampu listrik ke panti-panti (bisa panti asuhan atau panti jompo), rumah ibadah, dan tempat apa saja yang memerlukannya.

c. Memasang lampu penerangan di depan rumah Anda, jika jalan di tempat kediaman masih gelap. Dengan demikian, Anda sudah menaburkan manfaat bagi diri Anda sendiri dan orang lain. Jika jalan depan rumah terang, bukankah akan lebih aman? 

.

2. Membantu memasak saat ada kegiatan sosial. Sebagai contoh saat berlangsungnya bakti sosial atau bencana alam, bila Anda gemar dan pandai memasak, Anda dapat menjadi sukarelawan.

.

3. Menyumbang pasien sakit jantung yang tidak mampu (namun tentunya dalam menyumbang sebaiknya jangan membeda-bedakan penyakit yang diderita seseorang). Hanya saja jika kebetulan Anda mengenal pasien sakit jantung yang tidak mampu dan Anda tergerak menolongnya, dimana kebetulan pula elemen Api baik bagi Anda, maka inilah kesempatan melakukan kebajikan besar. Jangan lewatkan kesempatan luar biasa ini. Mengapa jantung? Jawabannya karena menurut metafisika China, jantung berelemen atau berunsur Api. Tapi ingat jangan sengaja hanya mencari yang sakit jantung saja. Dalam menolong sesama jangan membeda-bedakan apa penyakitnya. Kalau Anda hanya mau menolong orang yang sakit tertentu saja demi meningkatkan elemen keberuntungan Anda semata, maka itu justru memberikan dampak sebaliknya karena berarti Anda telah bersifat egois serta tidak tulus. 

.

4. Memberikan dorongan semangat pada orang lain. Jika Anda menyaksikan orang lain hendak menuai keberhasilan, maka doronglah ia dan jangan malah merendahkan semangatnya. Jangan menakut-nakuti orang lain dengan hal-hal tidak masuk akal.

Tentu saja masih banyak contoh-contoh lainnya dan tidak hanya terbatas pada keempat hal di atas.

.

ELEMEN KAYU.

.

  1. Menyumbang dan menanam pohon-pohon untuk penghijauan. Dewasa ini, dunia kita terancam oleh kerusakan lingkungan yang parah. Banyak pohon telah ditebangi dan hutan-hutan menjadi gundul. Masa depan dunia ini telah dipertaruhkan demi keserakahan umat manusia. Mengapa Anda tidak menyumbang program penghijauan kembali? Ikutlah dalam kegiatan-kegiatan terkait lingkungan hidup.
  2. Menanam bunga-bungaan di tempat umum; sebagai contoh tempat ibadah, panti-panti (asuhan atau jompo), taman kota, tepi jalan, dan lain sebagainya. Bunga-bungaan itu menambah keindahan. Orang yang menyaksikannya akan merasa senang dan bahagia. Jika setiap hari ada ratusan orang yang merasa bahagia, tidakkah Anda telah melakukan banyak kebajikan setiap harinya?
  3. Mengajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ini sangat luas. Anda bisa menulis artikel-artikel yang bermanfaat dan menyebarkan ajaran-ajaran yang dipenuhi cinta kasih serta menjauhkan umat manusia dari kebencian. Dapat pula menyumbang buku-buku yang bermanfaat (seperti buku pelajaran dan pengetahuan) karena buku mewakili unsur Kayu. Jika ada acara bakti sosial, Anda dapat menjadi sukarelawan tenaga penyuluhan yang sesuai dengan bidang Anda. Cetak dan sebarkan buku-buku yang menambah pengetahuan.
  4. Bila ada orang yang sakit liver atau hati dan tidak mampu (namun tentunya dalam menyumbang sebaiknya jangan membeda-bedakan penyakit yang diderita seseorang) Anda dapat menyumbangnya. Jika kebetulan Anda mengenal pasien sakit liver yang tidak mampu dan Anda tergerak menolongnya, dimana kebetulan pula elemen Kayu baik bagi Anda, maka inilah kesempatan melakukan kebajikan besar. Jangan lewatkan kesempatan luar biasa ini. Mengapa liver atau hati? Jawabannya karena menurut metafisika China, liver berelemen atau berunsur Kayu. Tapi ingat jangan sengaja hanya mencari yang sakit liver atau hati saja. Dalam menolong sesama jangan membeda-bedakan apa penyakitnya. Kalau Anda hanya mau menolong orang yang sakit tertentu saja demi meningkatkan elemen keberuntungan Anda semata, maka itu justru memberikan dampak sebaliknya karena berarti Anda telah bersifat egois serta tidak tulus.
  5. Menyumbang perkakas atau perabotan bagi mereka yang memerlukannya.

.

ELEMEN AIR

.

  1. Menyumbang minuman ke mereka yang memerlukan atau saat acara-acara sosial tertentu. Sebagai contoh, saat ada bakti sosial Anda dapat menyumbang minumannya. Begitu pula ke tempat-tempat ibadah dan panti-panti sosial. Apabila Anda menganut Agama Buddha, maka dapat mempersembahkan air atau minuman ke altar. Tentu saja minuman di sini adalah yang menyehatkan dan baik.
  2. Menyumbangkan sabun dan perlengkapan pembersih lainnya ke mereka yang membutuhkannya. Di masa sekarang, masih ada orang yang tidak mampu membeli sabun akibatnya mereka mandi kurang bersih dan dapat terjangkit penyakit kulit. Oleh karenanya, jika mampu Anda boleh menyumbang sabun dan perlengkapan mandi ke mereka yang memerlukannya secara berkala. Bukankah Anda juga mandi setiap hari?
  3. Membayar rekening air bagi mereka yang tidak mampu. Sebagai contoh, ada tetangga Anda yang tidak mampu membayar rekening air, Anda dapat membantu menyumbangnya sehingga dapat melunasi tunggakan tersebut. Anda dapat juga membayar rekening air bagi panti-panti sosial, tempat ibadah, dan lain sebagainya.
  4. Membersihkan selokan. Di musim hujan, terutama di daerah perkotaan banyak selokan yang mampet sehingga rentan menimbulkan bahaya banjir dan wabah penyakit. Jika Anda sanggup maka dapat melakukan pembersihan itu sendiri atau membayar orang lain melakukannya. Siapakah yang beruntung bila selokan lancar? Tidakkah Anda juga merasakan manfaatnya?
  5. Bila ada orang yang sakit ginjal (misalnya harus cuci darah) dan tidak mampu (namun tentunya dalam menyumbang sebaiknya jangan membeda-bedakan penyakit yang diderita seseorang) Anda dapat menyumbangnya. Jika kebetulan Anda mengenal pasien sakit ginjal yang tidak mampu dan Anda tergerak menolongnya, dimana kebetulan pula elemen Air baik bagi Anda, maka inilah kesempatan melakukan kebajikan besar. Jangan lewatkan kesempatan luar biasa ini. Mengapa ginjal? Jawabannya karena menurut metafisika China, ginjal berelemen atau berunsur Air. Tapi ingat jangan sengaja hanya mencari yang sakit ginjal saja. Dalam menolong sesama jangan membeda-bedakan apa penyakitnya. Kalau Anda hanya mau menolong orang yang sakit tertentu saja demi meningkatkan elemen keberuntungan Anda semata, maka itu justru memberikan dampak sebaliknya karena berarti Anda telah bersifat egois serta tidak tulus.

.

ELEMEN LOGAM

.

  1. Anda dapat menyumbang membantu perbaikan rumah orang yang membutuhkan. Ingat bahwa perkakas pertukangan terbuat dari logam. Anda dapat membantu memperbaiki panti-panti sosial dan rumah-rumah ibadah yang kondisinya memprihatinkan. Anda boleh melakukannya sendiri bila mampu atau menyuruh orang lain. Di zaman sekarang banyak panti sosial yang kondisinya memprihatinkan. Bila mampu mengapa Anda tidak tergerak membantu memperbaikinya?
  2. Menyumbang perkakas atau mesin bagi usaha kecil yang membutuhkannya. Banyak orang sebenarnya rajin dan ingin berusaha, tetapi mereka tidak mampu membeli peralatannya. Oleh karenanya, Anda dapat membantu mereka dengan menyediakan perkakasnya.
  3. Menyumbang fasilitas kesehatan bagi mereka yang memerlukannya. Fasilitas-fasilitas atau alat-alat kesehatan itu sebagian besar terbuat dari logam, sehingga dengan demikian berelemen Logam.
  4. Bila ada orang yang sakit paru-paru dan tidak mampu (namun tentunya dalam menyumbang sebaiknya jangan membeda-bedakan penyakit yang diderita seseorang) Anda dapat menyumbangnya. Jika kebetulan Anda mengenal pasien sakit paru-paru yang tidak mampu dan Anda tergerak menolongnya, dimana kebetulan pula elemen Logam baik bagi Anda, maka inilah kesempatan melakukan kebajikan besar. Jangan lewatkan kesempatan luar biasa ini. Mengapa paru-paru? Jawabannya karena menurut metafisika China, paru-paru berelemen atau berunsur Logam. Tapi ingat jangan sengaja hanya mencari yang sakit paru-paru saja. Dalam menolong sesama jangan membeda-bedakan apa penyakitnya. Kalau Anda hanya mau menolong orang yang sakit tertentu saja demi meningkatkan elemen keberuntungan Anda semata, maka itu justru memberikan dampak sebaliknya karena berarti Anda telah bersifat egois serta tidak tulus.

.

ELEMEN TANAH.

.

  1. Menyumbang lahan untuk keperluan sosial yang bermanfaat bagi banyak orang, seperti panti-panti sosial, rumah sakit, sekolah, dan lain sebagainya. Anda dapat mendirikan rumah bagi mereka yang kurang mampu.
  2. Menyumbang untuk perbaikan jalan. Jalan yang rusak membahayakan banyak orang, bahkan termasuk Anda sendiri. Apabila Anda mampu, Anda dapat membantu memperbaiki jalan, baik dilakukan sendiri atau membayar jasa orang lain. Menyingkirkan pecahan kaca atau paku dari jalan juga termasuk dalam hal ini. Bayangkan bagaimana rasanya jika kaki atau ban kendaraan Anda terkena paku?
  3. Menyumbang bahan-bahan bangunan bagi mereka yang memerlukan.
  4. Bila ada orang yang sakit organ pencernaan dan tidak mampu (namun tentunya dalam menyumbang sebaiknya jangan membeda-bedakan penyakit yang diderita seseorang) Anda dapat menyumbangnya. Jika kebetulan Anda mengenal pasien sakit organ pencernaan yang tidak mampu dan Anda tergerak menolongnya, dimana kebetulan pula elemen Tanah baik bagi Anda, maka inilah kesempatan melakukan kebajikan besar. Jangan lewatkan kesempatan luar biasa ini. Mengapa organ pencernaan? Jawabannya karena menurut metafisika China, organ pencernaan berelemen atau berunsur Tanah. Tapi ingat jangan sengaja hanya mencari yang sakit organ pencernaan saja. Dalam menolong sesama jangan membeda-bedakan apa penyakitnya. Kalau Anda hanya mau menolong orang yang sakit tertentu saja demi meningkatkan elemen keberuntungan Anda semata, maka itu justru memberikan dampak sebaliknya karena berarti Anda telah bersifat egois serta tidak tulus.

.

Demikian kias-kias berdasarkan elemen keberuntungan Anda. Tentu saja dalam melakukan kebajikan disesuaikan pula dengan kemampuan Anda. Jumlahnya tidak harus besar. Apabila Anda hanya mampu menyumbang sepotong bata atau segelas air minum saja, maka asalkan dilakukan dengan tulus dan penuh kesungguhan hati, maknanya akan besar. Bukankah sebuah bangunan atau rumah sebesar apa pun, dibentuk dari sepotong demi sepotong bata. Jangan remehkan kebajikan walau sekecil apa pun dan jangan pula anggap enteng suatu kejahatan walau sekecil apa pun. Pohon yang besar tumbuh dari biji yang kecil. Satu hal lagi yang perlu diingat, pembagian berdasarkan elemen itu hanya sekedar pengetahuan dan penuntun saja. Namun dalam melakukan kebajikan jangan pilih-pilih yang sesuai dengan elemen keberuntungan Anda semata. Yang penting perlu ketulusan dan kesungguhan. Maksudnya adalah sebagai berikut. Apabila Anda berjumpa dengan kesempatan berbuat baik, tetapi tidak sesuai dengan elemen Anda, maka tetap saja lakukan. Anda tetap akan mendapatkan manfaatnya. Jadi Anda sebaiknya jangan berpikir, “Oh saya hanya mau melakukan kebajikan terkait elemen Api saja, karena Api merupakan elemen baik saya.” Ini adalah pandangan salah dan tidak akan membawa pada hasil terbaik. Biarkan segalanya berlangsung secara alami. Tiap ada kesempatan berbuat baik yang datang, manfaatkanlah hal itu meski bukan terkait elemen baik Anda. Jika kesempatan itu kebetulan sesuatu dengan elemen baik Anda, maka baiklah hal tersebut; namun bila tidak tetap lakukan. Apabila Anda sedang kelaparan, dan hanya ada satu-satunya makanan, meski tidak menyukainya bukankah Anda tetap menyantapnya? Ataukah Anda akan membiarkan diri Anda tetap kelaparan sambil menunggu datangnya makanan Anda sukai yang tidak tentu kapan munculnya?

.

Sekedar berbagi pengalaman, dalam berbuat baik saya tidak pernah sengaja memilih yang ada kaitannya dengan elemen keberuntungan saya. Kesempatan berbuat baik apa pun yang hadir, perlu kita manfaatkan. Namun tidaklah salah, jika Anda sudah memenuhi seluruh kesempatan berbuat baik yang ada dan sebagai tambahan Anda ingin mencari tambahan perbuatan bajik dengan yang sesuai dengan elemen Anda. Namun yang patut diingat, manfaatkanlah seluruh kesempatan yang hadir secara alami ke hadapan Anda terlebih dahulu, baru setelah itu mencari tambahan berikutnya. Ibaratnya, sebelum dapat mengerjakan aktifitas lainnya, Anda perlu menyelesaikan segenap tugas sekolah Anda terlebih dahulu. Jangan tugas sekolah itu malah diabaikan dan Anda mengerjakan kegiatan lainnya.

.

Berbuat kebajikan adalah kias atau ciswa super dashyat. Perbuatan baik dapat mengubah dunia, bukankah karena itu layak disebut dashyat? Ini adalah sesuatu yang logis dan tidak dibuat-buat. Saya adalah orang yang logis dan segala sesuatu baru dapat saya terima bila masuk akal.

.

Apabila Anda ingin berbuat kebajikan yang tidak mengeluarkan biaya, Anda dapat juga membagikan artikel ini. Mendorong orang lain berbuat baik adalah juga kebajikan. Jika Anda sering mengeluh, “Aku tidak mempunyai uang, bagaimana dapat berbuat baik?” Kini ada kesempatan berbuat baik, mengapa Anda tidak manfaatkan? Jika Anda membaca dan mempelajari sesuatu yang bermanfaat, namun setelah itu tidak membagikannya, maka Anda termasuk orang berjiwa pelit serta mementingkan diri sendiri. Bagaimana mungkin Anda mengharapkan kebahagiaan bagi diri Anda? Bahkan Anda telah menciptakan suatu hutang yang kelak harus Anda lunasi di masa mendatang. Ingat bahwa membagikan artikel atau tulisan bermanfaat yang menganjurkan perbuatan bajik janganlah dianggap remeh. Jika ada 10 orang saja yang terinspirasi dan mereka masing-masing melakukan lagi kebajikan bagi 10 orang lain, maka akan ada 100 orang yang mendapatkan manfaatnya. Bagaimana jika 100 orang itu masing-masing melakukan kebajikan lagi terhadap 10 orang lainnya? Akan ada 1.000 orang yang mendapatkan manfaatnya. Demikianlah jumlahnya akan terus bergulir semakin besar. Jika Anda tidak segan-segan membagikan artikel hoax, caci-maki, atau tidak bermanfaat, mengapa Anda enggan membagikan sesuatu yang sungguh-sungguh bermanfaat? Hutang bagi kemanusiaan itu akan Anda tanggung di kehidupan Anda. Jadi, jangan mengeluh bila hidup Anda semakin bertambah susah karena sikap egois Anda. Jangan hanya baca bagi diri sendiri, tetapi bagikan dan sebar luaskan.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

.

 

 
 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Advertisements

MEMBUANG DIRI SENDIRI-SUATU RENUNGAN ATAS VASALA SUTTA (SALAH SATU BAGIAN SUTTA NIPATA)

MEMBUANG DIRI SENDIRI-SUATU RENUNGAN ATAS VASALA SUTTA (SALAH SATU BAGIAN SUTTA NIPATA)

.

Ivan Taniputera.

14 Juni 2017.

.

Pada kesempatan kali ini, kita akan melakukan renungan terhadap Vasala Sutta yang menjadi bagian Sutta Nipata. Kita akan menarik berbagai intisari ajaran yang terdapat di dalamnya.

.

Pertama-tama, pada sutta ini Buddha mengajarkan bahwa mulia dan tidaknya seseorang bukan diperoleh atas dasar keturunan, melainkan atas perilaku luhur yang dimilikinya.

.

Agar dapat memahami sutta ini lebih baik, maka kita perlu sedikit mengenal latar belakang tradisi yang berlaku di India pada masa tersebut. Terdapat sekelompok orang yang disebut “kaum terbuang.” Mereka ini adalah orang-orang yang para leluhurnya dahulu pernah melakukan suatu kesalahan, sehingga akhirnya dikeluarkan dari masyarakat. Kaum ini menempati lapisan paling bawah atau rendah pada jenjang hirarki sosial di India. Mereka akan dijauhi dan dianggap hina, serta sering diperlakukan tidak baik.

.

Oleh karenanya, Hyang Buddha lalu mengajarkan apakah sesungguhnya yang dimaksud “kaum terbuang” itu. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

.

Pertama-tama, Hyang Buddha membabarkan ajaran dalam bentuk syair, bahwa orang penuh amarah, dendam, berjiwa munafik, dan berpandangan salah adalah “kaum terbuang” yang sesungguhnya.

.

Orang yang mencelakai makhluk lain tanpa berbelas kasihan adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.

Orang yang melakukan pembantaian (genosida), membawa kehancuran, dan penindasan adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.

Orang yang mencuri milik orang lain adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.

Orang yang mengingkari hutang-hutangnya (berhutang tetapi sewaktu ditagih ia menyatakan tidak berhutang atau menolak membayar) adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.

Orang yang tidak menyantuni mereka yang patut menerimanya padahal mempunyai harta kekayaan berlimpah adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.

Orang yang tidak menghormati mereka yang patut dihormati dan bahkan mencelanya adalah “kaum terbuang” sesungguhnya.

.

Dengan demikian “terbuang” dan tidaknya seseseorang semata-mata ditentukan oleh perilakunya sendiri. Kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya seseoranglah yang telah membuang dirinya sendiri melalui perilaku buruk dan tidak layak. Agar dapat menuai keberuntungan dan keberhasilan dalam hidup, kita hendaknya senantiasa waspada serta mawas diri. Jangan sampai kita “membuang” diri kita sendiri.

.

Demikianlah sedikit renungan kita atas Vasala Sutta.

RENUNGAN AJARAN DEWA TAN TIK SIOE

RENUNGAN AJARAN DEWA TAN TIK SIOE.

.

Ivan Taniputera.

14 Juni 2017.

.

Pada kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas mengenai ajaran Dewa Tan Tik Sioe:

.

“Kita ada mempoenjai saboewa roema bogrek djanganlah aken memandeng roema bagoes.” (Dewa Tan Tik Sioe pada Moestika Adem Hati, 1917).

.

Apabila kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia modern kurang lebih adalah:

.

“Jika kita memliki rumah yang buruk janganlah mengharapkan rumah mewah.”

.

Berdasarkan ajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kita hendaknya tidak merasa putus asa bila tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Banyak orang mengharapkan hasil yang tinggi namun sewaktu ambisinya tidak tercapai ia menjadi sangat tertekan. Oleh karenanya, kita perlu bersuka cita apa pun hasil yang dicapai.

.

Meskipun demikian, ajaran di atas tidak menyatakan agar kita mudah berpuas diri. Apabila kita merasa atau menganggap rumah kita buruk, tidaklah salah mengharapkan rumah yang lebih baik. Namun berharap saja tidak cukup. Kita perlu berupaya mewujudkannya dengan memanfaatkan segenap kemampuan beserta sumber daya yang kita miliki. Yang penting adalah kita berupaya sebaik mungkin, tetapi apa pun hasilnya perlu kita terima dengan suka cita.

.

Kita dapat menafsirkan ajaran di atas bahwa bila kita menabur sesuatu yang buruk janganlah mengharapkan yang baik. Dalam dunia karir dan usaha, tidak jarang orang saling menjegal serta merugikan satu sama lain. Namun sesuatu yang diperoleh dengan merugikan hak orang lain, tidak akan membuahkan kebaikan. Sesuatu yang buruk mustahil menghasilkan kebaikan. Jika ada sesuatu yang seolah-olah nampak sebagai kebaikan atau kebahagiaan, maka semua itu hanya sementara saja sifatnya.

.

Demikianlah sedikit renungan kita terhadap ajaran Dewa Tan Tik Sioe.

RENUNGAN BUAH CERI DAN PUDING: SUATU TELAAH FILSAFAT KULINER

RENUNGAN BUAH CERI DAN PUDING: SUATU TELAAH FILSAFAT KULINER.

.

Ivan Taniputera.

18 Juni 2016

.

 
 

.

Hari ini saya akan mengajak para pembaca sekalian merenungkan mengenai buah ceri dan puding yang barangkali dapat mendatangkan manfaat dalam kehidupan ini. Jikalau kita mencoba memandang dunia dari sisi buah ceri sebagaimana tampak pada gambar di atas, maka wawasan buah ceri itu hanya akan sebatas puding dan pinggiran gelas. Apabila buah ceri tidak bersedia meluaskan wawasannya, maka hanya sebatas itu sajalah jangkauan pandangannya. Ia hanya akan dibatasi oleh puding dan tepian gelas saja. Tetapi jika ia bersedia memandang lebih jauh dari semua itu, maka wawasannya juga akan luas.

.

Begitu pula orang yang tidak bersedia meluaskan jangkauan pandangannya akan mempunyai wawasan sempit dan terbatas. Wawasan semacam itu hanya akan mengakibatkan keterbatasan bagi diri sendiri dan kegagalan memahami segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih besar.

.

Bagi ceri tersebut segala sesuatu hanya dinilai berdasarkan puding dan tepian gelas. Ia mungkin tidak mengetahui bahwa masih banyak makanan pencuci mulut lainnya, seperti es krim, es campur, nagasari, klepon, dan lain sebagainya. Ia akan menganggap bahwa satu-satunya yang ada dan benar adalah puding dan tepian gelas selaku pembatas cakrawala pemahamannya. Pandangan sempit bisa mengakibatkan fanatisme membuta yang tidak jarang menimbulkan bahaya besar bagi dunia ini.

.

Salah satu perwujudannya adalah nasionalisme sempit dan xenofobia, yang telah memicu perang-perang besar; begitu pula dengan penganiayaan karena agama. Agama yang seharusnya mendatangkan perdamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia justru mengakibatkan pertumpahan darah. Semuanya diakibatkan oleh ketidak mampuan meluaskan wawasan kita.

.

Misalkan ada ceri lain yang telah melanglang dapur dan seluruh rumah makan tersebut datang serta masuk ke dalam gelas tersebut, lalu berkata pada ceri pertama bahwa masih terdapat hal-hal selain puding dan tepian gelas, maka mungkin sekali ceri pertama tadi akan melabeli ceri kedua sebagai sesat. Hal-hal di luar puding dan tepian gelas dianggap sebagai tidak masuk akal oleh ceri pertama. Ceri kedua tadi pastilah sesat atau gila karena mengatakan sesuatu yang tidak ada dari sudut pandang ceri pertama. Jika ceri pertama cukup beruntung, maka ia akan bersedia dan berani keluar dari gelas serta menjelajah sendiri seluruh dapur dan rumah makan, bila perlu seluruh dunia beserta jagad raya, barulah dengan demikian ia akan memahami keterbatasan pandangannya selama ini.

.

Namun berapa banyak umat manusia yang seberuntung dan seberani ceri pertama tadi? Seberapa banyak di antara umat manusia berani keluar dari kungkungan batasan cakrawala pemahamannya selama ini? Marilah kita renungkan.

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

.

Ivan Taniputera.

14 Mei 2016

.

Beberapa waktu yang lalu saya menampilkan teka teki labirin berikut ini.

.

 

 

.

Carilah jalan dari tanda panah hijau bertulisan “mulai” menuju ke “tujuan” di bagian tengah. Semua orang yang mencoba memecahkan teka-teki ini mengalami kebuntuan. Sebenarnya, tujuan teka-teki labirin ini adalah mengajak kita semua merenungkan beberapa pelajaran berharga.

.

Sebelumnya, saya akan memuat terlebih dahulu gambar jawaban teka-teki labirin di atas.

.

 

Jadi jelas sekali, jika Anda cermat dan sanggup menemukan garis-garis berwarna biru di atas, maka nampak bahwa “tujuan” itu mustahil dicapai. Bagian “tujuan” itu sebenarnya tertutup atau terhalang dari semua sisi. Dengan demikian, “tujuan” itu tidak mungkin dicapai dari mana pun juga (dalam hal ini dari arah luar). Garis berwarna oranye memperlihatkan bahwa ke arah mana pun Anda bergerak, akhirnya akan kembali ke titik “mulai” lagi.

.

Apakah pelajaran yang dapat kita ambil?

.

Pertama, banyak orang (atau mungkin semua orang) menjadikan “kebahagiaan” sebagai tujuan dalam hidupnya. Siapakah yang tidak ingin bahagia? Namun tidak sedikit orang menjadikan sesuatu di luar dirinya sebagai sumber kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau sudah mempunyai ini atau itu. Tetapi semua itu, ternyata tidak menjadikannya bahagia, karena keinginan manusia itu ibarat sumur tidak berdasar. Meski telah mendapatkan sesuatu, seseorang pasti mendambakan hal lainnya lagi. Sesudah lulus SD, orang ingin lulus SMP. Sesudah lulus SMP, seseorang ingin lulus SMU. Setelah mendapatkan ini, ia ingin mendapatkan itu. Polanya terus berulang bagaikan lingkaran setan. Ia terus terjerumus pada keinginan berikutnya, yakni suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupannya. Tujuan berupa kebahagiaan itu terus menerus ingin dicapainya, namun tidak pernah berhasil. Ia terus menerus berputar-putar mencari tujuan itu, namun anehnya tetap kembali ke titik awal. Hal inilah yang digambar oleh garis-garis oranye pada gambar di atas. Ke manapun Anda pergi, Anda akan tiba pada titik awal.

.

Akhirnya, ia menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicapai dari luar. Kebahagiaan itu seharusnya sudah ada di dalam, hanya saja terdapat tembok pemisah yang tidak tertembus.

.

Pelajaran kedua, terkadang pemecahan suatu masalah itu justru berada pada titik awal masalah itu sendiri. Ke mana pun Anda berlari mencari pemecahannya, Anda akhirnya pada titik awal pencarian Anda.

.

Begitu pula orang yang mencari suatu pencerahan spiritual, akhirnya harus kembali pada dirinya sendiri. Pencerahan spiritual di luar dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Akhir pencarian akhirnya adalah diri sendiri., yakni titik awal pencarian itu sendiri.

.

Demikianlah renungan berharga berasal dari teka-teki labirin ini. Selamat berakhir pekan.

TERJEMAHAN BEBAS SEBAIT KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

TERJEMAHAN BEBAS SEBAIT KIDUNG RUMEKSA ING WENGI

Ivan Taniputera.

17 Februari 2016

.

Kidung ini merupakan buah karya Kanjeng Sunan Kalijaga.

 

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunaning wong luput

Geni atemehan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

.

 

TERJEMAHAN BEBAS:

.

 

Terdengar lantunan kidung di malam hari

Selamat sentosa terbebaslah dari penyakit

Terbebaslah dari seluruh bahaya

Jin dan setan urun datang

Ilmu hitam (teluh/ santet) tidak ada yang mempan

Segenap perbuatan buruk

Ilmu hitam akan sirna

Laksana Api bertemu Air

Pencuri menjauh dan tidak ada yang menyasar padaku

Ilmu hitam tunduk dan lenyap

BUKU KARYA DEWA TAN TIK SIOE (TAN TIK SIOE SIAN) TENTANG KEBATINAN, RESEP OBAT TIONGHOA, DAN LAIN SEBAGAINYA

BUKU KARYA DEWA TAN TIK SIOE  (TAN TIK SIOE SIAN) TENTANG KEBATINAN, RESEP OBAT TIONGHOA, DAN LAIN SEBAGAINYA

Ivan Taniputera

2 September 2015

.

Judul: Rasa Sedjati: Boengah Tjepaka Tjina Java, Ilmoe Woelang Hoetomo Wilis Adem Hati

Penulis: Tan Tik Sioe Sian (Dewa Tan Tik Sioe, 1884-1929)

Jumlah halaman: 115

Buku ini berisikan berbagai macam hal, seperti resep obat dan nasihat-nasihat kebatinan beserta spritualisme.

Berikut ini adalah contoh halaman yang berisikan resep obat.

Seperti pada gambar di atas, maka resep obat itu tercantum dalam aksara Tionghoa, dengan sedikit keterangan di bawahnya. Terdapat sekitar 30 resep obat.

Selanjutnya terdapat berbagai syair nasihat.

“ikan moong sing di poelo batoe,

ikan bader, tambang, segaran,

oentoeng roegi, dijawamoe itoe,

hatimoe keder, djadi seselan.” (halaman 28).

Terdapat pula nasihat:

“Djangan pertjajakin segala kitab-kitab goeroe-goeroe-goeroe nenek goeroe, pertjajakinlah timboel dari hatimoe sendiri.”

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.