METODA RAMALAN SEDERHANA UNTUK MENANYAKAN APAKAH PEKERJAAN DAN RENCANA ANDA AKAN BERHASIL ATAU TIDAK

METODA RAMALAN SEDERHANA UNTUK MENANYAKAN APAKAH PEKERJAAN DAN RENCANA ANDA AKAN BERHASIL ATAU TIDAK

.

Ivan Taniputera.

15 Juni 2016

.

 
 

.

Ini merupakan metoda ramalan cukup sederhana yang diambil dari pustaka Primbon Jawa. Gunanya untuk meramalkan apakah pekerjaan dan rencana Anda akan berhasil atau tidak.

.

Caranya adalah dengan mengambil segenggam kerikil atau biji-bijian (boleh kacang hijau, kecik atau biji sawo, beras, jagung, dan lain sebagainya). Sebelum mengambilnya silakan memusatkan pikiran pada pertanyaan Anda dan berdoa sesuai agama beserta keyakinan masing-masing. Selanjutnya pisahkan kerikil atau biji-bijian tersebut menjadi tujuh-tujuh bagian hingga sisanya kurang dari tujuh dan dihitung berapa sisanya. Berikut ini adalah makna masing-masing jumlah yang tersisa.

.

Jika tidak ada yang tersisa (sisa 0), maka disebut Bintang Buda (Merkurius). Ini berarti bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu dapat menuai keberhasilan, dimana kesuksesan tersebut berasal dari tekad kuat beserta tanggung jawab Anda. Oleh karenanya, Anda disarankan lebih bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh agar pekerjaan serta cita-cita Anda tercapai.

.

Jika bersisa satu, maka disebut Bintang Sukra (Venus). Ini menandakan bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu akan menuai keberhasilan dengan mudah. Meski ramalan menyatakan demikian, Anda disarankan tetap waspada dan jangan lengah.

.

Jika bersisa dua, maka disebut Bintang Anggara (Mars). Ini menandakan bahwa apa yang Anda kerjakan dan rencanakan itu tidak akan membuahkan hasil atau gagal karena terdapat hambatan yang menghadang.

.

Jika bersisa tiga, maka disebut Bintang Raditya (Matahari). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan berhasil dengan sempurna.

.

Jika bersisa empat, maka disebut Bintang Tumpak (Saturnus). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan tidak dapat berhasil. Meskipun bekerja keras, namun akhirnya tetap akan menuai kegagalan.

.

Jika bersisa lima, maka disebut Bintang Respati (Yupiter). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan menuai hambatan. Kendati demikian, jika bekerja keras mengupayakannya tetap akan menuai keberhasilan.

.

Jika bersisa enam, maka disebut Bintang Soma (Bulan). Ini menandakan bahwa apa yang dikerjakan dan direncanakan akan menuai keberhasilan sebagaimana diharapkan.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

.

 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

Advertisements

ASTRONOMI, ASTROLOGI, DAN PENANGGALAN NUSANTARA KUNO ZAMAN HINDU BUDDHA

ASTRONOMI, ASTROLOGI, DAN PENANGGALAN NUSANTARA KUNO ZAMAN HINDU BUDDHA.

.
Ivan Taniputera.
29 Mei 2016
.
Pada kesempatan kali ini saya ingin menggali mengenai astronomi dan penanggalan Nusantara kuno. Tujuannya adalah mengenali kembali pengetahuan astronomi dan astrologi di negeri kita semasa Hindu Buddha. Salah satu sumber utama dalam mempelajari hal itu tentu saja adalah prasasti. Oleh karenanya, kita akan mencoba menelaah anasir-anasir penanggalan pada berbagai prasasti.
.
Pertama-tama kita akan menelaah prasasti Tugu yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Isinya mengenai penggalian terusan atas perintah Raja Purnawarman. Anasir penanggalan yang tercantum pada prarasti tersebut adalah sebagai berikut:
.
“…parabhya phalgune mase khata krsnatasmitithau caitrasukla trayodasyam …”
Terjemahannya adalah:
.
“…Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro-terang bulan Caitra….” (Sejarah Nasional Indonesia, jilid II, halaman 42).
.
Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa itu telah digunakan perhitungan kalender India. Pada prasasti di atas disebut nama dua bulan (disebut Masa dalam perhitungan India) dalam penanggalan India, yakni Phalguna dan Caitra. Krsnamitithau dan sukla pada “caitrasukla” itu mengacu pada paksha (paruhan bulan lunar atau berdasarkan peredaran rembulan), yakni Krishnapaksha dan Shuklapaksha. Kita akan membahasnya belakangan. 
.
Nama-nama bulan (Masa) selengkapnya menurut penanggalan India adalah:
.
1.Chaitra (Caitra).
2.Vaisakha
3.Jyestha
4.Asadha
5.Sravana
6.Bhadrapada, Bhadra atau Prosthapada
7.Asvina
8.Kartika.
9.Mrgasira (Margasirsa)
10. Pausa
11.Magha
12.Phalguna
.
Kita dapat mengetahui pula bahwa pada zaman itu awal pengerjaan suatu proyek sudah didasari oleh perhitungan hari baik dan buruk.
.
Prasasti lain, yakni Pasir Muara menyebutkan mengenai angka tahun, yakni
“kawihaji panyca pasagi.” Ini mengacu pada tahun 854 Saka. Oleh karenanya, ini kembali memperlihatkan bukti penggunaan sistim perhitungan tahun India.
.
Pada prasasti Tulangair yang berasal dari tahun 772 terdapat anasir penanggalan sebagai berikut:
.
“Sri-swasti-sakawarsatita 772 asadamasa tihti dwitya suklapaksa-tu-pa-a-…..”(Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, halaman 52)
.
Prasasti yang baru saja disebutkan itu memuat anasir penanggalan India yang lebih rumit. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini akan dibahas sedikit mengenai perhitungan penanggalan India yang cukup rumit.
Asadamasa mengacu pada bulan Asadha, yakni bulan keempat menurut penanggalan India.
.
Tihti atau tithi adalah hari bulan yang mengacu pada pergerakan bulan setiap 12 derajat dari matahari. Secara keseluruhan terdapat 30 tithi, yang masing-masing mempunyai makna baik dan buruk. Waktu berlangsungnya masing-masing tithi adalah sekitar 26 jam.
Ketigapuluh Tithi ini masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni paruh bulan gelap (Krishnapaksha) dan paruh bulan terang (Shuklapaksha). Masing-masing bagian terdiri dari 15 hari.
.
Adapun daftar masing-masing Tithi adalah sebagai berikut.
.
A. PARUH BULAN GELAP (KRISHNAPAKSHA)
.
1.Prathama atau Pratipada (Pertama atau boleh diterjemahkan tanggal satu), dewa penguasanya adalah Agni. Hari ini baik untuk upacara-upacara keagamaan.
2.Dwitiya (Kedua), dewa penguasanya adalah Vidhatr atau Brahma. Hari baik untuk meletakkan landasan (fondasi) suatu bangunan atau menentukan sesuatu yang sifatnya tetap.
3.Tritiya (Ketiga), dewa penguasanya adalah Gauri. Hari baik untuk memotong rambut, janggut, dan kuku.
4.Chaturthi (Keempat), dewa penguasanya adalah Yama atau Ganapati. Hari baik untuk memerangi musuh atau memecahkan masalah beserta hambatan.
5.Panchami (Kelima), dewa penguasanya adalah Naga. Hari baik untuk segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pengobatan.
6.Shashthi (Keenam), dewa penguasanya adalah Karttikeya. Hari baik untuk menobatkan raja, pesta, dan perayaan.
7.Saptami (Ketujuh), dewa penguasanya adalah Surya. Hari baik untuk perjalanan.
8.Ashtami (Kedelapan), dewa penguasanya adalah Rudra. Hari baik untuk segala sesuatu yang ada kaitannya dengan persenjataan dan membangun perkubuan.
9.Navami (Kesembilan), dewa penguasanya adalah Ambika. Hari baik untuk menghancurkan musuh, meruntuhkan bangunan, atau segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pembongkaran. Tidak baik untuk perjalanan dan perayaan.
10. Dasami (Kesepuluh), dewa penguasanya adalah Dharmaraja. Hari baik untuk beramal dan kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan spiritual atau keagamaan.
11.Ekadasi (Kesebelas), dewa penguasanya adalah Rudra. Hari baik untuk upacara keagamaan.
12.Dwadasi (Keduabelas), dewa penguasanya adalah Vishnu atau Aditya. Hari baik untuk upacara puja api (agnihotra atau homa) dan upacara keagamaan.
13.Trayodasi (Ketigabelas), dewa penguasanya adalah Kama. Hari baik untuk menjalin hubungan asmara dan persahabatan beserta perayaan.
14.Chaturdasi (Keempatbelas), dewa penguasanya adalah Kali. Hari baik untuk menangani sesuatu yang beracun dan kegiatan ilmu gaib.
15.Amavasya (Bulan Baru), dewa penguasanya adalah para Pitru. Hari baik untuk menjalankan upacara-upacara keagamaan.
.
B.PARUH BULAN TERANG (SHUKLAPAKSHA)
.
Tanggal 1 dan 14 nama, dewa penguasa, dan kegunaannya sama dengan Paruh Bulan Gelap. Hanya saja hari kelima belas disebut Purnima atau Paurnami, yang berarti Bulan Purnama atau Terang Bulan.
.
.
Kita akan kembali pada prasasti Tulangair di atas. Tujuan dikeluarkannya prasasti Tulangair di atas adalah menetapkan batas-batas desa Tulangair. Prasasti tersebut dikeluarkan pada tangal Dwitiya, yang menurut kepercayaan baik sekali untuk menentukan sesuatu bersifat tetap. Ini memperlihatkan bahwa penggunaan tithi memang selaras dengan perhitungan hari baik sebagaimana baru saja kita ulas.
.
Selanjutnya pada prasasti Tugu: “krsnatasmitithau caitrasukla trayodasyam .”
.
Krsna mengacu pada Krsna pada Krishnapaksha atau Paruh Bulan Gelap. Tasmi mengacu pada Ashtami atau tanggal delapan. Hari baik untuk membangun perkubuan. Oleh karenanya, kita boleh menduga bahwa pembangunan saluran air yang diperintahkan oleh Raja Purnawarman itu ada kaitannya dengan pertahanan negaranya. Sukla merupakan singkatan Shuklapaksha dan Trayodasyam mengacu pada tanggal ketigabelas menurut perhitungan Tithi. Tanggal ketiga belas itu baik untuk menjalin persahabatan dan perayaan. Sehingga sangat mungkin selesainya penggalian terusan itu dirayakan dengan sebuah pesta.
.
Perhitungan Tithi ini cukup rumit, karena masa berlangsungnya tidak sama, yakni bervariasi antara 19 hingga 26 jam. Untuk menghitungnya diperlukan pengetahuan astronomis mengenai pergerakan rembulan. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa para leluhur Nusantara dahulu telah mempunyai pengetahuan ilmu perbintangan (astronomi) yang luar biasa.
.
“Tu-pa-a” pada prasasti Tulangair merupakan singkatan bagi “Tungle-Pahing-Aditya.”
.
Tungle adalah bagian perhitungan yang disebut paringkelan dan terdiri dari enam (sadwara); yakni:
1.Tungle
2.Aryang
3.Urukung
4.Paniron (Paniruan atau Panirwan)
5.Was
6.Mahulu
(Lihat: Prembon Bali Agung, halaman 17-18).
Perhitungan Sadwara kini tidak begitu dikenal lagi di Jawa, tetapi masih tercantum dalam Primbon-primbon Bali. Berdasarkan namanya, nampak bahwa paringkelan ini merupakan perhitungan asli Nusantara.
.
Pahing merupakan bagian perhitungan yang disebut pancawara dan terdiri dari lima’ yakni:
.
1.Pon
2.Wage
3.Kaliwuan (Kliwon)
4.Umanis (Legi)
5.Paling
.
Perhitungan Pancawara ini juga masih populer hingga sekarang di Jawa.
.
Aditya merupakan nama tujuh hari (saptawara) menurut perhitungan India, yakni:
.
1.Aditya.
2.Soma.
3.Anggara.
4.Budha
5.Wrhaspati
6.Sukra
7.Saniscara.
.
Ketujuh hari ini, dapat disamakan dengan tujuh hari yang kita kenal, yakni Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.
.
Oleh karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa susunan (format) pencantuman nama-nama hari pada prasasti adalah: Sadwara-Pancawara-Saptawara.
Kini kita beralih pada prasasti Kedukan Bukit yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu meriwayatkan perjalanan Dapunta Hyang yang berangkat dari Minanga pada tanggal 7 (Saptami) Paruh Bulan Terang (Shuklapaksha), bulan Jyestha (bulan ketiga penanggalan India), tahun 604 Saka (682 Masehi). Nampak bahwa keberangkatan itu dilakukan pada tanggal Saptami yang baik bagi perjalanan. Jadi ini sekali membuktikan kesesuaian dengan perhitungan hari baik bagi suatu kegiatan sesuai dengan daftar di atas. Kurang lebih sebulan sebelumnya, pada tanggal 11 (ekadasi) Paruh Bulan Terang (Shuklapaksha), bulan Vaisakha Beliau mengadakan upacara manalap siddhayatra. Ini nampaknya merupakan suatu upacara keagamaan, karena hari tersebut memang baik bagi upacara keagamaan.
.
Pada prasasti Kudadu dapat kita baca anasir penanggalan sebagai berikut:
.
“Swasti sakawarsatita 1216 bhadrapadamasa-tithi pancami krsnapaksa-ha u sa-wara madangkungan bayabyastha grahacara rohininaksatra prajapatidewata mahendra mandalasiddhiyoga wairajyamuhurta yamaparwwega taitilakarana…..” (Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, halaman 53).
.
Nampak bahwa prasasti itu dikeluarkan pada tahun 1216 Saka. Bhadrapadamasa mengacu pada bulan Bhadrapada (bulan keenam penanggalan India). Tithi Pancami Krsnapaksa mengacu pada tanggal kelima Paruh Bulan Gelap.
.
Ha u sa mengacu pada perhitungan Paringkelan (Sadwara), Pancawara, dan Saptawara; yakni Aryang (Ha)-Umanis (U) dan Saniscara (Sa).
.
Madangkungan itu merupakan wuku saat itu dalam perhitungan 30 wuku (Pawukon). Adapun nama-nama Wuku adalah: (1)Sinta, (2)Landep, (3)Wukir, (4)Kurantil, (5)Tolu, (6) Gumbreg, (7) Warigalit, (8) Warigagung, (9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) Galungan, (12) Kuningan, (13) Langkir, (14) Mandasia, (15) Julungpujut, (16) Pahang, (17) Kuruwelut, (18) Marakeh, (19) Tambir, (20) Madangkungan, (21) Maktal, (22) Wuye, (23) Manail, (24), Prangbakat, (25) Bala, (26) Wugu, (27) Wayang, (28) Kulawu, (29) Dukut, dan (30) Watugunung. Ini merupakan perhitungan waktu khas Nusantara dan tidak terdapat di India. Satu wuku berlangsung selama 7 hari.
.
Grahacara menyatakan kedudukan matahari di langit dan mengacu gerak semu matahari dalam sehari (24 jam) yang seolah-olah dianggap mengelilingi bumi (geosentris). Karena terdapat delapan Grahacara, maka satu Grahacara lamanya 3 jam atau 24 jam dibagi 8:
.
 
.
1.Uttara atau Uttarastha mengacu pada penjuru utara; pukul 10.30-13.30.
2.Daksina atau Daksinastha mengacu pada penjuru selatan; pukul 22.30-01.30.
3.Pascima atau Pascimastha mengacu pada penjuru barat; pukul 16.30-19.30.
4.Purva atau Purvastha mengacu pada penjuru timur; pukul 04.30-07.30.
5. Isanya atau Isanyastha mengacu pada penjuru timur laut; pukul 07.30-10.30.
6. Agneya atau Agneyastha mengacu pada penjuru tenggara; pukul 01.30-04.30.
7.Bayabya/ Vayavya atau Bayabyastha mengacu pada penjuru barat laut; pukul 13.30-16.30.
8.Nairrtya atau Nairryastha mengacu pada penjuru barat daya; pukul 19.30-22.30.
.
Jadi bayabyastha pada prasati Kudadu di atas mengacu pada pukul 13.30-16.30.
.
Rohini merupakan nama salah satu di antara 27 Naksatra. Ini berarti bahwa prasasti itu dikeluarkan saat bulan berada di Rohini. Adapun nama-nama bagi 27 Naksatra itu adalah:
(1) Ashwini setara dengan 26° Aries – 9°20′ Taurus. Dewa penguasa: Ashwin.
(2) Bharani setara dengan 9° 20′ – 22° 40′ Taurus. Dewa penguasa: Yama.
(3) Krittika setara dengan 22° 40′ Taurus – 6° Gemini. Dewa penguasa: Agni.
(4) Rohini setara dengan 6° – 19°20′ Gemini. Dewa penguasa: Prajapati.
(5) Mrigashira setara dengan 19°20′ Gemini – 2°40′ Cancer. Dewa penguasa: Soma.
(6) Ardra setara dengan 2° 40′ – 16° Cancer. Dewa penguasa: Rudra.
(7) Punarvasu setara dengan 16° – 29°20′ Cancer. Dewa penguasa: Adithi.
(8) Pushya setara dengan 29°20′ Cancer – 12°40′ Leo. Dewa penguasa: Brihaspathi atau Guru.
(9) Ashlesha setara dengan 12°40′ – 26° Leo. Dewa penguasa: para Naga
(10) Magha setara dengan 26° Leo – 9°20′ Virgo. Dewa penguasa: Pitri.
(11) Purva Phalguni setara dengan 9°20′ – 22°40′ Virgo. Dewa penguasa: Shiva Mahadewa.
(12) Uttara Phalguni setara dengan 22°40′ Virgo – 6° Libra. Dewa penguasa: Aryaman.
(13) Hasta setara dengan 6° – 19°20′ Libra. Dewa penguasa: Aditya.
(14) Chitra setara dengan 19°20′ Libra – 2°40′ Scorpio. Dewa penguasa: Twasthri
(15) Swati setara dengan 2°40′ – 16° Scorpio. Dewa penguasa: Vayu
(16) Visakha setara dengan 16° – 29°20′ Scorpio. Dewa penguasa: Indra atau Sakra
(17) Anuradha setara dengan 29°20′ Scorpio – 12°40′ Sagittarius. Dewa penguasa: Mitra
(18) Jyeshtha setara dengan 12°40′ – 26° Sagittarius. Dewa penguasa: Indra atau Sakra
(19) Mula setara dengan 26° Sagittarius – 9°20′ Capricorn. Dewa penguasa: Nirrti.
(20) Purva Asadha setara dengan 9°20′ – 22°40′ Capricorn. Dewa penguasa: Varuna atau Visvadeva
(21) Uttara Asadha setara dengan 22°40′ Capricorn – 6° Aquarius. Dewa penguasa: Ganadevata
(22) Shravana setara dengan 6° – 19°20′ Aquarius. Dewa penguasa: Vishnu
(23) Dhanishta setara dengan 9°20′ Aquarius – 2°40′ Pisces. Dewa penguasa: Delapan Vasu atau Ajapada
(24) Shatabhisha setara dengan 2°40′ – 16° Pisces. Dewa penguasa: Varuna
(25) Purva Bhadrapada setara dengan 16° – 29°20′ Pisces. Dewa penguasa: Rudra
(26) Uttara Bhadrapada setara dengan 29°20′ Pisces – 12°40′ Aries. Dewa penguasa: Rudra
(27) Revati setara dengan 12°40′ – 26° Aries. Dewa penguasa: Pushan.
.
Saat bulan berada di Rohini merupakan saat yang tetap dalam membangun rumah atau sesuatu yang sifatnya tetap dan tidak bergerak; termasuk mengumumkan ketetapan atau penghargaan. Selanjutnya disebutkan pula nama dewa penguasa naksatra terkait.
.
Yoga merupakan salah satu anasir penanggalan India yang terdiri dari 27. Cara menghitungnya adalah dengan menjumlahkan masing-masing sudut longitudinal Matahari dan Rembulan dengan titik 0 derajat Aries (Mesha). Hasilnya lalu dijumlahnya. Jikalau lebih besar dari 360 derajat, maka hasilnya dikurangi dengan 360 derajat. Selanjutnya hasil tersebut dibagi dengan 27. Daftar keduapuluh tujuh yoga adalah:
.

1.Viṣkambha
2.Prīti
3.Āyuśmān
4.Saubhāgya
5.Śobhana
6.Atigaṇḍa
7.Sukarma

8. Dhrti
9. Śūla
10. Gaṇḍa
11. Vṛddhi
12. Dhruva
13.Vyāghatā
14.Harṣaṇa
15.Varja
16. Siddhi
17.Vyatipāta
18.Variyas
19.Parigha
20. Śiva
21.Siddha
22.Sādhya
23.Śubha
24.Śukla
25.Brahma.
26.Māhendra.
27.Vaidhṛti
.
Yoga yang kurang baik adalah Vyaghat, Parigha, Vajra,Vyathipatha, Dhriti, Ganda, Athiganda, Shula, Vishakabha.
.
Kebetulan pada prasasti Kudadu, yoganya adalah Siddhi (yoga keenam belas).
.
Muhurta adalah satuan waktu yang masing-masing berlangsung selama 48 menit. Secara keseluruhan terdapat 30 muhurta.
.
Karana adalah satuan waktu yang diperlukan Matahari dan Rembulan agar maju sejauh 6 derajat satu sama lain, dimulai dari pertemuan atau Conjunction antara keduanya. Conjunction ini terjadi saat bulan baru. Karana ini juga dapat disamakan dengan setengah Tithi. Jadi, satu Tithi terbagi menjadi 2 Karana. Terdapat 11 Karana. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut.
.
Bulan baru selalu bertepatan dengan Karana Kiṃstughna.
Selanjutnya diikuti oleh tujuh Karana sebagai berikut yang akan diulangi tujuh kali.
.
1.Vava.
2.Valava.
3. Kaulava.
4.Taitila.
5.Gara
6.Vanija
7.Visti.
.
Dengan demikian, akan terdapat rangkaian 56 Karana.
Sisanya terdapat 3 Karana lagi yang tidak berulang, yakni:
.
1.Sakuni
2.Catuspada
3.Naga.
.
Agar jelasnya perhatikan perhitungan sebagai berikut.
Amavasya (Bulan Baru), terbagi menjadi dua Karana: Kiṃstughna. Lalu diikuti oleh Prathama atau Pratipada Shuklapaksha (Hari Pertama Paruh Bulan Terang), yang terbagi menjadi dua Karana, yakni: Vava dan Valava. Hari berikutnya Dwitiya Shuklapaksha (Hari Kedua Paruh Bulan Terang), terbagi menjadi Kaulava dan Taitila. Selanjutnya, Tritiya Shuklapaksha (Hari Ketiga Paruh Bulan Terang), terbagi menjadi Gara dan Vanija. Hari berikutnya, Charturthi Shuklapaksha, terbagi menjadi Visti dan Vava. Perhatikan bahwa Vava telah berulang kembali di sini. Hari selanjutnya akan terbagi menjadi Valava dan Kaulava. Demikian hingga Trayodasi Krishnapaksha (Hari Ketigabelas Paruh Bulan Gelap), yang terdiri dari Visti (pengulangan terakhir kelompok tujuh di atas) serta Sakuni, dan terakhir, Chaturdashi Krishnapaksha (Hari Keempatbelas Paruh Bulan Gelap) yang akan terbagi menjadi Catuspada dan Naga. Jadi, rangkaian keseluruhan Karana adalah 60, yang terdiri dari empat Karana tidak berulang dan tujuh Karana diulang tujuh kali.
.
Acuan kepada dua belas tanda zodiak, dapat kita jumpai pada prasasti Singhasari yang berangka tahun 1351:
.
/ 0 / ‘i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; ‘irika diwaśani kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha /’ ; /’ swasti śri śaka warṣatita ; 1273 ; weśaka māsa tithi pratipāda çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niritistha grahacara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwweśa ; kistughna kâran.a wrs.abharaçi (sumber: wikipedia).
.
Kita telah mengenal anasir-anasir penanggalan di atas. Sebagai latihan, Anda boleh mencoba mengidentifikasinya.
Masa (bulan): Wesaka atau Vaisakha (bulan kedua menurut penanggalan India.
Tithi (tanggal): Pratipada Shuklapaksha.
Karana: Kistughna atau Kiṃstughna. Ingat bahwa Pratipada Shuklapaksha, Karananya, pasti adalah Kimstughna.
Ha, Po, dan Bu merupakan singkatan Aryang atau Haryang (Sadwara atau paringkelan), Pon (Pancawara), dan Budha (Saptawara).
Wuku: Tolu.
Grahacara: Niritistha atau Nairryastha.
Naksatra: Mrigashira
Yoga: Sobhana.
.
Dengan demikian, Anda sudah berhasil mengidentifikasi anasir-anasir penanggalan pada sebuah prasasti. Kini yang belum kita bahas adalah mengenai Rasi atau dua belas tanda Zodiak, dimana prasasti Singhasari di atas ditulis pada Rasi “Wrsabha.” Penggemar Astrologi tentulah sudah sangat akrab dengan hal ini. Kedua belas Rasi adalah sebagai berikut:
.
1. Mesa atau sama dengan Aries.
2.Vrsabha atau sama dengan Taurus.
3.Mithuna atau sama dengan Gemini.
4.Karka atau sama dengan Cancer.
5.Simha atau sama dengan Leo.
6.Kanya atau sama dengan Virgo.
7.Tula atau sama dengan Libra.
8.Vrscika atau sama dengan Scorpio.
9.Dhanusa atau sama dengan Sagittarius.
10.Makara sama dengan Capricornus.
11.Kumbha atau sama dengan Aquarius.
12.Mina atau sama denga Pisces.
.
Rasi ini menyatakan letak Bulan saat prasasti ditetapkan. Dengan demikian, Bulan berada di Rasi Vrsabha (Taurus) dalam hal prasasti ini.
.
Sampai di sini kita sudah mengenal aspek-aspek penting dalam penanggalan suatu prasasti selaku warisan sejarah berharga.
.
KESIMPULAN.
.
Para leluhur di zaman dahulu telah mengenal suatu sistim penanggalan yang rumit, dimana sistim tersebut banyak dipengaruhi oleh budaya India. Kendati demikian, terdapat pula anasir-anasir setempat, seperti Paringkelan (Sadwara), Pancawara, dan Pawukon. Sistim penanggalan India mengharuskan pengenalan terhadap gerakan benda langit, khususnya Matahari dan Rembulan. Oleh karenanya, para leluhur dahulu pasti telah mempunyai kemampuan dalam bidang astronomi yang handal, sehingga dapat membuat penanggalan. Namun sayangnya kemampuan astronomis ini telah dilupakan dan hilang ditelan masa.
.
Bukan mustahil bahwa pada zaman lampau telah ada sekolah atau lembaga pengajaran untuk mendidik para ahli ilmu perbintangan (astronomi), dimana hal itu tentunya memerlukan pengetahuan pula dalam bidang matematika. Kita boleh menyimpulkan bahwa ilmu matematika tentunya telah berkembang di Nusantara zaman Hindu-Buddha. Hanya saja pengetahuan ini tidak lagi meninggalkan jejaknya di masa sekarang. Kemungkinan karena dahulu sarana penulisannya adalah daun lontar, yang mudah sekali rusak; misalnya karena bencana alam, kebakaran, atau peperangan. Ilmu pengetahuan tentunya telah berkembang pesat di masa itu.
.
Astrologi tentunya juga telah berkembang pada masa itu, yang dipergunakan untuk memilih hari baik guna melaksanakan suatu keperluan. Kemungkinan pada zaman itu telah ada semacam Primbon, yang erat kaitannya dengan Astrologi India dan juga Nusantara. Primbon yang ada sekarang mungkin merupakan kelanjutan bagi primbon zaman itu. Menarik sekali bila kita dapat merekonstruksi ulang Primbon dan penanggalan di zaman tersebut, yang mungkin masih ditulis di atas daun lontar.
.
Pengetahuan mengenai Astrologi zaman tersebut mungkin dapat dipergunakan menentukan penanggalan sebuah prasasti yang tidak terbaca lagi anasir penanggalannya, asalkan kita mengetahui tujuan prasasti itu dikeluarkan. Sebagai contoh, prasasti terkait pendirian suatu rumah ibadah. Kita dapat mencari saat-saat yang baik menurut pengetahuan Astrologi zaman itu, khususnya terkait hari baik mendirikan bangunan. Dalam hal ini, pengetahuan Astrologi India tentunya sangat membantu.
.
Sebagai penutup, marilah kita menggali kembali dan melestarikan ilmu pengetahuan adiluhung warisan leluhur.
.
DAFTAR PUSTAKA.
Kusuma,Sri Reshi Ananda. Prembon Bali Agung, CV. Kayumas Agung, Denpasar, 1998.
.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.
.
Satguru Sivaya Subramuniyaswami. Vedic Calendar, Himalayan Academy Kapaa, Hawaii, 1997.
.
Soedarsono; Astuti, Retno; & Sunjata, I.W. Pantja. Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, 1985.
.
Burgess, Rev. Ebenezer. Translation of Surya Siddhanta, University of Calcutta, 1935.
.
WEB
.
 
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ .
.
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum. 

RAMALAN MENGENAI PEMASANGAN SUSUK

RAMALAN MENGENAI PEMASANGAN SUSUK.

.

Ivan Taniputera.

5 Mei 2016.

.

Salah seorang teman ingin memasang susuk. Susuk merupakan benda-benda seperti berlian, logam, dan lain sebagainya yang dimasukkan secara gaib ke dalam tubuh menurut tradisi ilmu gaib Jawa. Ia menanyakan apakah pemasangan susuk itu baik baginya.

.

Saya akan meramalkan hal itu dengan metoda Yijing.

.

 
 

.

Didapatkan heksagram 34 yang berubah menjadi 14.

.

 

Heksagram 34 artinya kekuatan besar. Tetapi kekuatan ini harus dikendalikan. Heksagram 14 melambangkan kelimpahan, pencapaian, dan kekayaan. Jadi dapat ditafsirkan bahwa susuk itu dapat mendatangkan semacam kekuatan besar. Namun kekuatan itu perlu dikendalikan dengan baik. Yang dimaksud pengendalian yang baik adalah jangan menggunakannya demi sikap egois.

.

Oleh karenanya, berdasarkan ramalan di atas, penggunaan susuk itu bisa menghasilkan dampak yang baik. Hanya saja jangan menggunakannya secara berlebihan. Pada suatu titik, maka akan timbul godaan-godaan, yakni menggunakannya untuk sesuatu hal yang mementingkan diri sendiri. Yang penting adalah Anda harus sanggup melawan godaan-godaan tersebut.

.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . . . 

 

 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

BUKU BERUSIA LEBIH DARI 130 TAHUN MENGENAI ILMU NUMEROLOGI JAWA YANG LUAR BIASA

BUKU BERUSIA LEBIH DARI 130 TAHUN MENGENAI ILMU NUMEROLOGI JAWA YANG LUAR BIASA.

.

Ivan Taniputera.

6 Mei 2016.

.

Judul: Ngelmoe Gaibing Ongko: Isi Pesatohan bab Laki-rabi, lan wadhining ongko, kanggo ngolah kawroeh marang wong ahli ngelmoe gaib, oetowo petangan kanggo ngawroehi opo barang sadhoeroenge kedhadhejan.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “Ilmu Kegaiban Angka: Berisikan perjodohan suami-isteri, dan rahasia angka, guna meningkatkan pengetahuan bagi ahli ilmu gaib, atau ramalan guna mengetahui apa yang akan terjadi.”

Penulis: Ng. H. Soediro.

Penerbit: Astrologisch Bureau “Aquarius,” Semarang.

Angka tahun tidak tertera, namun menurut sumber http://onesearch.id/Record/IOS1-INLIS000000000469739, maka buku ini diterbitkan tahun 1883, sehingga usianya kurang lebih sudah 130 tahun lebih.

Jumlah halaman: 116.

Bahasa: Jawa.

.

Buku ini berisikan numerologi berdasarkan aksara Arab. Berikut ini adalah daftar isinya.

.

.

.

.

Berikut ini adalah caranya.

.

.

Pada halaman di atas dijelaskan mengenai nilai masing-masing aksara Arab. Selanjutnya nama seseorang dialih aksarakan dengan aksara-aksara di atas. Lalu dijumlahkan nilai angkanya. Buku ini juga memberikan berbagai contoh, antara lain salah seorang terkaya di Asia Tenggara pada masa lampau, yakni Oei Tiong Ham.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

.

.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

PRIMBON ILMU PERBINTANGAN JAWA

PRIMBON ILMU PERBINTANGAN JAWA

.

Ivan Taniputera.

6 Mei 2016

.

 

 
 

.

Judul: Primbon Ramalan Nabi Palintangan: Wawatakanipun Manungsa Sarta Apes dan Djajane

Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, maka judulnya adalah: “Primbon Ramalan Nabi dan Perbintangan: Kepribadian Manusia Beserta Kemalangan dan Keberuntungannya.”

Penulis:– (tidak tercantum).

Penerbit: Mahadewa, 1950

Jumlah halaman: 7

Bahasa: Jawa.

.

Buku ini merupakan ramalan berdasarkan neptu, yakni jumlah nilai numerologi hari berjumlah tujuh (Saptawara: Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu) serta hari berjumlah lima (Pancawara: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing). Keduanya dijumlahkan, lalu dicari makna nilainya pada buku ini.

.

Sebagaai contoh, orang yang mempunyai jumlah neptu 7:

.

“Neptu 7. Lintang Midian, bala lintang kuda, satru lintang Djadi. Watake agung begdjane, akeh godane. Laksanane angin, tan kena gegondjakan. Larane sirah, sranane nganggo ali-ali mata idjo…..”

.

Terjemahan bahasa Indonesia:

.

“Neptu 7. Bintang Midian. Cocok dengan bintang kuda. Tidak cocok dengan bintang Djadi. Banyak keberuntungannya. Sering mendapat godaan. Ibaratnya angin, tidak dapat diajak bergurau. Penyakitnya adalah bagian kepala. Penangkalnya adalah mengenakan cincin bermata batu hijau…..”

.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.

.

 
 

.

 
 

.

Berminat kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

RAMAL PANUJUMAN UNTUK MENANYAKAN MENGENAI KEBERUNTUNGAN

RAMAL PANUJUMAN UNTUK MENANYAKAN MENGENAI KEBERUNTUNGAN

.

Ivan Taniputera.

27 Maret 2016.

.

 
 
 

Ini adalah ramalan yang berasal dari buku “Ramal Panujuman.” Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Jawa.

Caranya, pilih salah satu di antara 30 pertanyaan di bawah ini: 

 

.

1.Apakah dapat memperoleh keuntungan?

2.Mendapatkan keuntungan atau kerugian?

3.Apakah harapan itu dapat tercapai?

4.Apakah rekan atau sahabat itu dapat dipercaya?
5.Apakah bepergian sekarang baik?
6.Apakah makna impian itu?
7;.Apakah makna kedutan itu?
8.Apakah lebih baik pindah ke negara/ tempat lain?
9.Apakah orang itu mencintaiku?
10.Apakah orang yang sakit itu dapat disembuhkan?
11.Siapakah dokter yang perlu diundang/ dikunjungi agar dapat memperoleh kesembuhan?
12.Apakah sudah saatnya naik pangkat?
13.Jika berspekulasi saat ini akan menang atau kalah?
14.Bagaimanakah nasib anak laki-laki ini?
15.Bagaimanakah nasib anak perempuan ini?
16.Manakah yang lebih baik, berusaha sendiri atau bekerja pada orang lain?
17.Apakah orang yang telah pergi itu akan kembali lagi?
18.Apakah akan memperoleh anak laki-laki atau perempuan?
19.Apakah orang yang sedang dilanda kesusahan itu akan memperoleh pertolongan?
20.Di manakah saya dapat memperoleh keberuntungan?
21.Apakah saya dapat memperoleh kemenangan pada perkara ini?
22.Apakah suami/istri yang telah pergi itu akan kembali lagi atau akankah terjadi perpisahan?
23.Apakah orang yang sedang berada di tengah peperangan itu akan selamat?
24.Apakah barang yang hilang dapat ditemukan kembali?
25.Apakah akan berjumpa dengang orang yang dicari?
26. Apakah pernikahan itu akan membuahkan hasil baik?
27.Dari manakah mendapatkan menantu terbaik?
28.Hari apakah yang baik bagi pernikahan?
29. Apakah menagih hutang akan dibayar?
30. Apakah perjalanan usaha ini berhasil atau tidak?

.

 
 
 

Selanjutnya pilih salah satu di antara huruf-huruf pada kotak terlampir. Cara memilih boleh dengan menutup mata lalu menggerak-gerakkan jari Anda pada kotak-kotak di atas. Setelah dirasa cukup, silakan periksa jatuh di huruf apakah jari Anda. Cara lain boleh dengan menuliskan huruf-huruf di atas pada kartu dan Anda pilih secara acak.

.

Seseorang menanyakan pertanyaan nomor 3 dan memperoleh jawaban C.

.

Untuk mengetahui jawabannya, kita menggunakan lembaran tabel yang disebut “Raen Pituduh.” Cari angka berapa yang merupakan pertemuan antara nomor 3 dan jawaban C.

.

 
 

 
 
 

Ternyata angkanya adalah 1, jadi kita membuka lembar jawaban C dan mencari angka 1. Hasilnya adalah:

.

“Manawa ngati-ati kalawan ati ora djail, pangarep-arep iku bisa kasembadan.”

.

Terjemahan:

.

“Jika berhati-hati dan tidak memendam niat jahat, harapan itu dapat terlaksana.”

.

Ramalan di atas menyatakan bahwa jika Anda berniat tulus dan senantiasa bertindak waspada dan berhati-hati, maka segenap harapan itu dapat terlaksana.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.

RAMAL PANUJUMAN UNTUK MENANYAKAN MENGENAI BARANG YANG DICURI

RAMAL PANUJUMAN UNTUK MENANYAKAN MENGENAI BARANG YANG DICURI

.

Ivan Taniputera.

25 Maret 2016.

.

 
 

Ini adalah ramalan yang berasal dari buku “Ramal Panujuman.” Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Jawa.

 

Caranya, pilih salah satu di antara 30 pertanyaan di bawah ini:

.

1.Apakah dapat memperoleh keuntungan?

2.Mendapatkan keuntungan atau kerugian?

3.Apakah harapan itu dapat tercapai?

4.Apakah rekan atau sahabat itu dapat dipercaya?
5.Apakah bepergian sekarang baik?
6.Apakah makna impian itu?
7;.Apakah makna kedutan itu?
8.Apakah lebih baik pindah ke negara/ tempat lain?
9.Apakah orang itu mencintaiku?
10.Apakah orang yang sakit itu dapat disembuhkan?
11.Siapakah dokter yang perlu diundang/ dikunjungi agar dapat memperoleh kesembuhan?
12.Apakah sudah saatnya naik pangkat?
13.Jika berspekulasi saat ini akan menang atau kalah?
14.Bagaimanakah nasib anak laki-laki ini?
15.Bagaimanakah nasib anak perempuan ini?
16.Manakah yang lebih baik, berusaha sendiri atau bekerja pada orang lain?
17.Apakah orang yang telah pergi itu akan kembali lagi?
18.Apakah akan memperoleh anak laki-laki atau perempuan?
19.Apakah orang yang sedang dilanda kesusahan itu akan memperoleh pertolongan?
20.Di manakah saya dapat memperoleh keberuntungan?
21.Apakah saya dapat memperoleh kemenangan pada perkara ini?
22.Apakah suami/istri yang telah pergi itu akan kembali lagi atau akankah terjadi perpisahan?
23.Apakah orang yang sedang berada di tengah peperangan itu akan selamat?
24.Apakah barang yang hilang dapat ditemukan kembali?
25.Apakah akan berjumpa dengang orang yang dicari?
26. Apakah pernikahan itu akan membuahkan hasil baik?
27.Dari manakah mendapatkan menantu terbaik?
28.Hari apakah yang baik bagi pernikahan?
29. Apakah menagih hutang akan dibayar?
30. Apakah perjalanan usaha ini berhasil atau tidak?

 

.

 
 

Selanjutnya pilih satu di antara huruf-huruf pada kotak terlampir. Cara memilih boleh dengan menutup mata lalu menggerak-gerakkan jari Anda pada kotak-kotak di atas. Setelah dirasa cukup, silakan periksa jatuh di huruf apakah jari Anda. Cara lain boleh dengan menuliskan huruf-huruf di atas pada kartu dan Anda pilih secara acak.

.

Seseorang menanyakan pertanyaan nomor 24 dan memperoleh jawaban L.

.

 
 

Untuk mengetahui jawabannya, kita menggunakan lembaran tabel yang disebut “Raen Pituduh.” Cari angka berapa yang merupakan pertemuan antara nomor 24 dan jawaban L.

.

Ternyata angkanya adalah 19, jadi kita membuka lembar jawaban L dan mencari angka 19. Hasilnya adalah:

.

“Kang andjupuk barang iku wong wadon, lan barang iku wes diwenehake marang kasenengane. ora bisa bali maneh.”

.

Terjemahan:

.

“Yang mengambil barang itu adalah seorang perempuan, dan barang itu sudah diberikan pada orang yang dicintainya, sehingga tidak dapat kembali lagi.”

.

Ramalan di atas menyatakan bahwa yang mengambil barang itu adalah seorang perempuan. Meskipun demikian, ramalan di atas tidak harus ditafsirkan secara harafiah. Dapat juga ditafsirkan bahwa kemungkinan barang itu sudah dijual dan uangnya diberikan pada orang yang dicintainya. Boleh juga diartikan bahwa kemungkinan ia melakukan tindakan tersebut demi seseorang yang dicintai atau disayanginya. Apa pun penafsirannya, barang itu tidak mungkin kembali. Meskipun demikian, semua ini hanyalah ramalan.

.

 

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ . .

.

 
 
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum.