ASTRONOMI, ASTROLOGI, DAN PENANGGALAN NUSANTARA KUNO ZAMAN HINDU BUDDHA

ASTRONOMI, ASTROLOGI, DAN PENANGGALAN NUSANTARA KUNO ZAMAN HINDU BUDDHA.

.
Ivan Taniputera.
29 Mei 2016
.
Pada kesempatan kali ini saya ingin menggali mengenai astronomi dan penanggalan Nusantara kuno. Tujuannya adalah mengenali kembali pengetahuan astronomi dan astrologi di negeri kita semasa Hindu Buddha. Salah satu sumber utama dalam mempelajari hal itu tentu saja adalah prasasti. Oleh karenanya, kita akan mencoba menelaah anasir-anasir penanggalan pada berbagai prasasti.
.
Pertama-tama kita akan menelaah prasasti Tugu yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Isinya mengenai penggalian terusan atas perintah Raja Purnawarman. Anasir penanggalan yang tercantum pada prarasti tersebut adalah sebagai berikut:
.
“…parabhya phalgune mase khata krsnatasmitithau caitrasukla trayodasyam …”
Terjemahannya adalah:
.
“…Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna dan disudahi pada hari tanggal 13 paro-terang bulan Caitra….” (Sejarah Nasional Indonesia, jilid II, halaman 42).
.
Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa itu telah digunakan perhitungan kalender India. Pada prasasti di atas disebut nama dua bulan (disebut Masa dalam perhitungan India) dalam penanggalan India, yakni Phalguna dan Caitra. Krsnamitithau dan sukla pada “caitrasukla” itu mengacu pada paksha (paruhan bulan lunar atau berdasarkan peredaran rembulan), yakni Krishnapaksha dan Shuklapaksha. Kita akan membahasnya belakangan. 
.
Nama-nama bulan (Masa) selengkapnya menurut penanggalan India adalah:
.
1.Chaitra (Caitra).
2.Vaisakha
3.Jyestha
4.Asadha
5.Sravana
6.Bhadrapada, Bhadra atau Prosthapada
7.Asvina
8.Kartika.
9.Mrgasira (Margasirsa)
10. Pausa
11.Magha
12.Phalguna
.
Kita dapat mengetahui pula bahwa pada zaman itu awal pengerjaan suatu proyek sudah didasari oleh perhitungan hari baik dan buruk.
.
Prasasti lain, yakni Pasir Muara menyebutkan mengenai angka tahun, yakni
“kawihaji panyca pasagi.” Ini mengacu pada tahun 854 Saka. Oleh karenanya, ini kembali memperlihatkan bukti penggunaan sistim perhitungan tahun India.
.
Pada prasasti Tulangair yang berasal dari tahun 772 terdapat anasir penanggalan sebagai berikut:
.
“Sri-swasti-sakawarsatita 772 asadamasa tihti dwitya suklapaksa-tu-pa-a-…..”(Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, halaman 52)
.
Prasasti yang baru saja disebutkan itu memuat anasir penanggalan India yang lebih rumit. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini akan dibahas sedikit mengenai perhitungan penanggalan India yang cukup rumit.
Asadamasa mengacu pada bulan Asadha, yakni bulan keempat menurut penanggalan India.
.
Tihti atau tithi adalah hari bulan yang mengacu pada pergerakan bulan setiap 12 derajat dari matahari. Secara keseluruhan terdapat 30 tithi, yang masing-masing mempunyai makna baik dan buruk. Waktu berlangsungnya masing-masing tithi adalah sekitar 26 jam.
Ketigapuluh Tithi ini masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yakni paruh bulan gelap (Krishnapaksha) dan paruh bulan terang (Shuklapaksha). Masing-masing bagian terdiri dari 15 hari.
.
Adapun daftar masing-masing Tithi adalah sebagai berikut.
.
A. PARUH BULAN GELAP (KRISHNAPAKSHA)
.
1.Prathama atau Pratipada (Pertama atau boleh diterjemahkan tanggal satu), dewa penguasanya adalah Agni. Hari ini baik untuk upacara-upacara keagamaan.
2.Dwitiya (Kedua), dewa penguasanya adalah Vidhatr atau Brahma. Hari baik untuk meletakkan landasan (fondasi) suatu bangunan atau menentukan sesuatu yang sifatnya tetap.
3.Tritiya (Ketiga), dewa penguasanya adalah Gauri. Hari baik untuk memotong rambut, janggut, dan kuku.
4.Chaturthi (Keempat), dewa penguasanya adalah Yama atau Ganapati. Hari baik untuk memerangi musuh atau memecahkan masalah beserta hambatan.
5.Panchami (Kelima), dewa penguasanya adalah Naga. Hari baik untuk segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pengobatan.
6.Shashthi (Keenam), dewa penguasanya adalah Karttikeya. Hari baik untuk menobatkan raja, pesta, dan perayaan.
7.Saptami (Ketujuh), dewa penguasanya adalah Surya. Hari baik untuk perjalanan.
8.Ashtami (Kedelapan), dewa penguasanya adalah Rudra. Hari baik untuk segala sesuatu yang ada kaitannya dengan persenjataan dan membangun perkubuan.
9.Navami (Kesembilan), dewa penguasanya adalah Ambika. Hari baik untuk menghancurkan musuh, meruntuhkan bangunan, atau segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pembongkaran. Tidak baik untuk perjalanan dan perayaan.
10. Dasami (Kesepuluh), dewa penguasanya adalah Dharmaraja. Hari baik untuk beramal dan kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan spiritual atau keagamaan.
11.Ekadasi (Kesebelas), dewa penguasanya adalah Rudra. Hari baik untuk upacara keagamaan.
12.Dwadasi (Keduabelas), dewa penguasanya adalah Vishnu atau Aditya. Hari baik untuk upacara puja api (agnihotra atau homa) dan upacara keagamaan.
13.Trayodasi (Ketigabelas), dewa penguasanya adalah Kama. Hari baik untuk menjalin hubungan asmara dan persahabatan beserta perayaan.
14.Chaturdasi (Keempatbelas), dewa penguasanya adalah Kali. Hari baik untuk menangani sesuatu yang beracun dan kegiatan ilmu gaib.
15.Amavasya (Bulan Baru), dewa penguasanya adalah para Pitru. Hari baik untuk menjalankan upacara-upacara keagamaan.
.
B.PARUH BULAN TERANG (SHUKLAPAKSHA)
.
Tanggal 1 dan 14 nama, dewa penguasa, dan kegunaannya sama dengan Paruh Bulan Gelap. Hanya saja hari kelima belas disebut Purnima atau Paurnami, yang berarti Bulan Purnama atau Terang Bulan.
.
.
Kita akan kembali pada prasasti Tulangair di atas. Tujuan dikeluarkannya prasasti Tulangair di atas adalah menetapkan batas-batas desa Tulangair. Prasasti tersebut dikeluarkan pada tangal Dwitiya, yang menurut kepercayaan baik sekali untuk menentukan sesuatu bersifat tetap. Ini memperlihatkan bahwa penggunaan tithi memang selaras dengan perhitungan hari baik sebagaimana baru saja kita ulas.
.
Selanjutnya pada prasasti Tugu: “krsnatasmitithau caitrasukla trayodasyam .”
.
Krsna mengacu pada Krsna pada Krishnapaksha atau Paruh Bulan Gelap. Tasmi mengacu pada Ashtami atau tanggal delapan. Hari baik untuk membangun perkubuan. Oleh karenanya, kita boleh menduga bahwa pembangunan saluran air yang diperintahkan oleh Raja Purnawarman itu ada kaitannya dengan pertahanan negaranya. Sukla merupakan singkatan Shuklapaksha dan Trayodasyam mengacu pada tanggal ketigabelas menurut perhitungan Tithi. Tanggal ketiga belas itu baik untuk menjalin persahabatan dan perayaan. Sehingga sangat mungkin selesainya penggalian terusan itu dirayakan dengan sebuah pesta.
.
Perhitungan Tithi ini cukup rumit, karena masa berlangsungnya tidak sama, yakni bervariasi antara 19 hingga 26 jam. Untuk menghitungnya diperlukan pengetahuan astronomis mengenai pergerakan rembulan. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa para leluhur Nusantara dahulu telah mempunyai pengetahuan ilmu perbintangan (astronomi) yang luar biasa.
.
“Tu-pa-a” pada prasasti Tulangair merupakan singkatan bagi “Tungle-Pahing-Aditya.”
.
Tungle adalah bagian perhitungan yang disebut paringkelan dan terdiri dari enam (sadwara); yakni:
1.Tungle
2.Aryang
3.Urukung
4.Paniron (Paniruan atau Panirwan)
5.Was
6.Mahulu
(Lihat: Prembon Bali Agung, halaman 17-18).
Perhitungan Sadwara kini tidak begitu dikenal lagi di Jawa, tetapi masih tercantum dalam Primbon-primbon Bali. Berdasarkan namanya, nampak bahwa paringkelan ini merupakan perhitungan asli Nusantara.
.
Pahing merupakan bagian perhitungan yang disebut pancawara dan terdiri dari lima’ yakni:
.
1.Pon
2.Wage
3.Kaliwuan (Kliwon)
4.Umanis (Legi)
5.Paling
.
Perhitungan Pancawara ini juga masih populer hingga sekarang di Jawa.
.
Aditya merupakan nama tujuh hari (saptawara) menurut perhitungan India, yakni:
.
1.Aditya.
2.Soma.
3.Anggara.
4.Budha
5.Wrhaspati
6.Sukra
7.Saniscara.
.
Ketujuh hari ini, dapat disamakan dengan tujuh hari yang kita kenal, yakni Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.
.
Oleh karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa susunan (format) pencantuman nama-nama hari pada prasasti adalah: Sadwara-Pancawara-Saptawara.
Kini kita beralih pada prasasti Kedukan Bukit yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Prasasti itu meriwayatkan perjalanan Dapunta Hyang yang berangkat dari Minanga pada tanggal 7 (Saptami) Paruh Bulan Terang (Shuklapaksha), bulan Jyestha (bulan ketiga penanggalan India), tahun 604 Saka (682 Masehi). Nampak bahwa keberangkatan itu dilakukan pada tanggal Saptami yang baik bagi perjalanan. Jadi ini sekali membuktikan kesesuaian dengan perhitungan hari baik bagi suatu kegiatan sesuai dengan daftar di atas. Kurang lebih sebulan sebelumnya, pada tanggal 11 (ekadasi) Paruh Bulan Terang (Shuklapaksha), bulan Vaisakha Beliau mengadakan upacara manalap siddhayatra. Ini nampaknya merupakan suatu upacara keagamaan, karena hari tersebut memang baik bagi upacara keagamaan.
.
Pada prasasti Kudadu dapat kita baca anasir penanggalan sebagai berikut:
.
“Swasti sakawarsatita 1216 bhadrapadamasa-tithi pancami krsnapaksa-ha u sa-wara madangkungan bayabyastha grahacara rohininaksatra prajapatidewata mahendra mandalasiddhiyoga wairajyamuhurta yamaparwwega taitilakarana…..” (Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, halaman 53).
.
Nampak bahwa prasasti itu dikeluarkan pada tahun 1216 Saka. Bhadrapadamasa mengacu pada bulan Bhadrapada (bulan keenam penanggalan India). Tithi Pancami Krsnapaksa mengacu pada tanggal kelima Paruh Bulan Gelap.
.
Ha u sa mengacu pada perhitungan Paringkelan (Sadwara), Pancawara, dan Saptawara; yakni Aryang (Ha)-Umanis (U) dan Saniscara (Sa).
.
Madangkungan itu merupakan wuku saat itu dalam perhitungan 30 wuku (Pawukon). Adapun nama-nama Wuku adalah: (1)Sinta, (2)Landep, (3)Wukir, (4)Kurantil, (5)Tolu, (6) Gumbreg, (7) Warigalit, (8) Warigagung, (9) Julungwangi, (10) Sungsang, (11) Galungan, (12) Kuningan, (13) Langkir, (14) Mandasia, (15) Julungpujut, (16) Pahang, (17) Kuruwelut, (18) Marakeh, (19) Tambir, (20) Madangkungan, (21) Maktal, (22) Wuye, (23) Manail, (24), Prangbakat, (25) Bala, (26) Wugu, (27) Wayang, (28) Kulawu, (29) Dukut, dan (30) Watugunung. Ini merupakan perhitungan waktu khas Nusantara dan tidak terdapat di India. Satu wuku berlangsung selama 7 hari.
.
Grahacara menyatakan kedudukan matahari di langit dan mengacu gerak semu matahari dalam sehari (24 jam) yang seolah-olah dianggap mengelilingi bumi (geosentris). Karena terdapat delapan Grahacara, maka satu Grahacara lamanya 3 jam atau 24 jam dibagi 8:
.
 
.
1.Uttara atau Uttarastha mengacu pada penjuru utara; pukul 10.30-13.30.
2.Daksina atau Daksinastha mengacu pada penjuru selatan; pukul 22.30-01.30.
3.Pascima atau Pascimastha mengacu pada penjuru barat; pukul 16.30-19.30.
4.Purva atau Purvastha mengacu pada penjuru timur; pukul 04.30-07.30.
5. Isanya atau Isanyastha mengacu pada penjuru timur laut; pukul 07.30-10.30.
6. Agneya atau Agneyastha mengacu pada penjuru tenggara; pukul 01.30-04.30.
7.Bayabya/ Vayavya atau Bayabyastha mengacu pada penjuru barat laut; pukul 13.30-16.30.
8.Nairrtya atau Nairryastha mengacu pada penjuru barat daya; pukul 19.30-22.30.
.
Jadi bayabyastha pada prasati Kudadu di atas mengacu pada pukul 13.30-16.30.
.
Rohini merupakan nama salah satu di antara 27 Naksatra. Ini berarti bahwa prasasti itu dikeluarkan saat bulan berada di Rohini. Adapun nama-nama bagi 27 Naksatra itu adalah:
(1) Ashwini setara dengan 26° Aries – 9°20′ Taurus. Dewa penguasa: Ashwin.
(2) Bharani setara dengan 9° 20′ – 22° 40′ Taurus. Dewa penguasa: Yama.
(3) Krittika setara dengan 22° 40′ Taurus – 6° Gemini. Dewa penguasa: Agni.
(4) Rohini setara dengan 6° – 19°20′ Gemini. Dewa penguasa: Prajapati.
(5) Mrigashira setara dengan 19°20′ Gemini – 2°40′ Cancer. Dewa penguasa: Soma.
(6) Ardra setara dengan 2° 40′ – 16° Cancer. Dewa penguasa: Rudra.
(7) Punarvasu setara dengan 16° – 29°20′ Cancer. Dewa penguasa: Adithi.
(8) Pushya setara dengan 29°20′ Cancer – 12°40′ Leo. Dewa penguasa: Brihaspathi atau Guru.
(9) Ashlesha setara dengan 12°40′ – 26° Leo. Dewa penguasa: para Naga
(10) Magha setara dengan 26° Leo – 9°20′ Virgo. Dewa penguasa: Pitri.
(11) Purva Phalguni setara dengan 9°20′ – 22°40′ Virgo. Dewa penguasa: Shiva Mahadewa.
(12) Uttara Phalguni setara dengan 22°40′ Virgo – 6° Libra. Dewa penguasa: Aryaman.
(13) Hasta setara dengan 6° – 19°20′ Libra. Dewa penguasa: Aditya.
(14) Chitra setara dengan 19°20′ Libra – 2°40′ Scorpio. Dewa penguasa: Twasthri
(15) Swati setara dengan 2°40′ – 16° Scorpio. Dewa penguasa: Vayu
(16) Visakha setara dengan 16° – 29°20′ Scorpio. Dewa penguasa: Indra atau Sakra
(17) Anuradha setara dengan 29°20′ Scorpio – 12°40′ Sagittarius. Dewa penguasa: Mitra
(18) Jyeshtha setara dengan 12°40′ – 26° Sagittarius. Dewa penguasa: Indra atau Sakra
(19) Mula setara dengan 26° Sagittarius – 9°20′ Capricorn. Dewa penguasa: Nirrti.
(20) Purva Asadha setara dengan 9°20′ – 22°40′ Capricorn. Dewa penguasa: Varuna atau Visvadeva
(21) Uttara Asadha setara dengan 22°40′ Capricorn – 6° Aquarius. Dewa penguasa: Ganadevata
(22) Shravana setara dengan 6° – 19°20′ Aquarius. Dewa penguasa: Vishnu
(23) Dhanishta setara dengan 9°20′ Aquarius – 2°40′ Pisces. Dewa penguasa: Delapan Vasu atau Ajapada
(24) Shatabhisha setara dengan 2°40′ – 16° Pisces. Dewa penguasa: Varuna
(25) Purva Bhadrapada setara dengan 16° – 29°20′ Pisces. Dewa penguasa: Rudra
(26) Uttara Bhadrapada setara dengan 29°20′ Pisces – 12°40′ Aries. Dewa penguasa: Rudra
(27) Revati setara dengan 12°40′ – 26° Aries. Dewa penguasa: Pushan.
.
Saat bulan berada di Rohini merupakan saat yang tetap dalam membangun rumah atau sesuatu yang sifatnya tetap dan tidak bergerak; termasuk mengumumkan ketetapan atau penghargaan. Selanjutnya disebutkan pula nama dewa penguasa naksatra terkait.
.
Yoga merupakan salah satu anasir penanggalan India yang terdiri dari 27. Cara menghitungnya adalah dengan menjumlahkan masing-masing sudut longitudinal Matahari dan Rembulan dengan titik 0 derajat Aries (Mesha). Hasilnya lalu dijumlahnya. Jikalau lebih besar dari 360 derajat, maka hasilnya dikurangi dengan 360 derajat. Selanjutnya hasil tersebut dibagi dengan 27. Daftar keduapuluh tujuh yoga adalah:
.

1.Viṣkambha
2.Prīti
3.Āyuśmān
4.Saubhāgya
5.Śobhana
6.Atigaṇḍa
7.Sukarma

8. Dhrti
9. Śūla
10. Gaṇḍa
11. Vṛddhi
12. Dhruva
13.Vyāghatā
14.Harṣaṇa
15.Varja
16. Siddhi
17.Vyatipāta
18.Variyas
19.Parigha
20. Śiva
21.Siddha
22.Sādhya
23.Śubha
24.Śukla
25.Brahma.
26.Māhendra.
27.Vaidhṛti
.
Yoga yang kurang baik adalah Vyaghat, Parigha, Vajra,Vyathipatha, Dhriti, Ganda, Athiganda, Shula, Vishakabha.
.
Kebetulan pada prasasti Kudadu, yoganya adalah Siddhi (yoga keenam belas).
.
Muhurta adalah satuan waktu yang masing-masing berlangsung selama 48 menit. Secara keseluruhan terdapat 30 muhurta.
.
Karana adalah satuan waktu yang diperlukan Matahari dan Rembulan agar maju sejauh 6 derajat satu sama lain, dimulai dari pertemuan atau Conjunction antara keduanya. Conjunction ini terjadi saat bulan baru. Karana ini juga dapat disamakan dengan setengah Tithi. Jadi, satu Tithi terbagi menjadi 2 Karana. Terdapat 11 Karana. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut.
.
Bulan baru selalu bertepatan dengan Karana Kiṃstughna.
Selanjutnya diikuti oleh tujuh Karana sebagai berikut yang akan diulangi tujuh kali.
.
1.Vava.
2.Valava.
3. Kaulava.
4.Taitila.
5.Gara
6.Vanija
7.Visti.
.
Dengan demikian, akan terdapat rangkaian 56 Karana.
Sisanya terdapat 3 Karana lagi yang tidak berulang, yakni:
.
1.Sakuni
2.Catuspada
3.Naga.
.
Agar jelasnya perhatikan perhitungan sebagai berikut.
Amavasya (Bulan Baru), terbagi menjadi dua Karana: Kiṃstughna. Lalu diikuti oleh Prathama atau Pratipada Shuklapaksha (Hari Pertama Paruh Bulan Terang), yang terbagi menjadi dua Karana, yakni: Vava dan Valava. Hari berikutnya Dwitiya Shuklapaksha (Hari Kedua Paruh Bulan Terang), terbagi menjadi Kaulava dan Taitila. Selanjutnya, Tritiya Shuklapaksha (Hari Ketiga Paruh Bulan Terang), terbagi menjadi Gara dan Vanija. Hari berikutnya, Charturthi Shuklapaksha, terbagi menjadi Visti dan Vava. Perhatikan bahwa Vava telah berulang kembali di sini. Hari selanjutnya akan terbagi menjadi Valava dan Kaulava. Demikian hingga Trayodasi Krishnapaksha (Hari Ketigabelas Paruh Bulan Gelap), yang terdiri dari Visti (pengulangan terakhir kelompok tujuh di atas) serta Sakuni, dan terakhir, Chaturdashi Krishnapaksha (Hari Keempatbelas Paruh Bulan Gelap) yang akan terbagi menjadi Catuspada dan Naga. Jadi, rangkaian keseluruhan Karana adalah 60, yang terdiri dari empat Karana tidak berulang dan tujuh Karana diulang tujuh kali.
.
Acuan kepada dua belas tanda zodiak, dapat kita jumpai pada prasasti Singhasari yang berangka tahun 1351:
.
/ 0 / ‘i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; ‘irika diwaśani kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha /’ ; /’ swasti śri śaka warṣatita ; 1273 ; weśaka māsa tithi pratipāda çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niritistha grahacara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwweśa ; kistughna kâran.a wrs.abharaçi (sumber: wikipedia).
.
Kita telah mengenal anasir-anasir penanggalan di atas. Sebagai latihan, Anda boleh mencoba mengidentifikasinya.
Masa (bulan): Wesaka atau Vaisakha (bulan kedua menurut penanggalan India.
Tithi (tanggal): Pratipada Shuklapaksha.
Karana: Kistughna atau Kiṃstughna. Ingat bahwa Pratipada Shuklapaksha, Karananya, pasti adalah Kimstughna.
Ha, Po, dan Bu merupakan singkatan Aryang atau Haryang (Sadwara atau paringkelan), Pon (Pancawara), dan Budha (Saptawara).
Wuku: Tolu.
Grahacara: Niritistha atau Nairryastha.
Naksatra: Mrigashira
Yoga: Sobhana.
.
Dengan demikian, Anda sudah berhasil mengidentifikasi anasir-anasir penanggalan pada sebuah prasasti. Kini yang belum kita bahas adalah mengenai Rasi atau dua belas tanda Zodiak, dimana prasasti Singhasari di atas ditulis pada Rasi “Wrsabha.” Penggemar Astrologi tentulah sudah sangat akrab dengan hal ini. Kedua belas Rasi adalah sebagai berikut:
.
1. Mesa atau sama dengan Aries.
2.Vrsabha atau sama dengan Taurus.
3.Mithuna atau sama dengan Gemini.
4.Karka atau sama dengan Cancer.
5.Simha atau sama dengan Leo.
6.Kanya atau sama dengan Virgo.
7.Tula atau sama dengan Libra.
8.Vrscika atau sama dengan Scorpio.
9.Dhanusa atau sama dengan Sagittarius.
10.Makara sama dengan Capricornus.
11.Kumbha atau sama dengan Aquarius.
12.Mina atau sama denga Pisces.
.
Rasi ini menyatakan letak Bulan saat prasasti ditetapkan. Dengan demikian, Bulan berada di Rasi Vrsabha (Taurus) dalam hal prasasti ini.
.
Sampai di sini kita sudah mengenal aspek-aspek penting dalam penanggalan suatu prasasti selaku warisan sejarah berharga.
.
KESIMPULAN.
.
Para leluhur di zaman dahulu telah mengenal suatu sistim penanggalan yang rumit, dimana sistim tersebut banyak dipengaruhi oleh budaya India. Kendati demikian, terdapat pula anasir-anasir setempat, seperti Paringkelan (Sadwara), Pancawara, dan Pawukon. Sistim penanggalan India mengharuskan pengenalan terhadap gerakan benda langit, khususnya Matahari dan Rembulan. Oleh karenanya, para leluhur dahulu pasti telah mempunyai kemampuan dalam bidang astronomi yang handal, sehingga dapat membuat penanggalan. Namun sayangnya kemampuan astronomis ini telah dilupakan dan hilang ditelan masa.
.
Bukan mustahil bahwa pada zaman lampau telah ada sekolah atau lembaga pengajaran untuk mendidik para ahli ilmu perbintangan (astronomi), dimana hal itu tentunya memerlukan pengetahuan pula dalam bidang matematika. Kita boleh menyimpulkan bahwa ilmu matematika tentunya telah berkembang di Nusantara zaman Hindu-Buddha. Hanya saja pengetahuan ini tidak lagi meninggalkan jejaknya di masa sekarang. Kemungkinan karena dahulu sarana penulisannya adalah daun lontar, yang mudah sekali rusak; misalnya karena bencana alam, kebakaran, atau peperangan. Ilmu pengetahuan tentunya telah berkembang pesat di masa itu.
.
Astrologi tentunya juga telah berkembang pada masa itu, yang dipergunakan untuk memilih hari baik guna melaksanakan suatu keperluan. Kemungkinan pada zaman itu telah ada semacam Primbon, yang erat kaitannya dengan Astrologi India dan juga Nusantara. Primbon yang ada sekarang mungkin merupakan kelanjutan bagi primbon zaman itu. Menarik sekali bila kita dapat merekonstruksi ulang Primbon dan penanggalan di zaman tersebut, yang mungkin masih ditulis di atas daun lontar.
.
Pengetahuan mengenai Astrologi zaman tersebut mungkin dapat dipergunakan menentukan penanggalan sebuah prasasti yang tidak terbaca lagi anasir penanggalannya, asalkan kita mengetahui tujuan prasasti itu dikeluarkan. Sebagai contoh, prasasti terkait pendirian suatu rumah ibadah. Kita dapat mencari saat-saat yang baik menurut pengetahuan Astrologi zaman itu, khususnya terkait hari baik mendirikan bangunan. Dalam hal ini, pengetahuan Astrologi India tentunya sangat membantu.
.
Sebagai penutup, marilah kita menggali kembali dan melestarikan ilmu pengetahuan adiluhung warisan leluhur.
.
DAFTAR PUSTAKA.
Kusuma,Sri Reshi Ananda. Prembon Bali Agung, CV. Kayumas Agung, Denpasar, 1998.
.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.
.
Satguru Sivaya Subramuniyaswami. Vedic Calendar, Himalayan Academy Kapaa, Hawaii, 1997.
.
Soedarsono; Astuti, Retno; & Sunjata, I.W. Pantja. Aksara dan Ramalan Nasib dalam Kebudayaan Jawa, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta, 1985.
.
Burgess, Rev. Ebenezer. Translation of Surya Siddhanta, University of Calcutta, 1935.
.
WEB
.
 
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/ .
.
 

PERHATIAN: Sebagai tambahan, saya tidak memberikan analisa atau konsultasi gratis. Saya sering menerima email atau message yang meminta analisa gratis. Ini adalah sesuatu yang sia-sia dan juga sangat mengganggu saya. Jika ingin berkonsultasi atau saya analisa, maka itu berbayar. Oleh karenanya, jika Anda ingin analisa atau konsultasi gratis maka mohon agar tidak menghubungi saya. Demikian harap maklum. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s