RAMALAN TENTANG PENGALAMAN ANEH SEORANG SAHABAT: DUPA YANG TERPENTAL JAUH

RAMALAN TENTANG PENGALAMAN ANEH SEORANG SAHABAT: DUPA YANG TERPENTAL JAUH.

.

Ivan Taniputera.

19 November 2017.

.

Salah seorang sahabat menuturkan pengalaman anehnya. Dupa yang ditancapkannya di altar tiba-tiba dapat terpental jauh. Setelah mengamati gambar yang diberikannya, saya berpendapat bahwa hal itu mustahil terjadi. Waktu itu sehabis menancapkan dupa di altar, ia meninggalkan tempat tersebut sejenak untuk suatu keperluan. Saat kembali, ia terkejut karena menyaksikan dupanya telah jatuh terpental agak jauh dari altar. Apabila jatuhnya di dekat altar, maka hal tersebut masih mungkin terjadi. Untuk jelasnya silakan perhatikan gambar-gambar di bawah ini.

.

Gambar altar adalah sebagai berikut.

.

 

 

.

Selanjutnya, lokasi jatuhnya dupa adalah seperti gambar di bawah ini.

.

 

 
 

Nampak lokasi jatuhnya dupa yang jauh dari altar. Apabila kita boleh kaitkan dengan ilmu fisika, maka sebuah benda dapat jatuh pada lokasi sejauh itu, pasti terdapat kecepatan awal yang mendorongnya agar tiba di sana. Apabila jatuh dengan sendirinya pasti tidak akan jauh-jauh dari altar atau paling tidak adalah tepat di bawah altar. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan pasti ada sesuatu kekuatan yang menyebabkannya. Sulit menemukan penjelasan ilmiah bagi hal ini.

.

Guna menelaah mengenai peristiwa tersebut, terlintas dalam pikiran saya untuk menggunakan metoda ramalan Horary Astrology. Saya lalu membuat bagan Horary Astrology sebagai berikut.

.

 
 

.

Saya menafsirkan bagan di atas sebagai berikut. Memang pada saat itu di tempat sahabat tersebut sedang terjadi kunjungan beberapa Spirit. Menurut perhitungan saya ada empat Spirit. Yang pertama wujudnya adalah seperti seorang pertapa. Kedua, seorang wanita muda. Ketiga, seorang pria yang wujudnya gagah. Keempat seorang wanita paruh baya. Kemungkinan pria gagah itu adalah seorang raja; sedangkan wanita paruh baya adalah permaisurinya. Wanita muda itu adalah putri mereka. Berdasarkan pemusatan pemikiran yang saya lakukan, saya mendapatkan gambaran mengenai wujud mereka namun tidak begitu jelas. Sosok pertapa itu sudah tua dengan rambut memutih. Mungkin ia adalah penasihat spiritual bagi raja beserta keluarganya. Sementara itu, sosok pria gagah tersebut nampak mengenakan semacam ikat kepala yang indah.

.

Mungkin sahabat itu baru saja mengadakan perjalanan ke tempat bersemayamnya para Spirit tersebut. Mungkin juga ia berjanji sesuatu, sehingga mereka berkunjung atau mengikutinya. Spirit-spirit tersebut termasuk makhluk halus tingkat tinggi dan mempunyai energi yang kuat. Terbukti dari dupanya yang dapat terpental cukup jauh.

.

Nampaknya mereka hadir ingin mendengarkan lantunan ajaran-ajaran suci. Oleh karenanya, saya lalu menyarankan pada sahabat tersebut agar melafalkan paritta beserta sutta-sutta agak panjang. Memang berdasarkan sutta-sutta Agama Buddha, para dewa juga sering turun mendengarkan ajaran Hyang Buddha.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . . . . . . . . . . . . . 

.

 

 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Advertisements

MAKNA GAMBAR PADA KAIN PENUTUP ATAU PENGHIAS ALTAR

MAKNA GAMBAR PADA KAIN PENUTUP ATAU PENGHIAS ALTAR.

.

Ivan Taniputera.

5 September 2017

.

Banyak orang sering menanyakan makna gambar pada kain penutup atau penghias altar. Kain tersebut disebut 壇布 (Tanbu) atau Tokwi dalam dialek Hokkian. Tan sendiri berarti “altar,” sedangkan bu berarti “kain.” Kegunaan kain ini adalah sebagai hiasan saja. Oleh karenanya, jika tidak mempergunakan kain altar juga tidak masalah.

.

 
 

.

Kini kita akan mengulas makna gambar pada kain altar di atas.

Bagian A memuat gambar Delapan Dewa, yang umum dikenal sebagai Baxian (八仙) atau Pat Sian dalam dialek Hokkian. Kedelapan Dewa itu adalah:

1.Cao Guojiu (曹國舅)

2. Lan Caihe (藍采和).

3. Zhongli Quan (鐘離權).

4. He Xiangu (何仙姑)

5. Li Tieguai (李鐵拐)

6. Han Xiangzi (韓湘子)

7. Lü Dongbin (呂洞賓)

8. Zhang Guolao (張果老)

.

Bagian B memuat gambar tiga dewa Fulushou (福祿壽), yang melambangkan keberuntungan, kedudukan, dan panjang usia. Ketiganya juga disebut Tiga Bintang atau 三星 (Sanxing). Gambar paling kanan menggambarkan Fu (Keberuntungan); tengah Lu (Kedudukan); dan paling kiri Shou (Panjang Usia).

.

Riwayat Delapan Dewa dan Fulushou sudah banyak dibahas di tempat lainnya. Oleh karenanya, saya tidak akan membahas hal tersebut lebih jauh. Tujuan artikel ini hanyalah memperkenalkan saja makna gambar pada kain penutup altar.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . . . .

.

 

 
 
 

. . PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

MERENUNGKAN MAKNA ALTAR

MERENUNGKAN MAKNA ALTAR

.

18 Desember 2016

Ivan Taniputera.

.

.

Pada kesempatan kali ini kita membahas mengenai makna altar. Yang Arya Dogen Zenji (道元禅師, 1200-1253), seorang mahaguru aliran Zen menyatakan bahwa membangun altar adalah menumpuk stupa di atas stupa guna menciptakan stupa. Dengan kata lain, ia adalah menyusun Buddha di atas Buddha, demi menghadirkan sesosok Buddha. Ada pun yang dimaksud menghadirkan sesosok Buddha adalah merealisasi Kebuddhaan. Dalam hal ini, membangun altar adalah suatu latihan spiritual. Oleh karenanya, membangun altar harus disertai dengan latihan spiritual, yakni pemurnian, pengorbanan, dan disiplin. Tanpa latihan spiritual, maka manfaat yang diperoleh akan kecil. Namun semakin kuat disiplin spiritual, pemusatan pikiran, dan kebijaksanaan dapat direalisasi, semakin kuat pula perubahan energi kebiasaan kita. Bersamaan dengan itu, altar juga akan semakin kuat dan mantap kekuatannya. Lebih jauh lagi, dari sisi Kebenaran Pamungkas (paramartha), altar yang kasat mata itu pun tidak mempunyai hakikat nyata serta bertahan selamanya. Itulah sebabnya, altar dikatakan sebagai semata-mata perwujudan pikiran. Keberadaan dan waktu hanya hadir dalam pikiran.

.

Menyusun altar juga berarti menyusun mandala, yakni model kosmologi alam semesta; baik itu menurut Daoisme, Buddhisme, atau kepercayaan lainnya. Sebagai contoh, dalam Daoisme, altar pasti berisikan simbolisme lima unsur atau elemen; yakni Api, Tanah, Logam, Air, dan Kayu. Sementara itu, dalam Buddhisme khususnya aliran Tantrayana, elemennya adalah: Angkasa, Angin, Api, Air, dan Tanah. Menurut Daoisme; elemen Api berwarna merah; elemen Tanah berwarna kuning; elemen Logam berwarna putih; elemen Air bewarna hitam; dan Kayu berwarna Hijau. Dalam Buddhisme, elemen Akasa bewarna Biru; elemen Angin berwarna hitam; elemen Api berwarna merah; elemen Air berwarna putih; elemen Tanah bewarna kuning. Terdapat persamaan dan perbedaan di sini. Tetapi perbedaan bukanlah masalah, karena intinya adalah sama, yakni menyusun model alam semesta; dimana alam semesta diyakini tersusun dari elemen-elemen tersebut.

.

Lebih jauh lagi, karena merupakan susunan model alam semesta, maka altar juga terkait dengan perbintangan. Sebagai contoh adalah rasi bintang Beruang Besar, yang di China dikenal sebagai Gantang Utara ( 北斗 Beidou). Gugusan bintang ini merupakan sesuatu yang penting dalam tradisi Daoisme dan Buddhisme. Bahkan titik tetap selaku sumbu putar Gantang Utara disebut sebagai “Gerbang Kehidupan” menurut tradisi Daoisme. Segenap kekuatan gaib atau magis diyakini mengalir dari gugusan bintang tersebut. Selanjutnya adalah planet-planet yang diyakini terkait dengan berbagai elemen sebagaimana telah disebutkan di atas. Sebagai contoh, Mars terkait elemen Api; Yupiter terkait elemen Kayu; dan lain sebagainya.

.

Elemen-elemen ini melambangkan berbagai aspek kehidupan. Penjelasannya agak rumit sehingga tidak akan ditampilkan pada artikel ini. Namun intinya adalah, setiap makhluk dan aspek kehidupan apa pun merupakan penggabungan dan penguraian elemen-elemen yang berlangsung terus menerus. Dengan demikian, tidak ada yang kekal. Ada penggabungan akan ada penguraian; Penggabungan hanya mungkin terjadi karena ada penguraian. Demikianlah berlangsung terus menerus. Melalui perenungan prinsip ini secara seksama, kita menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang kekal dan akan senantiasa berubah. Ternyata hal ini juga sejalan dengan ilmu fisika. Energi senantiasa berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya. Jadi kita boleh mengatakan bahwa dengan menyusun model alam semesta, kita secara tidak langsung telah mempelajari ilmu fisika.

.

Ternyata pandangan altar selaku model alam semesta tidak hanya dikenal di dunia Timur saja. Di Yunani, alam semesta dipandang sebagai bentuk geometri dan angka (numerologi). Hal ini nampak ajaran Pythagoras, salah seorang ahli filsafat dan matematika, terkemuka. Warisan Phythagoras yang terkenal adalah teoremanya terkait segitiga siku-siku. Altar di Yunani kuno dibangun berdasarkan kaidah-kaidah ukuran dan bentuk-bentuk geometri tertentu; dimana prinsip semacam itu juga tidak asing pada mandala Buddhisme Tibet. Tidak berbeda dengan dunia Timur, tradisi di Barat juga mengenal pelafalan mantra-mantra, penggunaan numerologi tertentu, dan pengetahuan rahasia terkait bintang beserta planet.

.

Berdasarkan data-data di atas, kita dapat menyimpulkan adanya suatu benang merah atau keterkaitan antara tradisi spiritual Barat dan Timur. Terdapat suatu prinsip universal yang melatar belakangi segala sesuatu. Demikianlah sekilas pengenalan kita mengenai makna altar.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . . 

 

 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

TATA CARA MENENTUKAN ARAH ALTAR SEMBAHYANG

TATA CARA MENENTUKAN ARAH ALTAR SEMBAHYANG
.
Ivan Taniputera
20 Maret 2014
.
Tata cara menentukan arah altar sembahyang itu ada banyak. Saya akan memaparkan beberapa di antaranya.
 
1.Berdasarkan shio
 
Cara yang paling sederhana adalah berdasarkan shio kita. Ada pun diagram arahnya adalah seperti gambar di bawah ini.
 
 
 
Jadi orang yang bershio tikus, maka altar sembahyangnya menghadap ke utara dan seterusnya.
 
2.Berdasarkan unsur yang baik
 
Ini harus dianalisa dengan metoda bazi. Jika sudah diperoleh unsur yang baik, maka baru dicari arahnya.
Berikut ini adalah tabel arah berdasarkan unsurnya. 
 
  • Timur – Kayu
  • Selatan – Api
  • Barat – Logam
  • Utara- Air
 
Sebagai contoh, orang yang elemen baiknya adalah kayu, maka dia dapat bersembahyang atau membuat altar menghadap ke timur.
 
3.Kaidah-kaidah Fengshui
 
Berikut ini adalah hal-hal yang patut diperhatikan:
 
  • Altar hendaknya tidak menghadap kamar mandi atau WC.
  • Altar tidak ditempatkan di kamar tidur, atau jika tinggal di kost, maka sebaiknya altar berada dalam lemari. Jadi jika tidak bersembahyang, maka altar bisa ditutup.
  • Jika menggunakan metoda Bintang Terbang (Feixing), maka altar justru ditempatkan pada lokasi-lokasi yang “buruk.” Lokasi-lokasi atau sektor baik biasanya digunakan sebagai kamar tidur atau tempat kerja.
  • Altar dewa tidak boleh langsung menghadap pintu utama, tetapi altar leluhur boleh.
  • Kaki saat tidur tidak boleh menghadap altar.
 
  • Altar tidak boleh di bawah tangga.
  • Di depan altar tidak boleh ada tangga, baik tangga naik atau turun.
4,Kaidah-kaidah tertentu Terdapat kepercayaan bahwa Dewa Guan Gong (Guandi), altarnya tidak boleh menghadap timur, karena Guandi gugur di negeri Wu (Hokkian: Gouw) yang letaknya di sebelah timur. Banyak orang masih meyakini tradisi seperti ini. Ada juga orang yang menggunakan metoda pwa pwee atau melempar benda berbentuk seperti sepasang ikan berwarna merah, guna mengetahui apakah dewa yang dipuja setuju dengan letak tersebut atau tidak.

Demikianlah beberapa hal penting terkait altar.

Artikel menarik lainnya silakan kunjungi https://www.facebook.com/groups/339499392807581/